Logo Header Antaranews Sulteng

Fatayat dan Pemkab Sigi Bekerja Sama Membangun Rekonsiliasi

Selasa, 8 Mei 2012 17:33 WIB
Image Print
Sepeda motor rusak akibat bentrokan di Sigi (ANTARA/Zainuddin MN)
"Kami baru saja melakukan pertemuan di kantor Bupati Sigi untuk membahas rencana istighasah (berdoa memohon keselamatan secara massal) untuk mengharapkan rekonsiliasi dan perdamaian," kata Ketua PW Fatayat NU Sulawesi Tengah, Zulfiah Mansur.

Palu, (ANTARA Sulteng) - Organisasi badan otonom di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yakni Fatayat NU Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi membangun rekonsiliasi melalui pintu agama dan kearifan lokal pascakonflik antardesa di Sigi.

"Kami baru saja melakukan pertemuan di kantor Bupati Sigi untuk membahas rencana istighasah (berdoa memohon keselamatan secara massal) untuk mengharapkan rekonsiliasi dan perdamaian," kata Ketua PW Fatayat NU Sulawesi Tengah, Zulfiah Mansur, di Palu, Selasa.

Zulfiah mengatakan, istighasah yang juga dilaksanakan untuk memperingati Hari Lahir ke-62 Fatayat NU itu akan diadakan pada 20 Mei 2012 di Taman Purbakala Vatunonjo, Kecamatan Sigi.

"Istighasah untuk perdamaian dan rekonsiliasi itu juga merupakan tindak lanjut dari diskusi terbatas tentang penanganan konflik di Kabupaten Sigi pada 25 April 2012," katanya.

Zulfiah mengatakan, pemerintah daerah menyambut baik berbagai upaya rekonsiliasi di daerah itu.

Menurut dia, target istighasah tersebut untuk mewujudkan perdamaian yang hakiki, khususnya di tiga desa yakni Desa Bora, Oloboju dan Desa Vatunonju yang terlibat konflik di Kecamatan Sigi.

"Di sana nanti akan ada pembacaan doa syukur untuk perdamaian. Kita juga berharap ada ikrar perdamaian dari masyarakat," kata Zulfiah.

Sebagai organisasi sosial dan kemasyarakatan, katanya, Fatayat memiliki tanggung jawab moral untuk membantu terciptanya suasana damai di negeri ini.

Menurut Zulfiah, agama sebagai petunjuk jalan kebenaran harus tampil sebagai perekat dan resolusi atas konflik yang kerap terjadi di daerah ini.

Melalui pintu agama dan kearifan lokal diharapkan konflik di berbagai daerah segera berakhir karena tidak ada manfaat dari konflik tersebut.

"Kerukunan dalam masyarakat dan umat beragama menjadi pilar bagi kerukunan nasional. Konflik sosial, ekonomi, politik sangat rentan ditunggangi dan bergeser menjadi konflik antarumat beragama maupun antar warga," katanya.

Nilai kearifan lokal, katanya, dapat menjadi perekat bagi terwujudnya kerukunan dalam masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, zikir perdamaian akan mengungkapkan nilai-nilai kearifan lokal di dalam menjaga kerukunan masyarakat atau antarwarga di Kabupaten Sigi. (T.A055)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026