Logo Header Antaranews Sulteng

PFI Palu buka ruang diskusi jurnalisktik kebencanaan dan etika liputan

Selasa, 16 September 2025 16:28 WIB
Image Print
Jefrianto (Kanan) dari Komunitas Historia Sulteng Dua narasumber PFI Palu dan Kurator PFI Palu Basri Marzuki (kiri) saat menjadi pemateri diskusi di kegiatan pameran foto jurnalistik karya 25 pewarta foto berasal dari dalam dan luar Negeri (Malaysia) bertajuk 'Asa di Atas Patahan' di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/9/2025). ANTARA/HO-PFI Palu

Kota Palu (ANTARA) - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu membuka ruang diskusi jurnalistik kebencanaan dan etika liputan bagi mahasiswa, komunitas fotografi, lembaga pers mahasiswa dan sejumlah organisasi pers di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Perwakilan dari Komunitas Historia Sulteng Jefrianto mengatakan pentingnya belajar dari sejarah kebencanaan, khususnya di wilayah-wilayah rawan seperti di Kota Palu.

"Jadi hidup di atas patahan harus membuat kita paham benar di mana kita tinggal. Kalau kita tidak belajar dari sejarah, maka nasib kita bisa sama dengan para korban bencana gempa bumi dan tsunami 2018," kata Jefri saat membawakan materi bagi mahasiswa di Kota Palu, Selasa.

Ia mengemukakan langkah yang dilakukan PFI Palu dengan menghadirkan pameran foto untuk mengenang bencana sudah tepat sebagai pengingat bahwa di Kota Palu pernah terjadi bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi.

"Karya foto yang ditampilkan ini bukan bermaksud menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat agar masyarakat selalu waspada, siap menghadapi bencana, dan tidak lagi gagap dengan bencana," ucapnya.

Senada dengan itu, Kurator PFI Palu Basri Marzuki menjelaskan terkait etika dan teknik meliput saat bencana.

Menurut dia, liputan kebencanaan bukan sekadar penyajian informasi, melainkan harus memberi dampak besar bagi korban maupun masyarakat.

"Liputan bencana itu akan bermakna ketika mampu menghadirkan empati sekaligus mendorong perhatian publik terhadap nasib para korban-korbannya," sebut Basri.

Basri yang merupakan Pewarta Foto Senior Kantor Berita ANTARA itu pun menyoroti adanya pewarta yang masih kerap mengeksploitasi kesedihan secara terus menerus, termasuk menampilkan gambar-gambar yang padahal tanpa persetujuan objek di ruang terbatas bahkan terlarang.

Ia pun berpesan agar dalam menghasilkan karya foto jurnalistik untuk tidak pernah sesekali menghilangkan martabat pada setiap subjek foto.

"Jadi ada hal-hal lain yang tidak kalah menarik yang publik harus tahu tentang sisi lain dari bencana itu sendiri dan pantas untuk direkam sebagai sebuah karya jurnalistik," katanya.



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026