Drama Perlawanan Rakyat Sulteng Disambut Keluarga Pejuang

id drama, kolosal

Drama Perlawanan Rakyat Sulteng Disambut Keluarga Pejuang

Ilustrasi (antaranews)

Walaupun masih ada yang kurang tetapi saya bangga. Ini harus dipertahankan untuk menumbuhkan semangat perjuangan melawan penjajah

Palu, (antarasulteng.com) - Drama kolosal Perlawanan Sigi terhadap penjajah Belanda, yang ditampilkan pada puncak peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Tengah mendapat apresiasi positif dari keturunan keluarga para pejuang tanah air di daerah itu.

"Walaupun masih ada yang kurang tetapi saya bangga. Ini harus dipertahankan untuk menumbuhkan semangat perjuangan melawan penjajah," kata salah seorang cucu dari Raja Karanjalembah Sofyan Farid Lembah setelah mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan RI ke 70 di Palu, Senin.

Karanjalembah atau dikenal Toi Dompo adalah salah satu raja Sigi yang gigih melawan Belanda pada zaman penjajahan hingga akhirnya dia diasingkan di Sukabumi setelah ditangkap Belanda dalam sebuah pertempuran di Sigi.

Cerita peran Karanjalembah tersebut ditampilkan dalam bentuk drama kolosal yang melibatkan 150 pemain dari mahasiswa, TNI dan seniman di Kota Palu.

Sofyan yang juga Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sulawesi Tengah itu mengatakan banyak cerita sejarah lokal yang tentang dedikasi masyarakat Sulawesi Tengah dulu dalam melawan penjajah.

Cerita yang mengandung nilai-nilai patriotisme tersebut, kata dia, perlu diangkat kembali dalam karya seni, tari drama dan musik.

"Supaya generasi kita tahu bahwa orang-orang tua kita dulu adalah pejuang kemerdekaan melawan penjajah yang sangat berani," katanya.

Sofyan mengatakan penghargaan atas pejuang tanah air tidak saja diapresiasi dalam seni tetapi pemerintah juga perlu melestarikan makam dan jejak-jejak sejarah para pejuang tersebut.

Budayawan dari Universitas Tadulako Hapri Ika Poigi mengatakan sejarah nasionalisme lokal dalam melawan penjajah perlu diapresiasi dan terus digelorakan secara terus menerus.

"Sejarah lokal itu penting diangkat kembali melalui pendekatan seni tari, drama dan musik untuk menumbuhkan semangat patriotik, kesadaran nasionalisme generasi kita. Medianya adalah seni," katanya.

Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah itu mengatakan pentas drama kolosal tentang perjuangan pahlawan lokal baru kali ini lagi ditampilkan pada peringatan Kemerdekaan RI.

"Dulu pernah ada drama seperti itu ditampilkan kira-kira 20 tahun lalu," katanya.

Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.