Tabayun Idul Fitri ala Ulama Xinjiang (Bagian ke-1)

id puasa di Xinjiang, lebaran di Xinjiang,Idul Fitri di Xinjiang,Ramadhan di Xinjiang,isu Xinjiang,isu Uighur, HAM Xinjiang

Tabayun Idul Fitri ala Ulama Xinjiang (Bagian ke-1)

Presiden Asosiasi Islam Xinjiang dan Rektor Institut Agama Islam Xinjiang Abdur Raqib Tursuniyaz (membelakangi lensa) dan tamu undangan dari kalangan diplomat asing menyaksikan siaran langsung perayaan Idul Fitri yang dihadiri ribuan umat Islam etnis minoritas Uighur di depan Masjid Idkah, Kota Kashgar, Kamis (13/5/2021). ANTARA/M. Irfan Ilmie

Xinjiang Tower, Beijing (ANTARA) - Tidak seperti biasanya, Kementerian Luar Negeri China atau Waijiaobu mengirimkan surat undangan via WeChat disertai dengan catatan kaki "butuh jawaban segera".

Format pindaian dirasa tidak cukup, sampai-sampai dikirimkannya pesan singkat susulan melalui platform yang sama. Bedanya, SMS itu ditulis dalam aksara Mandarin.

Namun masih saja tidak cukup. Staf Waijiaobu menghubungi via telepon seluler beberapa saat kemudian.

"Ditunggu kehadirannya besok. Ini sangat penting," suara seorang perempuan dari seberang sana.

Ia terkesan harap-harap cemas karena sampai detik-detik menjelang tenggat waktu yang diberikan tak kunjung ada jawaban atas surat undangan Resepsi Idul Fitri yang dikirimkannya sejak Rabu (12/5) pagi itu.

Bukan apa. Jadwal liputan Hari Raya Idul Fitri yang disusun ANTARA Beijing sudah sangat padat dari pagi hingga sore.

Jauh hari sebelumnya ANTARA Beijing sudah memprediksi situasi Idul Fitri di China tahun ini bakal lebih semarak. Tentu saja memiliki nilai lebih dalam bingkai reportase yang disuguhkan kepada para audiens di Indoesia, baik dalam bentuk teks maupun audio visual.

Apalagi Kedutaan Besar RI di Beijing juga mengadakan shalat Idul Fitri di halaman Wisma Duta yang bakal melibatkan lebih dari 150 warga negara Indonesia tentu juga menarik untuk diberitakan.

Prediksi itu didasarkan pada beberapa peristiwa sebelumnya, di antaranya semaraknya berbagai kegiatan selama bulan suci Ramadhan di Beijing, khususnya saat ritual ifthar.

Hampir setiap menjelang azan Magrib, halaman Masjid Niujie dipadati orang-orang yang hendak membatalkan puasanya. Mereka juga khusyu mendengarkan tausiyah dari para imam.

Situasi itu berlanjut hingga shalat Tarawih. Sampai-sampai suara takbir yang menyelingi gerakan shalat Tarawih  terdengar hingga Jalan Raya Niujie.

Sesuatu yang mustahil terjadi di China di tengah otoritas setempat menggalakkan program Sinifikasi di berbagai sendi kehidupan dalam tiga atau empat tahun terakhir.

Masjid-masjid di China mengumumkan pelaksanaan shalat Idul Fitri terbuka untuk umum tanpa batasan namun tetap menerapkan standar baku protokol kesehatan. Pengumuman itu dikeluarkan sejak pertengahan Ramadhan. Tahun lalu saat pandemi COVID-19, masjid-masjid di China menggelar shalat Id secara terbatas untuk internal pengurus dan komunitas Muslim sekitar saja.

Namun pada Lebaran tahun ini, China terkesan ingin menunjukkan kepada dunia mengenai efektivitas kebijakan antipandemi yang diterapkannya selama ini sehingga masjid-masjid pun memberanikan dirii membuka pintunya lebar-lebar.

Tiga pintu utama Masjid Dongzhimen Beijing bahkan dibuka sekaligus hingga jamaah yang di dalam pun terlihat dari luar karena biasanya hanya satu pintu utama yang dibuka.

Semua itu merupakan fenomena yang tidak ditemukan dalam dua tahun terakhir di China. Kontras dengan situasi masyarakat di berbagai belahan dunia lainnya saat pergerakannya dibatasi sebagai dampak dari tsunami varian baru COVID-19 di India.

"Bolehlah besok sedikit terlambat. Yang penting Anda datang," lanjut perempuan itu dengan penuh harap sambil mengirimkan peta lokasi acara.
Presiden Asosiasi Islam Xinjiang dan Rektor Institut Agama Islam Xinjiang, Abdur Raqib Tursuniyaz, berpidato mengenai situasi kebebasan beribadah warga etnis minoritas Muslim Uighur yang dijamin oleh pemerintah dalam Resepsi Idul Fitri di Beijing, Kamis (13/5/2021). ANTARA/M. Irfan Ilmie


Imam Besar
Benar saja, acara yang seharusnya dimulai pada Kamis (13/5) pukul 10.30 itu mundur sedikit dari jadwal.

Jarum jam menunjukkan angka 10.45, acara yang digelar di Muqam Hall, Xinjiang Tower, Beijing, itu baru bisa dimulai.

Deputi Direktur Informasi Publik Partai Komunis China (CPC) Daerah Otonomi Xinjiang Xu Guixiang selama ini menjadi juru bicara terkait isu-isu Xinjiang bertindak selaku pemandu acara pada Kamis siang itu.

Tanpa banyak basa-basi. Pada siang itu Xu segera memberikan waktu dan tempat kepada Abdur Raqib Tursuniyaz yang pada saat itu mengenakan kopiah khas Uighur dan setelan jas-jubah warna putih gading.

Siapa pun misi diplomatik dan media asing yang pernah berkunjung ke Xinjiang tidak asing dengan nama itu.

Abdur Raqib adalah Presiden Asosiasi Islam Xinjiang (XIA) sekaligus Presiden Institut Agama Islam (XII) yang selalu menemui delegasi asing yang bertamu kepadanya.

Satu lagi, dia juga mewakili umat Islam Xinjiang dan etnis minoritas Muslim Uighur di Kongres Rakyat Nasional China (NPC).

Oleh karena posisinya yang sangat strategis itulah, maka lulusan Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, yang fasih bercakap Bahasa Arab itu juga merupakan imam besar dan panutan bagi umat Islam di Xinjiang.

Ia juga tidak asing dengan Indonesia. Bahkan dalam pidatonya, Raqib menyebut nama Indonesia sebagai salah satu negara yang pejabat pemerintahannya dan perwakilan umat Islamnya mengunjungi Xinjiang selama 2019.

Suaranya yang menggelegar dan berwibawa membuat para tamu undangan dari kalangan pejabat perwakilan pemerintahan asing dan sejumlah awak media global terkesima.

"Penduduk Xinjiang sangat menikmati kebebasan menjalankan ibadah yang diberikan oleh pemerintah. Tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat juga semakin lama semakin baik," ujarnya dalam pidatonya yang disampaikan dengan menggunakan bahasa Mandarin itu.

Lebih lanjut Raqib menegaskan pemerintah China sangat menghormati umat beragama di daerahnya dengan memberikan berbagai fasilitas beribadah kepada warganya.

"Masjid sangat penting bagi umat Islam. Fasilitas di dalamnya, termasuk standar keamanan dan peralatan kesehatan diberikan pemerintah di setiap masjid. Pemerintah juga memberikan areal permakaman khusus umat Islam," katanya.

Ia juga menuturkan bahwa ibadah puasa Ramadhan merupakan ritual keagamaan yang sifatnya sangat personal.

"Pemerintah tidak bisa memaksa atau melarang seseorang untuk berpuasa selama bulan Ramadhan. Itu urusan pribadi," tegasnya.

Selain fasilitas ibadah di masjid, Raqib menyebutkan perhatian lainnya dari pemerintah pusat kepada komunitas Muslim dan etnis minoritas Muslim Uighur.

"Ada 400 orang dari komunitas kami yang menduduki kursi legislatif di semua tingkatan, baik daerah maupun pusat," ujar ulama berlatar belakang etnis Uighur itu. (Bersambung)