Palu (ANTARA) - Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) bersama Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen memulai Program Dukungan Psikososial bagi penyintas gempa bumi yang melanda Kabupaten Poso pada Agustus 2025.
"Tahap awal, HIMPSI melakukan asesmen dan pemetaan kondisi psikologis para guru pada 19–21 November sebelum pendampingan berlanjut kepada peserta didik," kata Ketua Umum HIMPSI, Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog, pada pembukaan program tersebut di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Tengah, Rabu.
Dia mengatakan program berlangsung 19–26 November dan menyasar siswa serta guru dari sekolah-sekolah terdampak.
“Dari asesmen awal, sekitar 300 siswa SD dan 100 siswa SMP menunjukkan tanda ketegangan dan ketakutan pascabencana. Temuan ini menjadi dasar perlunya intervensi berupa dukungan psikososial,” ujar Andik.
Dia menjelaskan, intervensi dilakukan mulai dari jenjang PAUD hingga SMP melalui kegiatan trauma healing yang bertujuan menstabilkan kondisi emosional peserta didik.
“Siswa mengalami kecemasan, dan jika tidak diberikan intervensi, mereka berisiko menghadapi gangguan psikologis lanjutan. Dengan pendampingan, mereka dapat lebih siap menghadapi situasi serupa di kemudian hari,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum KRESNA-HIMPSI, Anrilia Ningdyah, Ph.D., Psikolog, menuturkan asesmen dilakukan di 31 sekolah pada lebih dari 17 titik terdampak, termasuk sekolah yang berada paling dekat dengan pusat gempa.
"Banyak persoalan psikologis muncul pascabencana, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama," terangnya.
Lanjut, Dia mengemukakan, selain memberikan dukungan kepada siswa, HIMPSI turut memberikan pembekalan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memberikan pertolongan pertama psikologis (psychological first aid) saat terjadi situasi kedaruratan di sekolah.
"Para guru yang juga merupakan penyintas, diharapkan mampu mengenali gejala awal gangguan psikologis dan memberikan respons cepat kepada anak didik," jelasnya.
Direktur PKPLK Kemendikdasmen, Saryadi, menyampaikan, Kabupaten Poso merupakan wilayah rawan bencana berdasarkan data BNPB. Karena itu, penguatan ketahanan psikososial di lingkungan sekolah dinilai sangat penting untuk meminimalkan dampak psikologis pada masa mendatang.
"Melalui program ini, HIMPSI dan PKPLK berharap dapat membantu pemulihan penyintas, memperkuat kesiapsiagaan sekolah, serta memberdayakan sumber daya lokal dalam mendeteksi dan menangani dampak psikologis pascabencana," tutup Saryadi.
