Sulteng bebas schistosomiasis pada 2021
Selasa, 9 April 2019 16:44 WIB
Gubernur Sulteng Longki Djanggola saat memberikan sambutan pada pembukaan sosialisasi dan advokasi pemberantasan penyakit schistosimiasis di Palu, Selasa (9/4) (Antaranews Sulteng/Humas Pemprov Sulteng)
Palu (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tengah Drs H Longki Djanggola, MSi mengatakan bahwa upaya elimimnasi penyakit demam keong (schistosimiasis) akan terus digencarkan untuk mencapai target nol persen angka kesakitan pada 2021.
"Saat saya mengakhiri masa jabatan gubernur, tahun itu pula prevalensi penyakit ini sudah nol persen," katanya pada pembukaan acara sosialisasi dan advokasi pengendalian schistosomiasis di Palu, Selasa.
Ia mengapresiasi upaya Dinas Kesehatan, Pemda Poso dan Pemda Sigi serta berbagai pihak yang terus aktif mengembangkan upaya-upaya eradikasi keong yang menjadi medium cacing schisto masuk ke dalam hati (liver) melalui peredaran darah itu.
Menurutnya, angka kesakitan penyakit demam keong pada manusia di Sulteng, khususnya Kabupaten Sigi dan Poso berhasil diturunkan sampai 0,36 persen pada 2018. Namun prevalensi pada binatang seperti tikus dan keong masih tinggi yakni tikus 25 persen dan keong 4,74 persen.
"Saya sudah janji pada ibu Menteri Kesehatan bahwa pada 2021, bersamaan dengan akhir kepemimpinan saya, masalah schistosomiasis ini sudah selesai," ujarnya.
Prevalensi yang kurang memuaskan ini mestinya bisa disiasati dengan jalan melibatkan masyarakat memutus mata rantai penularan dari kedua hewan itu.
Untuk tikus, gubernur mengusulkan supaya diadakan sayembara dimana setiap ekor tikus yang ditangkap warga diberi imbalan uang.
"Kita nilai tikus-tikus yang ditangkap," katanya.
Sementara untuk keong, gubernur sarankan supaya sumber-sumber air tergenang yang diduga menjadi sarang berkembang biaknya keong, dibuatkan saluran supaya airnya dapat dialirkan.
"Saya harap kita semua kosentrasi lagi untuk membasmi schistosomiasis pada binatang," pintanya.
Pemberantasan penyakit schistosimiasis merupakan salah satu prioritas pembangunan Sulteng di bawah kepemimpinan Gubernur Sulteng periode 2016 hingga 2021.
Baca juga: 14 titik sebaran fokus keong schisto di TNLL
Baca juga: Warga Lore Kota Poso minum massal obat schisto
Baca juga: Bupati Poso pelajari pemberantasan penyakit schisto di Tiongkok
Pejabat Perwakilan WHO (kanan), Direktur P2PTVZ Kemenkes Ikiri) Kadis Kesehatan Sulteng Renny Lamadjido (tengah pakai jilbab) saat berada di lokasi fokus keong di Napu, Selasa (3/4) (Antaranews Sulteng/Istimewa)
"Saat saya mengakhiri masa jabatan gubernur, tahun itu pula prevalensi penyakit ini sudah nol persen," katanya pada pembukaan acara sosialisasi dan advokasi pengendalian schistosomiasis di Palu, Selasa.
Ia mengapresiasi upaya Dinas Kesehatan, Pemda Poso dan Pemda Sigi serta berbagai pihak yang terus aktif mengembangkan upaya-upaya eradikasi keong yang menjadi medium cacing schisto masuk ke dalam hati (liver) melalui peredaran darah itu.
Menurutnya, angka kesakitan penyakit demam keong pada manusia di Sulteng, khususnya Kabupaten Sigi dan Poso berhasil diturunkan sampai 0,36 persen pada 2018. Namun prevalensi pada binatang seperti tikus dan keong masih tinggi yakni tikus 25 persen dan keong 4,74 persen.
"Saya sudah janji pada ibu Menteri Kesehatan bahwa pada 2021, bersamaan dengan akhir kepemimpinan saya, masalah schistosomiasis ini sudah selesai," ujarnya.
Prevalensi yang kurang memuaskan ini mestinya bisa disiasati dengan jalan melibatkan masyarakat memutus mata rantai penularan dari kedua hewan itu.
Untuk tikus, gubernur mengusulkan supaya diadakan sayembara dimana setiap ekor tikus yang ditangkap warga diberi imbalan uang.
"Kita nilai tikus-tikus yang ditangkap," katanya.
Sementara untuk keong, gubernur sarankan supaya sumber-sumber air tergenang yang diduga menjadi sarang berkembang biaknya keong, dibuatkan saluran supaya airnya dapat dialirkan.
"Saya harap kita semua kosentrasi lagi untuk membasmi schistosomiasis pada binatang," pintanya.
Pemberantasan penyakit schistosimiasis merupakan salah satu prioritas pembangunan Sulteng di bawah kepemimpinan Gubernur Sulteng periode 2016 hingga 2021.
Baca juga: 14 titik sebaran fokus keong schisto di TNLL
Baca juga: Warga Lore Kota Poso minum massal obat schisto
Baca juga: Bupati Poso pelajari pemberantasan penyakit schisto di Tiongkok
Pejabat Perwakilan WHO (kanan), Direktur P2PTVZ Kemenkes Ikiri) Kadis Kesehatan Sulteng Renny Lamadjido (tengah pakai jilbab) saat berada di lokasi fokus keong di Napu, Selasa (3/4) (Antaranews Sulteng/Istimewa)
Pewarta : Rolex Malaha
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinkes Provinsi Sulteng upayakan eliminasi penyakit Schistosomiasis
07 November 2024 22:46 WIB, 2024
Pemprov Sulteng terima sebanyak 4.000 tablet obat demam keong dari Kemenkes
03 February 2023 16:53 WIB, 2023
Poso bentuk kelompok 'Gemaberaksi' untuk berantas keong schistosomiasis
15 August 2018 13:56 WIB, 2018
Terpopuler - Sulteng
Lihat Juga
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020