Palu, (antarasulteng.com) - Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia IV Mulyono mengatakan saat ini pelabuhan laut di wilayah timur Indonesia menghadapi sejumlah permasalahan yang harus dihadapi guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Mulyono dalam acara dialog di Palu, Selasa, mengatakan permasalahan tersebut antara lain muatan yang tidak seimbang yang dialami kapal dari barat menuju timur, atau arah sebaliknya.
Pada umumnya, kapal laut dari arah barat yang menuju wilayah timur Indonesia dalam keadaan penuh, tapi setelah kembali ke daerah asal dalam keadaan kosong.
"Ini yang menyebabkan biaya logistik tinggi," kata Mulyono.
Menurutnya, industri di wilayah timur masih kurang banyak sehingga mempengaruhi muatan kapal ke barat.
"Padahal 90 persen barang produksi diangkut melalui kapal. Ini harus dimanfaatkan," katanya.
Selain itu, lanjutnya, biaya investasi di wilayah timur Indonesia tergolong tinggi seperti di Papua yang harga semen di daerah itu berlipat-lipat jika dibandingkan di wilayah barat Indonesia.
Selain itu, antrean kapal di pelabuhan masih berlangsung lama karena menunggu bongkar muat peti kemas sehingga hal itu menimbulkan biaya.
Menurutnya, kerja di pelabuhan harus 24 jam sehari, tidak hanya 10 hingga 15 jam per hari.
"Kalau kerja 24 jam sehari maka waktu menunggu semakin sedikit," katanya.
Namun di balik itu, ada kesempatan bagi perkembangan pelayaran di kawasan timur Indonesia yakni pertumbuhan ekonomi di wilayah itu tinggi serta dukungan dana dari pemerintah tetap ada, serta adanya program MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia).
Dia mengatakan kapal harus menciptakan perdangan, bukannya mengikuti perdagangan kalau ingin maju," ujarnya.
Di Indonesia sendiri terdapat empat daerah operarsional PT Pelabuhan Indonesia. Sementara PT Pelabuhan Indonesia IV membawahi kawasan timur Indonesia, yang kantornya berada di Makassar. (skd)
