Tambak udang supra intensif skala rakyat hasilkan 700 kg (Vidio)

id udang,supra intensif,sulteng

Gubernur Sulteng Longki Djanggola (kedua kiri) dan Sekretaris Utama Menteri PPN/Ketua Bappenas Gelwynn Yusuf (kedua kanan) melaksanakan panen perdana sistem budidaya supra intensif skala rakyat di BBI Mamboro, Kota Palu, Selasa (15/5) (Antaranews Sulteng/Muh. Hamzah)

Palu (Antaranews Sulteng) - Gubernur Sulawesi Tengah Drs Longki Djanggola yang didampingi Sekretaris Utama Menteri PPN/Ketua Bappenas Gelwynn Yusuf melaksanakan panen perdana sistem budidaya udang supra intensif skala kecil (skala rakyat) yang bisa direplikasi oleh petani tambak pada umumnya.

"Saya bangga atas inovasi yang dilakukan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, pak Hasanuddin Atjo. Saya berharap dengan teknologi ini, Sulteng akan menjadi penghasil udang vaname yang diperhitungkan di Indonesia ke depan," katanya di depan ratusan warga, termasuk Bupati Buol, Sulteng, Amiruddin Rauf yang menyaksikan panen tersebut di Balai Benih Ikan dan Hatchery Skala Rakyat Instalasi Mamboro, Kota Palu, Selasa.

Gubernur meminta semua kepala daerah untuk membuat proyek-proyek percontohan yang mengimplementasikan teknologi ini di daerah masing-masing untuk menjadi percontohan bagi masyarakat, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, teknologi ini sudah bisa direplikasi oleh para petani tambak Sulteng secara mandiri."

Teknologi budidaya hasil inovasi Dr Hasanuddin Atjo itu diluncurkan pada 20 Pebruari 2018, dan dengan masa budidaya sekitar 90 hari, tambak yang terdiri atas dua kolam berbentuk lingkaran itu bisa menghasilkan udang 700-an kilogram dengan ukuran 60 ekor/kg. Harga jual udang ini  dipasaran mencapai sekitar Rp70.000/kg, sehingga nilai panen totalnya mencapai hampir Rp50 juta.

Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng Dr Hasanuddin Atjo, MP mengemukakan teknologi budidaya udang supra intensif kini tidak hanya bisa direplikasi pengusaha bermodal besar, tetapi juga petambak skala usaha kecil dan menengah (UKM) setelah rekayasa konstruksi berhasil diwujudkan dan diluncurkan penggunaannya pada 20 Februari 2018.

"Ini adalah hasil rekayasa konstruksi dari beton menjadi plastik sehingga biaya investasinya bisa ditekan, namun produktivitasnya tetap tinggi," kata Hasanuddin Atjo yang juga penemu sistem budidaya udang supra intensif Indonesia itu.

Baca juga: Teknologi budidaya udang supra intensif kini tersedia untuk UKM (vidio)

Menurut dia, dengan konstruksi beton, teknologi ini membutuhkan biaya konstruksi yang cukup besar, bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung besaran tambak yang dibangun.

Karena itu, kata Atjo, pihaknya terus melakukan kajian sehingga akhirnya ditemukan konstruksi sederhana yakni menggunakan terpal plastik yang disanggah oleh kerangka (frame) besi.

Ada dua tambak berkonstruksi plastik berbentuk lingkaran berdiamater 12 meter dengan tinggi satu meter yang mampu menampung air laut 50-an ton. Biaya konstruksi kedua tambak ini hanya Rp30 juta.

Kedua tambak tersebut dalam satu siklus panen membutuhkan biaya operasional Rp19,5 juta dan mampu menghasilkan 700 kg udang atau 350 kg/tambak. Bila harga udang rata-rata Rp70.000/kg maka sekali panen, pemilik tambak bisa meraup sekitar Rp49 juta. Dalam setahun panen bisa berlangsung tiga kali.

Kalau seorang petambak bisa mengembangkan enam kolam saja, biaya konstruksinya tidak akan mencapai Rp100 juta, tetapi hasil yang diperoleh akan berlipat ganda, kata Atjo lagi.

 
Gubernur Sulteng Longki Djanggola mengangkat udang hasil panen perdana pada tambak sistem budidaya supra intensif skala rakyat di BBI Mamboro, Kota Palu, Selasa (15/5) (Antaranews Sulteng/Muh. Hamzah)


Gubernur Longki Djanggola mengatakan akan mengalokasikan bantuan untuk membangun tambak-tambak udang supra intensif skala rakyat ini di sejumlah kabupaten sebagai tempat percontohan, karena kalau rakyat tidak melihat contoh, maka mereka tidak akan mereplikasikannya.

Baca juga: Parigi Moutong adopsi kolam plastik budidaya udang (vidio)

Untuk tahap pertama, gubernur yang didamping Kadis KP Hasanuddin Atjo, akan membantu lima kabupaten dengan alokasi bantuan Rp100 juta tiap kabupaten. Dengan dana itu, sudah bisa membangun lima buah tambak percontohan.

"Saya ingin mengembangkan teknologi supra intensif skala rakyat ini karena terbukti signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tambak. Kalau ini berhasil, kita berharap Sulteng akan menjadi daerah penghasil udang vaname cukup besar di Indonesia dalam beberapa thaun mendatang," ujar Logki yang juga Ketua HKTI Sulteng itu.

Sementara Sekretaris Utama Ketua Bappenas Gelwynn Yusuf mengatakan akan memprogramkan sistem budidaya udang supra intensif skala rakyat ini untuk disebarluaskan lewat program-program bantuan yang dibiayai dengan dana APBN sebagai percontohan.

"Pengembangan telnologi budidaya udang vaname ini secara luas akan memberikan dampat pada peningkatan daya saing, ketahanan pangan dan percepatan kesejahteraan rakyat serta mendukung program peningkatan ekspor udang," ujarnya.

 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar