Band Kotak didaulat menjadi duta lingkungan

id band Kotak,duta lingkungan,tanam trembesi,Ngawi-Jatim,Djarum Trees For Life (DTFL)

Tiga personel grup band Kotak, yakni Tantri Syalindri Ichlasari (vokalis/kanan), Swasti "Chua" Sabdastantri (bass/tengah) dan Mario "Cella" Marcella (gitar/kiri), Rabu (14/8/2019) sore di Alun-Alun Kabupaten Ngawi (Jatim) menanam pohon trembesi. Mereka didaulat menjadi duta lingkungan. (FOTO ANTARA/HO-DTFL)

Kita harus menyadari bahwa manusia dan alam merupakan kesatuan yang tak bisa dipisahkan
Ngawi, Jatim (ANTARA) - Tiga personel grup band Kotak, yakni Tantri Syalindri Ichlasari (vokalis), Swasti "Chua" Sabdastantri (bass) dan Mario "Cella" Marcella (gitar) didaulat menjadi duta lingkungan.

Mereka diusung menjadi duta lingkungan pada program penanaman pohon trembesi yang digagas Djarum Trees For Life (DTFL) bersama Bakti Lingkungan Djarum Foundation, BUMN PT Jasamarga Ngawi-Kertosono-Kediri, Pemerintah Kabupaten Ngawi, dan Kodam V/Brawijaya.

Menurut Tantri, mereka bangga terlibat dalam program tersebut dan berharap kegiatan itu dapat memotivasi generasi milenial agar lebih mencintai dan merawat lingkungan sekitar.

"Kita harus menyadari bahwa manusia dan alam merupakan kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Jika kita merawat lingkungan, alam juga akan menjaga manusia. Jangan sampai bencana datang karena kita lalai menjaganya," katanya, yang pada Rabu sore, bersama anggota Kotak ikut menanam pohon trembesi di ruas jalan tol Ngawi-Kertosono, Jawa Timur.

Pemanasan global

Sementara itu, pada Rabu malam, Tantri hadir sebagai narasumber temu wicara, bersama Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nandang Prihadi, dan pembuat konten YouTube Andovi Da Lopez.

Temu wicara bertajuk "Lagi-lagi Global Warming" itu digelar dengan tujuan mengedukasi masyarakat, khususnya anak-anak muda agar lebih peduli dan melakukan aksi nyata menjaga alam sekitar.

Sebanyak 250 mahasiswa yang berasal dari 16 perguruan tinggi di wilayah Ngawi, Madiun (Jatim), dan Solo (Jateng) menjadi peserta dalam acara tersebut.

Nandang menyatakan pemanasan global harus menjadi perhatian serius generasi muda karena memiliki dampak negatif bagi keberlangsungan hidup manusia.

"Mengapa generasi muda harus mulai peduli terhadap pemanasan global, karena dampak negatifnya sudah mulai dirasakan," katanya.

Ia memberi contoh sederhana mengenai udara yang kian panas, naiknya permukaan laut, hingga perubahan iklim di berbagai belahan dunia. Kondisi itu, katanya, merupakan bibit dari bencana-bencana yang timbul seperti banjir, tanah longsor hingga munculnya berbagai jenis penyakit baru.

Yang diutarakan Nandang, selaras dengan apa yang dialami Tantri.

"Contohnya, sekarang kita tidak tahu lagi kapan musim kemarau dan musim hujan. Perubahan iklim memang benar-benar terjadi. Suhu udara juga semakin panas," kata Tantri.

"Jadi, sudah waktunya kita sadar lingkungan dan memperbaiki alam. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mencintai bumi ini," ujarnya.

Senada dengan Tantri, Andovi Da Lopez pun sepakat bahwa generasi muda harus ambil bagian dalam misi penyelamatan dan menjaga lingkungan.

Karena bagaimanapun, katanya, generasi muda yang akan menuai hasil dari upaya merawat bumi.

"Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Kalau kita merawat bumi dari sekarang, maka bumi akan merawat kita di masa yang akan datang," katanya.

Untuk itu, Andovi mengajak anak muda Indonesia sebagai garda terdepan dalam menggaungkan gerakan "sadar lingkungan".

Terlebih lagi, kata dia, generasi muda sangat akrab dengan dunia digital sehingga upaya perbaikan lingkungan bisa menggerakkan lebih banyak orang.

"Saya sendiri ingin membuat konten video YouTube yang positif dan menarik mengenai lingkungan. Semoga bisa menjadi contoh agar bumi kita dan generasi penerus bangsa terselamatkan," demikian Andovi.
 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar