Harga Komoditas Perkebunan Masih Bertahan
Senin, 6 November 2017 12:15 WIB
Petani menjemur kakao (antaranews)
Palu, (antarasulteng.com) - Harga berbagai jenis komoditas perkebunan di Palu, Sulawesi Tengah hingga pekan ini masih bertahan sama seperti pekan sebelumnya.
Pantauan di sejumlah pedagang pengumpul hasil bumi di Palu, Minggu hingga Senin, harga kakao bertahan pada kisaran Rp26.000/kg, cengkih Rp105.000/kg dan kopra Rp11.500/kg.
Sementara harga kopi biji robusta di tingkat petani saat ini Rp27.000/kg.
Para pedagang mengatakan harga berbagai komoditas tersebut tergantung perkembangan harga di tingkat eksportir.
Seperti kakao, kata Rudi, seorang pengumpul, jika harga di tingkat ekspor naik, otomatis pedagang ikut menaikan dan sebaliknya.
Petani di Sulteng, kata dia, masih sangat menggantungkan kehidupan mereka dari hasil panen kakao, kopi dan cengkih.
Khusus cengkih terbesar di Kabupaten Tolitoli. Menyusul Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Donggala.
Sementara untuk komoditi kakao dan kopi terbanyak di Kabupaten Donggala dan Sigi.
Pasar utama untuk komoditi kakao, kopi dan cengkih Kota Palu. Rata-rata petani selama ini menjual hasil produksi mereka ke Palu, Ibu Kota Provinsi.
Sulteng selama ini merupakan produsen kakao terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Produksi kakao petani Sulteng mencapai 250 ribu ton per tahun.
Sejak 1994, Sulteng telah mengirim langsung kakao ke sejumlah negara tujuan seperti Malaysia, Singapura, Amerika dan Eropa.
Hingga kini, Sulteng tetap melalukan ekspor biji kakao ke berbagai negara konsumen.
Namun demikian, kakao bukan lagi merupakan komoditas ekspor nonmigas yang menyumbangkan devisa terbesar. Penyumbang devisa terbesar ekspor nonmigas Sulteng dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini adalah biji nikel. (skd)
Pantauan di sejumlah pedagang pengumpul hasil bumi di Palu, Minggu hingga Senin, harga kakao bertahan pada kisaran Rp26.000/kg, cengkih Rp105.000/kg dan kopra Rp11.500/kg.
Sementara harga kopi biji robusta di tingkat petani saat ini Rp27.000/kg.
Para pedagang mengatakan harga berbagai komoditas tersebut tergantung perkembangan harga di tingkat eksportir.
Seperti kakao, kata Rudi, seorang pengumpul, jika harga di tingkat ekspor naik, otomatis pedagang ikut menaikan dan sebaliknya.
Petani di Sulteng, kata dia, masih sangat menggantungkan kehidupan mereka dari hasil panen kakao, kopi dan cengkih.
Khusus cengkih terbesar di Kabupaten Tolitoli. Menyusul Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Donggala.
Sementara untuk komoditi kakao dan kopi terbanyak di Kabupaten Donggala dan Sigi.
Pasar utama untuk komoditi kakao, kopi dan cengkih Kota Palu. Rata-rata petani selama ini menjual hasil produksi mereka ke Palu, Ibu Kota Provinsi.
Sulteng selama ini merupakan produsen kakao terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Produksi kakao petani Sulteng mencapai 250 ribu ton per tahun.
Sejak 1994, Sulteng telah mengirim langsung kakao ke sejumlah negara tujuan seperti Malaysia, Singapura, Amerika dan Eropa.
Hingga kini, Sulteng tetap melalukan ekspor biji kakao ke berbagai negara konsumen.
Namun demikian, kakao bukan lagi merupakan komoditas ekspor nonmigas yang menyumbangkan devisa terbesar. Penyumbang devisa terbesar ekspor nonmigas Sulteng dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini adalah biji nikel. (skd)
Pewarta : Anas Masa
Editor : Adha Nadjemudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020