Mengulik perkeretaapian di Sulsel

id kereta api sulawesi selatan,kereta api

Mengulik perkeretaapian di Sulsel

Ilustrasi kereta api (KA) di Sulawesi Selatan. Saat ini tahap uji coba kereta dilakukan di Pelabuhan Garongkong, Kabupaten Barru hingga Desa Mangilu, Kabupaten Pangkep yang berjarak 60 kilometer sejak 29 Oktober 2022 hingga Desember 2022. (Dokumentasi Djoko Setijowarno. )

Jakarta (ANTARA) - Perkeretaapian di wilayah Sulawesi Selatan telah ada sejak era Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1922, kemudian berlanjut pada studi kelayakan hingga perencanaan dan groundbreaking jalur kereta api (KA) Makassar - Parepare di era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono tahun 2014.

Setelah itu, tahun 2015 dimulai pengerjaan konstruksi di masa Presiden Joko Widodo, sehingga dapat beroperasi tahun 2022, demikian catatan yang diungkapkan Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno.

Djoko mengisahkan, pada 1 Juli 1922, Pemerintah Hindia Belanda selesai membangun jalan rel antara Makassar (Stasiun Pasar Butung)–Takalar sejauh 47 km. Setahun berselang mereka membuka trem uap resmi untuk umum. Lintas ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir yang dibangun pemerintah Hindia Belanda.

Tetapi, pada tahun 1930 layanan kereta trem uap terpaksa ditutup karena subsidi dari Staatsspoor en Tramwegen atau jawatan kereta api dan trem negara di Jawa untuk Staatstramwegen op Celebes dihentikan akibat krisis ekonomi dunia, Depresi Besar pada 1929.

Pembangunan perkeretaapian lalu dimulai kembali di masa pemerintahan Presiden SBY. Djoko mencatat, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian kala itu melakukan groundbreaking proyek Kereta Api Trans Sulawesi di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada 12 Agustus 2014. Pemancangan tiang pertama Trans-Sulawesi untuk jalur Makassar-Parepare dilakukan pada saat yang sama di Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru.

Proyek ini merupakan jalan KA Trans Sulawesi tahap I (Makassar-Parepare) sepanjang 143 km yang merupakan bagian awal dari pengembangan perkeretaapian Trans Sulawesi dan ditargetkan sepanjang 2000 km dari Makassar ke Manado.

Pembangunan berikutnya secara masif dilanjutkan era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai konstruksi Rp9,04 triliun.

Pembangunan konstruksi dimulai pada pertengahan 2015 dan rel pertama dipasang pada 13 November 2015 di Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau.



Kereta api masa kini dan kelebihan

Djoko mencatat, saat ini tahap uji coba kereta dilakukan di Pelabuhan Garongkong, Kabupaten Barru hingga Desa Mangilu, Kabupaten Pangkep yang berjarak 60 kilometer. Tahap uji coba terbatas kereta ini gratis sejak 29 Oktober 2022 hingga Desember 2022 ini. Daya tampung kereta api tahap uji coba sebatas dua gerbong dan mampu mengangkut 100 orang penumpang.

Sekarang, telah terbangun 118 km (66 km operasi), dengan lebar rel 1.435 mm dan meliputi 14 stasiun (10 stasiun operasi), sistem persinyalan elektrik, satu depo dan kantor, satu gudang prasarana dan satu ruang operation control centre.

Adapun 14 stasiun yang dilalui yakni Stasiun Mandai, Stasiun Maros, Stasiun Rammang-Rammang, Stasiun Pakajene, Stasiun Mangilu, Stasiun Labakkang, Stasiun Ma’arang, Stasiun Mandalle, Stasiun Tebete Rilau, Stasiun Barru, Stasiun Garonggong, Stasiun Takallasi, Stasiun Mangkoso, dan Stasiun Palanro.

Jalur KA yang sudah terbangun melintasi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan Kabupaten. Barru.

Dengan lebar rel 1.435 milimeter, kecepatan maksimal kereta api Trans-Sulawesi mencapai 200 kilometer per jam. Sementara di Jawa, dengan lebar rel 1.067 milimeter, kecepatan tertinggi kereta api sekitar 120 kilometer per jam.

