Stephen Grenville: Sasaran Inflasi Jangan Diubah-ubah
Senin, 21 Mei 2012 14:06 WIB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua dari kiri) saat menghadiri pembukaan Rakornas Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tahun 2012 di Jakarta, Rabu (16/5). (ANTARA)
Jakarta - Mantan pejabat Bank Sentral Australia atau The Reserve Bank of Australia (RBA) Stephen Grenville memperingatkan otoritas moneter Indonesia agar penetapan sasaran inflasi dijalankan secara konsisten dan bertanggungjawab karena pengelolaan kebijakan moneter membutuhkan kepercayaan dari masyarakat.
"Sasaran inflasi yang telah ditetapkan tidak boleh diubah-ubah dan harus konsisten serta bertanggungjawab untuk mencapainya. ITF (Inflation Targeting Framework) membutuhkan kredibilitas, sebab jika publik sudah percaya pada Bank Indonesia, maka itu akan membantu BI menurunkan inflasi," katanya.
Menurutnya, BI harus menetapkan sasaran inflasi untuk jangka menengah panjang tiga sampai lima tahun ke depan seperti menetapkan angka inflasi 4,5 persen hingga 2014 dan kemudian semakin rendah menuju 4 persen mulai 2014 - 2019.
"Konsisten dengan sasaran inflasi ini juga penting untuk memastikan tren penurunan inflasi jangka panjang bisa tercapai," katanya.
Stephen Grenville bersama David Longworth, mantan Deputi Gubernur Bank Sentral Kanada (Bank of Canada) diundang BI untuk memberikan evaluasi mengenai kebijakan moneter yang dilakukan BI terutama mengenai penerapan ITF yang sudah berjalan sejak Juli 2005.
Stephen melihat pelaksanaan ITF di Indonesia sudah berjalan cukup baik karena berhasil mengarahkan inflasi pada tren yang menurun sejak 2005 meski ada dua goncangan harga yang menekan inflasi pada tahun 2005 dan 2008 yang lebih disebabkan karena kebijakan pemerintah (administered prices).
Untuk terus menurunkan laju inflasi, Stephen juga menyarankan agar stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi bagian dalam target pencapaian inflasi dan bukan menjadi sasaran utama sehingga tidak membingungkan publik dalam membaca kebijakan yang dilakukan BI.
Hal lain yang penting dilakukan BI adalah mengkomunikasikan sasaran inflasi dan kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapainya sehingga masyarakat menjadi bagian dari upaya penurunan inflasi tersebut.
"Komunikasi ke masyarakat melalui media massa menjadi penting untuk menjaga inflasi. Jadi setiap terjadi tekanan inflasi, BI harus menyampaikan ke masyarakat akan menjalankan kebijakannya untuk kembali menurunkan inflasi," katanya.
Dikatakannya, dalam kasus ada kenaikan harga BBM, tidak ada yang bisa dilakukan BI selain menyampaikan ke masyarakat bahwa tekanan inflasi yang muncul hanyalah sementara dan BI akan mengambil langkah-langkah untuk kembali menurunkan inflasi.
Menkeu Agus DW Martowardojo sebelumnya menyampaikan sasaran inflasi 2013 dan 2014 sebesar 3,5 - 5,5 persen dan inflasi 2015 sebesar 3 - 5 persen, yang diputuskan setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. (Ant)
"Sasaran inflasi yang telah ditetapkan tidak boleh diubah-ubah dan harus konsisten serta bertanggungjawab untuk mencapainya. ITF (Inflation Targeting Framework) membutuhkan kredibilitas, sebab jika publik sudah percaya pada Bank Indonesia, maka itu akan membantu BI menurunkan inflasi," katanya.
Menurutnya, BI harus menetapkan sasaran inflasi untuk jangka menengah panjang tiga sampai lima tahun ke depan seperti menetapkan angka inflasi 4,5 persen hingga 2014 dan kemudian semakin rendah menuju 4 persen mulai 2014 - 2019.
"Konsisten dengan sasaran inflasi ini juga penting untuk memastikan tren penurunan inflasi jangka panjang bisa tercapai," katanya.
Stephen Grenville bersama David Longworth, mantan Deputi Gubernur Bank Sentral Kanada (Bank of Canada) diundang BI untuk memberikan evaluasi mengenai kebijakan moneter yang dilakukan BI terutama mengenai penerapan ITF yang sudah berjalan sejak Juli 2005.
Stephen melihat pelaksanaan ITF di Indonesia sudah berjalan cukup baik karena berhasil mengarahkan inflasi pada tren yang menurun sejak 2005 meski ada dua goncangan harga yang menekan inflasi pada tahun 2005 dan 2008 yang lebih disebabkan karena kebijakan pemerintah (administered prices).
Untuk terus menurunkan laju inflasi, Stephen juga menyarankan agar stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi bagian dalam target pencapaian inflasi dan bukan menjadi sasaran utama sehingga tidak membingungkan publik dalam membaca kebijakan yang dilakukan BI.
Hal lain yang penting dilakukan BI adalah mengkomunikasikan sasaran inflasi dan kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapainya sehingga masyarakat menjadi bagian dari upaya penurunan inflasi tersebut.
"Komunikasi ke masyarakat melalui media massa menjadi penting untuk menjaga inflasi. Jadi setiap terjadi tekanan inflasi, BI harus menyampaikan ke masyarakat akan menjalankan kebijakannya untuk kembali menurunkan inflasi," katanya.
Dikatakannya, dalam kasus ada kenaikan harga BBM, tidak ada yang bisa dilakukan BI selain menyampaikan ke masyarakat bahwa tekanan inflasi yang muncul hanyalah sementara dan BI akan mengambil langkah-langkah untuk kembali menurunkan inflasi.
Menkeu Agus DW Martowardojo sebelumnya menyampaikan sasaran inflasi 2013 dan 2014 sebesar 3,5 - 5,5 persen dan inflasi 2015 sebesar 3 - 5 persen, yang diputuskan setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. (Ant)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bank Indonesia Sulteng libatkan Sekretariat Wapres tingkatkan kapasitas protokoler
12 November 2025 11:18 WIB
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020