Ruby capai target untuk produksi gas secara aman tanpa "accident"

id Ruby, anjungan lepas pantai Ruby,gas ruby,Mubadala Petroleum, SKK Migas

Agung Djatmiko saat mendampingi Sekretaris SKK Migas, Murdo Gantoro yang mengunjungi fasilitas anjungan lepas pantai Ruby. (antara/foto/firman)

Sebuku (ANTARA) - Ruby gas field, fasilitas produksi gas di Blok Sebuku, Selat Makassar yang merupakan bagian dari Mubadala Petroleum, perusahaan migas internasional yang dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sudah berjalan hampir enam tahun, sejak produksi pertama Oktober 2013.

Dari rentang waktu tersebut, Ruby bisa mencapai target produksi secara aman tanpa adanya "accident" atau kecelakaan kerja.

"Alhamdulilah kami di sini "zero" kecelakaan kerja. Aktivitas berjalan lancar dan gas mengalir sesuai dengan target," terang Agung Djatmiko selaku Offshore Installation Manager Ruby Platform, Mubadala Petroleum ditemui Antara di Anjungan Lepas Pantai Ruby, Minggu.

Agung mengungkapkan, seluruh kegiatan di lapangan Ruby wajib sesuai prosedur, sehingga dapat mencegah dan menekan potensi terjadinya kecelakaan.

Adapun proses keamanan yang dijalankan, di antaranya penerapan sistem kontrol yang ketat dari pimpinan lapangan kepada pekerja, begitu juga antar sesama karyawan dalam pekerjaan.

"Jadi setiap pekerja punya hak dan kewajiban menegur temannya jika melihat kondisi yang dikerjakan membahayakan. Misalnya saja ada pekerja yang bertugas tidak menggunakan sarung tangan, temannya harus menegur dan menghentikan," jelas Agung.
Fasilitas anjungan lepas pantai Ruby. (antara/foto/firman)


Manajemen Ruby pun telah siap melakukan respon cepat dalam penanganan kondisi darurat seperti kebakaran dan kebocoran gas, termasuk jika ada pekerja yang mengalami kecelakaan.

Satu armada kapal juga selalu siaga di sekitar area Ruby, termasuk helikopter jika dibutuhkan akan tiba dengan cepat baik dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan ataupun Bandara Gusti Syamsir Alam, Kotabaru.

"Prinsipnya, kami harus melakukan segala aktivitas dengan benar dan aman agar gas mengalir sesuai target. Dimana kegiatan offshore (lepas pantai) ini meliputi operasi dan maintenance (pemeliharaan)," tutur Agung lagi.

Pekerja di Ruby sepenuhnya warga Indonesia, dengan jumlah normal 25 orang dan maksimal bisa 36 orang. Para pekerjanya dapat pembagian kerja shift per dua minggu. Jadi dua minggu bekerja dan dua minggu libur.

Agung pun mengaku bangga, beberapa pekerja adalah putra daerah lokal Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan dan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Diketahui, Ruby gas field terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi, berjarak 275 kilometer dari tenggara kota Balikpapan dan 90 kilometer dari timur Kotabaru.

Produksi gas yang hasilkan Ruby dialirkan melalui pipa bawah laut 14-inch sejauh 312 kilometer ke fasilitas pengolahan gas di Senipah Kabupaten Kutai, Provinsi Kalimantan Timur.

Lapangan Ruby juga dapat memproduksi gas alam mencapai 250 miliar kaki kubik, dengan produksi rata-rata 100 juta standar kubik per hari melalui pengeboran 4 sumur produksi.

Sepenuhnya gas digunakan untuk kebutuhan domestik seperti pabrik PT Pupuk Kalimantan Timur dan PLN, sehingga mendukung ketahanan energi nasional yang digalakkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Selain menghasilkan migas untuk kebutuhan energi yang selalu terjaga produksinya, secara tidak langsung Ruby juga mendukung program ketahanan pangan, karena pasokan gas digunakan untuk kebutuhan operasional Pupuk Kaltim," pungkas Agung.


 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar