Psikolog: Suami tak bisa lepas tangan pantau tumbuh kembang anak

id stunting,pola asuh keluarga,pengasuhan dalam keluarga,peran ayah,Suami tak bisa lepas tangan pantau anak,Suami pantau tu

Psikolog: Suami tak bisa lepas tangan pantau tumbuh kembang anak

Rembug tingkat Kelurahan, untuk memastikan integrasi pelaksanaan intervensi penurunan stunting bersama Pemerintah dan masyarakat.  (Antaranews Kaltim/HO/PKT)

Jakarta (ANTARA) - Psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwijojo menyatakan bahwa seorang suami tidak bisa melepas tanggung jawabnya dalam berperan serta memantau tumbuh kembang anak karena waktu pekerjaan yang padat.



“Anak membutuhkan peran kedua ortunya untuk tumbuh sehat fisik dan mental. Jika ayah tidak terlibat, ayah juga akan mengalami kerugian sebetulnya karena tidak dekat dengan anak nantinya,” kata Vera saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.



Menanggapi seringnya ibu disalahkan ketika anak terkena stunting, Vera menuturkan seorang suami atau ayah, mempunyai peran yang signifikan dalam melindungi anak dari terkena stunting. Terlebih masalah stunting bukan hanya tanggung jawab ibu saja.



Para ayah perlu memastikan gizi tercukupi bagi keluarganya. Di sisi lain, ayah perlu memberikan dukungan emosional pada ibu saat sebelum dan selama hamil serta terlibat berimbang dalam pemberian pola pengasuhan anak.



Vera menyoroti dalam budaya Indonesia, ayah memang dititik beratkan sebagai seorang pencari nafkah utama dalam mayoritas keluarga. Namun, seorang ayah tetap harus terlibat dalam pemantauan tumbuh kembang anak-anaknya.



Dalam hal ini, ayah dapat menyiasati waktu sibuknya dengan menyediakan sebuah waktu khusus sehingga pendampingan pada anak dapat maksimal dan berkualitas. Sediakan waktu untuk bermain bersama anak yang bisa membangun keeratan hubungan dengan anak.



Paling tidak, ayah bisa menunjukkan perhatian pada kesehatan anak dan ibu, serta membantu ibu mencari solusi bersama dari masalah yang dihadapi. Komunikasi yang terjalin dengan baik dalam menyepakati apa yang akan diterapkan atau diberikan pada anak, bisa menjaga kondisi kesehatan baik secara fisik atau mental anak terjaga stabil.



“Jalin komunikasi yang baik dengan ibu untuk membahas anak, jangan tidak bersikap tidak mau tahu urusan anak,” ucapnya.



Sementara terkait adanya kaitan stunting dengan budaya patriarki dalam keluarga Indonesia saat ini, ia menilai hal tersebut bisa menjadi salah satu faktor stunting pada anak. Oleh karenanya, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan penuh dari kedua orangtua, kerja sama dan kekompakan ortu untuk memberikan yang terbaik bagi anak.



Adapun saran bagi pemerintah, Vera mengingatkan jangan selalu berfokus pada program ibu dan anak saja. Terdapat beberapa komunitas ayah yang aktif di media sosial. Dalam hal ini, pemerintah bisa mengajak berkolaborasi guna memberikan edukasi tentang pola pengasuhan yang menjadi ciri khas para ayah.



Saran tersebut dirasa efisien untuk mudah ditiru oleh ayah yang mungkin, mempunyai kesulitan meluangkan waktu mengikuti pengarahan panjang yang memakan waktu.



“Anak adalah tanggung jawab kedua orang tua bukan hanya ibu. Ibu yang tidak mendapat dukungan dalam menjalani perannya cenderung akan mengalami kelelahan mental yang nantinya akan mengganggu fungsinya dalam mengenali dan memenuhi kebutuhan anak,” katanya.