Menurut Djoko, rel Trans-Sulawesi mampu menahan beban gandar yang lebih berat. Pada rel di Jawa, jumlah beban yang bisa ditahan ialah 18 ton, sedangkan rel Trans-Sulawesi mampu menahan beban 25 ton. Dengan demikian, kereta api Trans-Sulawesi akan memiliki kapasitas angkut yang lebih besar.


Kemudian, kelebihan jalur KA di Sulawesi Selatan dirancang tidak memiliki pelintasan sebidang, sehingga perjalanan kereta tidak akan mengganggu lalu lintas jalan raya.

Selain itu, risiko kecelakaan tabrakan kereta api dengan kendaraan seperti mobil atau sepeda motor bisa dikatakan tidak ada.

Di sisi lain, curah hujan yang tinggi kerap menyebabkan permukaan jalan nasional poros Makassar – Parepare kerap banjir, sehingga menyebabkan distribusi logistik menjadi terhambat. Adanya jaringan KA Makassar- Parepare, dikatakan akan sangat membantu mobilitas logistik pada saat jalur jalan nasional tersebut terendam banjir.

Pada sejumlah titik dibangun berupa kotak (box) untuk sapi melintas karena cukup banyak hewan ternak sapi yang berkeliaran dan akan membahayakan perjalanan kereta.

Ketika kereta lewat dan masinis membunyikan suling, sejumlah hewan sapi akan mendekati jalur kereta dan rentan ditabrak. Djoko menyarankan masinis tidak membunyikan suling ketimbang nantinya didekati sejumlah hewan sapi dan berisiko membuat hewan ini tertabrak.



Manfaat

Proyek Kereta Api Makasar – Parepare dipandang memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan. Data dari Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan (Desember 2022) menyebutkan sejumlah manfaat hadirnya moda KA di Sulawesi Selatan.

Pertama, peningkatan PDB. Kereta Api Makasar – Parepare memberikan nilai manfaat sosial sebesar Rp2,51 triliun dengan Economic IRR sebesar 22,98 persen bagi ekonomi Sulawesi Selatan.

Kedua, penyerapan tenaga kerja. Selama masa konstruksi, Kereta Api Makasar - Parepare diestimasi akan memberdayaan 6.164 lapangan kerja secara langsung.

Ketiga, efisiensi waktu tempuh. Penghematan waktu tempuh Makasar – Parepare dengan kereta api adalah dari 3 jam menjadi 1,5 jam (2 kali lebih cepat dari perjalanan menggunakan kendaraan melalui jalan raya).

Keempat, potensi angkutan. Potensi angkutan penumpang dengan tingkat pertumbuhan penduduk di atas 8,7 persen per tahun, dan potensi angkutan barang berupa semen, klinker, bahan pangan sebanyak 60-70 juta ton. Kelima, pengembangan UMKM. Pada 11 stasiun besar dan kecil potensi sebagai sentra baru untuk mendukung UMKM setempat.

Keenam, penurunan kinerja jalan raya. Menurunnya kinerja jalan raya yang diindikasikan dengan VCR (volume/capacity ratio) yang semakin rendah, sehingga kepadatan lalu lintas di jalan akan menurunkan mobilitas atau pergerakan orang dan barang.

Selain itu, di sekitar stasiun dan sepanjang jalur terdapat destinasi wisata. Destinasi wisata sekitar Stasiun Maros antara lain Pantai Tak Berombak, Wisata Alam Mangambang dan air Terjun Bantimurung, di Stasiun Rammang-Rammang yakni Kampung Karst Rammang-Rammang, Taman Arkeologi Leang Leang, Danau Toakala.

Kemudian, di Stasiun Pangkajene terdapat Tonasa Park, Danau Hijau Balocci, Taman Purbakala Sumpang Bita, di Stasiun Labakkang dengan Wisata Alam Hutan Mangrove Dewi Biringkassi, di Stasiun Ma’rang dengan Wisata Alam Telaga Biru Segeri.

Sementara di Stasiun Mandaelle ada Wisata Alam Sorongan, Stasiun Tenete Rilau dengan Wisata Alam Pantai La Guna, Wisata Alam Lappa Laona, serta Stasiun Barru dengan Wisata Alam Anjungan, Sumpang Binangae, Wisata Alam Pantai Ujung Batu.

Djoko mencatat, dalam hal ini, perlu dipikirkan ketersediaan layanan transportasi umum dari stasiun tersebut menuju sejumlah destinasi wisata yang terdekat stasiun.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mengulik perkeretaapian di Sulawesi Selatan
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2023