Trans Sulawesi Sulteng-Sultra putus akibat longsor

id bpjn,sulteng-sultra,longsor,bungku

Badan jalan nasional Trans Sulawesi Sulteng-Sultra amblas di Desa Tangofa, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulteng, Senin (20/5) malam, (Antaranews Sulteng/Istimewa)

Palu (Antaranews Sulteng) - Jalur jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, putus akibat badan jalan amblas beberapa centimeter di daerah Bungku, Kabupaten Morowali.

"Badan jalan amblas sepanjang beberapa meter di Desa Tangofa, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulteng, sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan termasuk sepeda motor," kata Dedy Kurniawan, seorang warga Bahodopi, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, yang dihubungi melalui telepon genggamnya dari Palu, Senin.

Menurut dia, longsoran itu diperkirakan terjadi sejak Minggu (20/5) malam atau Senin dinihari yang diperkirakan sebagai dampak hujan deras yang mengguyur wilayah Morowali dan Morowali Utara dalam tiga hari terakhir.

Selain badan jalan yang amblas di Desa Tangofa, kata Dedy yang juga Kepala Humas PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), pengelola kawasan industri pertambangan nikel terbesar di Asia itu, di beberapa titik jalan nasional ini juga terdapat badan jalan yang retak-retak.

Akibat jalan amblas itu, kendaraan angkutan umum dan pribadi dari Bungku ke Kendari atau sebaliknya terpaksa harus memutar sejauh tiga kilometer mengikuti jalan khusus milik perusahaan pertambangan nikel.

"Selain cukup jauh memutar, jalur alternatif ini juga kurang nyaman karena jalan yang belum beraspal serta kurang aman karena cukup ramai dilintasi kendaraan berat pengangkut material nikel setiap jam," ujarnya.

 
Kondisi badan jalan nasional Trans Sulawesi Sulteng-Sultra umumnya kini sudah mulus, seperti tampak pada gambar di atas, lokasi Jembatan Padabaho, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulteng. (Antaranews Sulteng/Istimewa)


Sementara itu Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR yang membawahi jalan lintas Sultra-Sulteng, Akhmad Cahyadi yang dihubungi secara terpisah membenarkan kerusakan jalan Bungku-Kendari tersebut.

"Staf kami sedang memeriksa kondisi jalan yang dilaporkan putus tersebut. Memang terjadi longsoran di sana dan saya sudah minta Satuan Kerja III PJN XIV segera melakukan penanganan," ujarnya.

Terkait penanganan yang akan dilakukan, Cahyadi mengemukakan masih dipelajari apakah cukup ditimbun saja atau perlu dibuatkan gorong-gorong atau bahkan perlu memasang jembatan darurat (bailey).

"Secepatnya akan kami tangani agar gangguan arus lalulintas tidak terlalu lama, agar kelancaran arus mudik Lebaran 2018 bisa terjamin," katanya.

Sedangkan Pelaksana Harian Kepala Satker III PJN XIV Jimmy Adwang mengatakan bahwa pihaknya telah meminta bantuan kontraktor pelaksana proyek peningkatan jalan di wilayah Bungku untuk membantu melakukan penimbunan pada titik-titik yang perlu ditimbun.

"Kami juga sedang mengupayakan untuk meminjam alat berat milik PT.Hengjaya, kontraktor yang beraktivitas sekitar satu kilometer dari lokasi jalan yang amblas itu untuk menangani lokasi longsor agar segera ada jalur alternatif untuk dilintasi kendaraan tanpa memutar jauh ke jalan khusus milik perusahaan pertambangan," ujar Jimmy yang juga PPK 15 Satker III PJN XIV yang menangani ruas Tomata-Beteleme tersebut.

Ruas Bungku-Kendari ini merupakan urat nadi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Morowali, termasuk kebutuhan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di PT.IMIP, karena jalur ini lebih dekat dan jalannya lebih baik dibandingkan ke Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut Dedi Alamsyah, bila kelancaran arus lalulintas di jalur ini terlalu lama mengalami hambatan, dikhawatirkan akan mempengaruhi harga-harga bahan pokok dan bahan kebutuhan masyarakat lainnya, khususnya menjelang Lebaran 2018.

 
Kondisi badan jalan nasional Trans Sulawesi di titik perbatasan Sulteng-Sultra (Antaranews Sulteng/BPJN XIV)
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar