Balige - Kain ulos Batak dinilai memiliki peran cukup penting dalam penyelenggaraan acara adat, sehingga fungsi selendang tenun khas Tapanuli menjadi perlambang ikatan kasih sayang masyarakat Batak, sampai sekarang ini belum dapat tergantikan.
"Kain tenun ikat yang memiliki rahasia keterampilan seni dengan berbagai keistimewaan dan keunikannya itu telah menjadi identitas yang tidak terpisahkan dari masyarakat Tapanuli, serta telah menyatu dalam budaya Batak," kata pemerhati budaya, Sahala Simanjuntak (54), di Balige, Sabtu.
Menurut dia, peranan selendang adat tersebut sangat jelas terlihat, terutama saat penyelenggaraan berbagai pesta maupun acara budaya, serta dalam kehidupan sehari-hari, karena sejak lahir hingga menghembuskan napas terakhir, ulos mempunyai unsur tertinggi dalam kehidupan etnis Batak.
Sebagai sebuah simbol, kata dia, fungsi dan kedudukan seseorang dalam pelaksanaan acara adat Batak Toba dapat diketahui melalui "Ulos" yang dipakai maupun diterimanya, serta yang diberikan berdasarkan ragam atau jenisnya.
Namun, lanjutnya, arti dan fungsi kain tenun khas Batak itu, sejak dulu hingga sekarang tidak mengalami perubahan, kecuali beberapa variasi yang disesuaikan dengan kodisi sosial budaya
"Sangat penting menempatkan Ulos pada posisi yang tepat, sebab jenis dan motifnya menggambarkan makna tersendiri serta fungsi simboliknya tidak dapat dipisahkan dalam aspek kehidupan suku Batak,' ucap dia.
Saat ini, kata Sahala, Ulos tidak hanya berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan, lambang komunikasi, dan lambang solidaritas.
Ditambahkannya, dalam perkembangannya, pemberian ulos diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang, di mana para Pejabat pemerintah sering diulosi, dengan harapan selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada warga yang dipimpinnya. (KR-JRD)
Fungsi Ulos Batak Belum Tergantikan
Plt. Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, menenun ulos di salah satu stand, pada pembukaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), di Medan, Maret 2012. (FOTO ANTARA/Irsan Mulyadi)
