Pasar tenun Donggala pascagempa masih lesu

id Tenun Donggala

Pasar tenun Donggala pascagempa masih lesu

Sejumlah pelajar peserta program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Bangka Belitung melihat pembuatan Kain Tenun Donggala pada salah satu industri tenun rumah tangga di Kelurahan Watusampu, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/8). (ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH)

Setelah gempa ini permintaan kantor itu menurun karena anggaran banyak dialokasikan ke rekonstruksi kantor dan ATK sehingga banyak yang membatalkan ordernya
Palu (ANTARA) - Asosiasi Tenun Donggala menilai bahwa penjualan pakaian khas produk lokal tenun Donggala di Kota Palu pascagempa serta bencana tsunami dan likuefaksi masih lesu dibanding sebelum peristiwa dahsyat 28 September 2018 tersebut menghajar Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong.

"Jauh sekali perbedaannya. Sebelum gempa itu omzet rata-rata sampai Rp50 juta per minggu. Sekarang hanya berkisar Rp25 juta per minggu," kata Sekretaris Asosiasi Tenun Donggala Imam Basuki di Palu, Kamis.

Dia mengungkapkan bahwa omzet tersebut hanya contoh dari usaha pribadinya. Namun ia menilai bahwa kondisi yang sama juga dialami pelaku usaha yang lain.

Menurut Imam, dalam beberapa bulan terakhir penjualan tenun Donggala cenderung stabil berada di kisaran Rp25 juta per minggu.

Salah satu konsumen pasar tenun paling besar, masih terletak di kalangan aparatur sipil negara karena tenun masih menjadi pakaian wajib setiap hari Kamis.

"Setelah gempa ini permintaan kantor itu menurun karena anggaran banyak dialokasikan ke rekonstruksi kantor dan ATK sehingga banyak yang membatalkan ordernya," katanya.

Selain itu, ujar dia, permintaan kain tenun juga banyak dari kabupaten tetangga namun dengan motifnya sendiri sesuai khas lokal daerah setempat.

Baca juga: Sulteng geliatkan kembali pariwisata lewat festival tenun

Produk tenun Donggala yang beredar di pasar selama ini terdiri dari tiga kualitas, yakni kualitas paling rendah 100 persen berbahan baku katun, kualitas sedang 50 persen katun dan 50 persen sutra, dan kualitas tinggi 100 persen benang sutra.

"Untuk motif, kami tetap mempertahankan motif tenun Donggala," kata Imam.

Kualitas bahan baku itulah kata Imam, yang mempengaruhi harga, di mana harga tertinggi berbahan baku 100 persen sutra dibanderol hingga mencapai Rp1,2 juta per potong.

"Asli tenun Donggala itu dibuat dengan alat tenun gedokan. Waktu pengerjaannya juga lama. Makanya banyak yang kaget setelah dengar harganya, karena memang selain kualitas tinggi, pengerjaannya juga lama," katanya.

Produk paling banyak beredar di pasar saat ini motif tenun yang dikerjakan dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) karena proses pengerjaanya juga lebih cepat.

Selain pangsa pasar di kalangan ASN, lanjutnya, produk tenun Donggala juga banyak diminati para wisatawan yang hadir di Palu sebagai cinderamata.

Tamu dari luar daerah, kata dia, umumnya meminta produk ATBM karena harga yang terjangkau. Hingga kini para pengrajin dan pengusaha tenun Donggala dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Editor : M Razi Rahman
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar