Kemenag Sulbar dan KPID garap film toleransi

id Film kerukunan

Kemenag Sulbar dan KPID garap film toleransi

Kementrian Agama (Kemenag) dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Sulbar menggarap film toleransi kerukunan umat beragama, (14/06/2021) ANTARA Foto/M Faisal Hanapi

Mamuju, Sulbar (ANTARA) - Kementrian Agama (Kemenag) dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Sulawesi Barat menggarap film toleransi kerukunan umat beragama.

Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Sulbar, Busrang Riandhy di Mamuju, Senin, mengatakan, kerjasama Kemenag Sulbar dan KPID Sulbar, dengan judul "Sibali Parriq" tersebut juga melibatkan pemerintah Desa Palolongan Kecamatan Tobadak Kabupaten Mamuju Tengah, dan Pemuda Lintas Agama.

Ia mengatakan, Siwali Parriq menjadi judul, karena dalam tradisi masyarakat Sulbar istilah tersebut menggambarkan kerukunan dalam keberagaman budaya, suku dan agama.

"Jika dimaknai dalam bahasa Indonesia maka maknanya adalah senasib dan sepenanggungan, dan saling peduli antar sesama tanpa memandang status sosial," katanya.

Kepala Sub Bagian dan Organisasi Tata Laksana dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kanwil Kemenag Sulbar, Muhammad Abidin, mengatakan, Desa Pololongan dijadikan ikon kerukunan umat beragama di Sulbar karena kekerabatan masyarakatnya sangat kuat meskipun majemuk.

"Moderasi beragama dan budaya terjalin di desa tersebut meskipun hidup dalam keberagaman agama, warganya yang ramah, dan suka tolong menolong dan saling bantu," ujarnya.

Oleh karena itu, pembuatan film dokumenter ini dilaksanakan yang juga untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragamanya agar terjalin dengan baik di Sulbar.

"Film ini dibuat untuk memelihara kebersamaan dalam kerukunan umat beragama ini dan tetap mematuhi protokol kesehatan," katanya.

Ia menyampaikan, dalam film ini digambarkan rumah ibadah yang masyarakatnya dan pemeluk agamanya hidup rukun, dan pemerahan dalam film ini adalah pemerintah desa tokoh agama, dan tokoh pemuda lintas agama.
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar