Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Irmayanti Petalolo. ANTARA
Palu (ANTARA) -
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Sulawesi Tengah mengajak kalangan perempuan menjaga kebersihan lingkungan guna mendukung upaya pemerintah daerah itu memperoleh penghargaan Adipura.
"Perempuan punya 'power' (kekuatan) di lingkungan masing-masing, dengan keterlibatan perempuan bisa memicu warga lain ikut meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu Irmayanti Petalolo di Palu, Jumat.
Ia menjelaskan langkah Pemkot Palu mengincar piala Adipura 2023 melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, sebab tanpa gotong royong sulit untuk mewujudkan apa yang telah diagendakan itu.
Salah satu kolaborasi dilakukan instansi teknis terkait, dengan menggandeng perempuan, termasuk kader Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), karena PKK organisasi perempuan yang telah mengakar di masyarakat.
Menurut dia, peran perempuan/ibu rumah tangga begitu penting dalam menyampaikan pesan sebagai bentuk sosialisasi dan edukasi tentang kebersihan di lingkungan mereka masing-masing.
"Minimal kebersihan kita mulai dari lingkungan keluarga. Kalau kampanye ini diserukan secara masif, tentu secara tidak langsung menggugah kesadaran orang peduli terhadap kebersihan. Oleh karena itu, perempuan sebagai perpanjangan tangan pemerintah mengingatkan mengajak dan bergerak untuk kepentingan kebersihan agar kota ini hijau," ucap Irmayanti.Sejumlah warga memerhatikan cara pembuatan Komposter Aerob atau pengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos di Kelurahan Ujuna, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (8/11/2021). ANTARA/Basri Marzuki
Ia mengemukakan salah satu indikator penilaian Adipura dengan nilai cukup tinggi, yakni pemilahan sumber sampah yang tidak lain melekat pada rumah tangga, di mana dalam kegiatan pemilahan yang paling berperan yakni ibu rumah tangga.
Selain itu, Pemkot Palu telah memetakan tiga isu strategis menyangkut lingkungan hidup, di antaranya sampah, kepedulian terhadap kebersihan, serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
"Masih banyak barang-barang digunakan warga yang belum ramah lingkungan, salah satunya plastik. Ke depan kami pemerintah setempat membatasi penggunaan barang sekali pakai diperkuat dengan peraturan wali kota (perwali)," ungkap Irmayanti.
Ia menambahkan bahwa sudah sepatutnya pendidikan lingkungan hidup digalakkan dengan dimulai sejak dini untuk membentuk sikap, nilai perilaku yang bertanggung jawab atas kebersihan, dengan sasaran kelompok anak-anak/remaja agar terbentuk kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
"Dengan harapan, setiap anak sudah harus dibentuk karakternya menjadi manusia yang memiliki perilaku bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan lingkungan," demikian Irmayanti.