Palu (ANTARA) - Anggota Komisi II DPR RI Longki Djanggola menyosialisasikan tantangan dan implementasi empat pilar kebangsaan di era konvergensi digital, di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Senin.
“Perubahan zaman yang semakin cepat, utamanya di era digital yang serba konvergen saat ini, menuntut untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan informasi,” katanya.
Dia menjelaskan kemajuan saat ini tentu membawa banyak manfaat mulai dari akses informasi yang terbuka luas, meningkatnya literasi digital, hingga kemudahan komunikasi dan interaksi sosial. Di sisi lain, juga menghadapi tantangan serius yang menyentuh sendi-sendi kebangsaan.
Kata dia, empat pilar berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika, kini diuji relevansinya dalam menghadapi realitas digital saat ini. Hal itu terlihat dari persoalan pendidikan, etika moral hingga masalah disinformasi.
Kata dia, tantangan utama empat pilar dalam era digital adalah, pertama, meningkatnya disinformasi dan hoaks di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat rentan terpapar informasi palsu yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial, mengganggu stabilitas politik, bahkan memecah persatuan bangsa.
Kemudian, kedua, dekadensi nilai dan etika berbangsa. Kebebasan berekspresi di media sosial sering kali tidak diiringi dengan tanggung jawab moral. Banyak ujaran kebencian, intoleransi, bahkan radikalisme yang menyelinap di ruang-ruang digital.
Ketiga, krisis pendidikan karakter, khususnya pendidikan kewarganegaraan, menghadapi tantangan besar dalam membentuk generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dan semangat kebangsaan. Sering kali, konten-konten luar negeri lebih mendominasi ruang belajar anak-anak kita daripada nilai-nilai kebangsaan.
Dan keempat, polarisasi sosial dan politik algoritma media digital cenderung menciptakan, di mana pengguna hanya menerima informasi yang memperkuat pandangan mereka sendiri. Ini memicu polarisasi dalam masyarakat, melemahkan dialog kebangsaan.
Menurutnya, tantangan-tantangan tersebut penting bagi kita untuk memperkuat implementasi nilai-nilai empat pilar di semua lini kehidupan, terutama dalam dunia pendidikan, pemberitaan, dan penggunaan media digital.
“Maka dari itu literasi digital berbasis nilai-nilai pancasila harus diperluas, dengan melibatkan semua unsur dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, tokoh masyarakat, hingga kelompok pemuda dan mahasiswa,” katanya menegaskan.
Dia berharap melalui kegiatan ini, para peserta mampu memahami secara mendalam esensi tantangan empat pilar kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan dapat menjadi agen perubahan dalam melawan disinformasi, serta menjaga semangat kebhinekaan dalam meningkatkan kepekaan terhadap tantangan bangsa di era digital dan berperan aktif dalam mengatasinya.
