F-NasDem Sigi : Rehab-rekon prioritaskan pemulihan ekonomi KWT

id ENDANG HERDIANTI,FRAKSI NASDEM,DPRD SIGI,NASDEM,PERTANIAN SIGI

F-NasDem Sigi : Rehab-rekon prioritaskan pemulihan ekonomi KWT

Ketua Fraksi NasDem Sigi, Sulawesi Tengah, Endang Herdianti (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Sigi, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Frakasi NasDem di DPRD Sigi, Sulawesi Tengah, menyatakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana harus memprioritaskan atau memulihkan sektor pertanian khususnya lahan garapan milik kelompok wanita tani (KWT), sebagai bentuk upaya percepatan pemulihan ekonomi perempuan.

"Kegiatan rehab dan rekon, bukan hanya sekedar membangun atau memperbaiki rumah-rumah warga, tetapi juga harus memprioritaskan sektor pertanian seperti lahan garapan kelompok wanita tani," ucap Ketua Fraksi NasDem DPRD Sigi, Endang Herdianti, di Sigi, Selasa.

Data Pemerintah Kabupaten Sigi melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan menyebutkan terdapat 5,737 hektare lahan pertanian di Sigi yang tidak dapat digarap oleh petani termasuk puluhan KWT pascabencana gempa dan likuefaksi.

Karena itu, Fraksi NasDem Sigi mengatakan pemulihan sektor pertanian Sigi menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Sebab, sebagian besar warga Sigi termasuk perempuan adalah petani.

Namun saat ini, akui dia, perempuan petani Sigi sulit menggarap lahan, dikarenakan lahan pertanian rusak, terbelah dan bergelombang terdampak gempa.

"Masyarakat termasuk kelompok wanita tani bergantung pada sektor pertanian. Karena itu, pemerintah dalam kegiatan rehab-rekon harus memperbaiki kembali lahan pertanian mereka, yaitu bagaimana agar lahan tidak bergelombang," ujarnya.

Endang juga menguraikan selain faktor kerusakan lahan, faktor tidak adanya air pascabencana juga membuat kelompok wanita tani Sigi sulit untuk bangkit. Karena itu, sebut dia, Pemkab Sigi jangan hanya menunggu perbaiki irigasi, baru diberdayakan kelompok wanita tani.

Melainkan, kata dia, harus ada langkah-langkah antisipasi minimal pembangunan sumur dangkal dan pemberian bantuan alkon kepada petani termasuk wanita tani agar mereka bisa segera menggarap lahan tanpa harus menunggu irigasi.

Ia mengakui bahwa Pemkab Sigi berencana membangun 40 titik sumur dangkal pascabencana, namun 40 titik tersebut belum terfokus pada lahan pertanian yang digarap oleh KWT.

"Ini juga harus menjadi catatan Pemkab Sigi, bahwa pembangunan sumur dangkal di sektor pertanian, harus memperhatikan kelompok wanita tani," sebutnya.

Terkait hal itu, kelompok wanita tani (KWT) Kabupaten Sigi di Kecamatan Dolo mengakui terkendala air untuk melakukan kegiatan bercocok tanam.

"Air jadi masalah utama. Susah sekali dapat air. Karena itu tidak semua lahan pertanian bisa digarap," kata Ketua Kelompok Wanita Tani Mekar Bersama Desa Langaleso, Lisma.

Kelompok Wanita Tani Mekar Bersama beranggotakan 22 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Lahan garapan mereka seluas 11 hektare di Desa Langaleso.

Lisma menyebut, pascabencana gempa disertai likuefaksi hanya lima hektare lahan dari 11 hektare yang bisa digarap.

Itu pun, hanya mengandalkan suplai dari sumur dangkal, serta menunggu hujan kemudian lahan bisa digarap.Selain itu, meminjam dan menyewa alkon dan peralatan lainnya milik kelompok tani lain.

"Iya, jadi agar lahan bisa digarap maka harus usaha. Usaha itu berupa minjam atau membeli alkon. Selain itu menunggu hujan," sebut dia.

Untuk mengolah dan memanfaatkan lahan 11 hektare, kata dia, tidak bisa hanya bergantung pada sumur dangkal. Karena sumur dangkal tidak banyak dibuat, hanya di beberapa titik.

Karena itu, sebut dia, yang paling dibutuhkan adalah air dan alkon. Sebab, masyarakat mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
 
Ketua Kelompok Wanita Tani Mekar Bersama Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Lisma. (ANTARA/Muhammad Hajiji)