Sigi bentuk komunitas siaga bencana di 80 desa

id Kabupaten Sigi ,Sulawesi Tengah ,Pemkab Sigi ,BPBD SIGI,Bencana alam

Sigi bentuk komunitas siaga bencana di 80 desa

Ilustrasi - Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi saat meninjau lokasi banjir di Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, Minggu (9/3/2025). ANTARA/HO-PEMKAB SIGI

Sigi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, Sulawesi Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sudah membentuk komunitas siaga bencana di 80 desa di daerah itu.

Kepala BPBD Kabupaten Sigi Henri Kusuma Rombe mengatakan pihaknya terus membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang kerap melanda di Kabupaten Sigi.

"Jadi memang kami melakukan pendekatan berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor guna memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana alam," kata Henri di Desa Bora, Kabupaten Sigi, Selasa.

Ia mengemukakan komunitas siaga dibentuk dengan melibatkan kearifan lokal, gotong royong, dan simulasi kebencanaan agar masyarakat tidak panik saat bencana terjadi dan mampu melakukan tindakan pengurangan risiko secara mandiri serta terorganisir.

"Memang Sigi ini sering terjadi banjir apalagi di wilayah sekitar daerah aliran sungai Palu sehingga diharapkan dengan adanya saat ini seperti Sabodam di Bangga dan Sambo bisa menurunkan risiko secara signifikan," ucapnya.

Ia menuturkan pemerintah daerah hingga saat ini masih terus mendorong agar tahap perencanaan pembangunan infrastruktur di beberapa wilayah yakni Sibalaya Barat dan Poi dapat segera selesai.

"Harapannya ada intervensi berkelanjutan dari pihak berwenang lainnya seperti Balai Wilayah Sungai Sulawesi III," sebutnya.

Menurut dia, setiap desa di Kabupaten Sigi harus memiliki sistem peringatan dini atau early warning system.

"Sudah ada beberapa desa bekerja sama dengan lembaga non-pemerintah mengembangkan sistem peringatan dini yang dilengkapi kamera pemantau yang terintegrasi dengan kontak lintas pemangku kepentingan di Sigi," katanya.

Cara kerja sistem peringatan dini itu yakni saat terjadi hujan cukup tinggi maka informasi tersebut masuk ke Pusdalops dan diteruskan ke BMKG serta masyarakat termasuk TNI dan Polri.

"Salah satu hal penting juga adalah ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan saat terjadi bencana sehingga masyarakat harus menyiapkan sistem penampungan yang lebih aman agar air tetap layak konsumsi, meski curah hujan tinggi menyebabkan aliran air menjadi keruh," ujarnya.

Pewarta :
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.