Ratusan Tanaman Kakao Dan Kopi Sigi Mati
Jumat, 23 Oktober 2015 10:30 WIB
Petani menunjukkan buah kakao yang rusak (ANTARA/Siswowidodo)
Palu, (antarasulteng.com) - Ratusan tanaman kakao dan kopi yang telah produksi di Kabupaten Sigi mati karena dampak dari kemarau panjang yang melanda sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk di daerah itu.
Fandi (57), seorang petani Dusun Tokelemo Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Kamis membenarkan banyaknya pohon kakao dan kopi di wilayah itu yang mati.
Padahal, kata dia, tanaman kakao dan kopi yang mati tersebut sudah berbuah dan selama ini menjadi sumber utama kehidupan petani.
Begitu pula dengan tanaman lainnya seperti cabai dan jagung. "Jagung yang saya taman dalam areal seluas satu hektare tidak ada harapan untuk panen," katanya.
Kebanyakan sudah mati dan lainnya berbuah tetapi ada yang kempes dan tongkol jagung kecil-kecil.
"Kemarau kali cukup meresahkan petani karena banyak sekali tanaman pertanian dan perkebunan yang mati," keluh Fandi.
Hal senada juga disampaikan Frangki (46), petani di Desa Kora, Kecamatan Palolo. Ia mengatakan kemarau banyak mengakibatkan pohon kakao, kopi dan jagung mati.
Petani di desa itu kini mulai khawatir jika kemarau terus berlangsung lama, semakin banyak tanaman yang mati.
Otomatis kerugian petani akan semakin tambah besar, kata dia.
Kecamatan Palolo selama ini selain merupakan salah satu sentra produksi beras di Kabupaten Sigi. Juga penghasil kopi dan kakao.
Hasil produksi petani kebanyakan dijual di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Fandi (57), seorang petani Dusun Tokelemo Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Kamis membenarkan banyaknya pohon kakao dan kopi di wilayah itu yang mati.
Padahal, kata dia, tanaman kakao dan kopi yang mati tersebut sudah berbuah dan selama ini menjadi sumber utama kehidupan petani.
Begitu pula dengan tanaman lainnya seperti cabai dan jagung. "Jagung yang saya taman dalam areal seluas satu hektare tidak ada harapan untuk panen," katanya.
Kebanyakan sudah mati dan lainnya berbuah tetapi ada yang kempes dan tongkol jagung kecil-kecil.
"Kemarau kali cukup meresahkan petani karena banyak sekali tanaman pertanian dan perkebunan yang mati," keluh Fandi.
Hal senada juga disampaikan Frangki (46), petani di Desa Kora, Kecamatan Palolo. Ia mengatakan kemarau banyak mengakibatkan pohon kakao, kopi dan jagung mati.
Petani di desa itu kini mulai khawatir jika kemarau terus berlangsung lama, semakin banyak tanaman yang mati.
Otomatis kerugian petani akan semakin tambah besar, kata dia.
Kecamatan Palolo selama ini selain merupakan salah satu sentra produksi beras di Kabupaten Sigi. Juga penghasil kopi dan kakao.
Hasil produksi petani kebanyakan dijual di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Pewarta : Anas Masa
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020