Distribusi pupuk subsidi di Sulteng harus diawasi ketat

id pupuk, petani

Distribusi pupuk subsidi di Sulteng harus diawasi ketat

Petani memasukkan garam untuk pupuk yang baru dipanen ke dalam karung di Penggaraman Talise, Palu Sulawesi Tengah, Kamis (24/10/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/nz

Palu (ANTARA) - Distribusi sarana produksi petani, khususnya pupuk yang selama ini disubsidi pemerintah untuk kebutuhan petani harus diikuti dengan pengawasan ketat agar tepat sasaran dan tepat waktu.

"Tidak menutup kemungkinan pupuk subsidi, termasuk saprodi lainnya didistribusikan tak sesuai dengan peruntukannya," kata Ketua Bidang Perdagangan Kadin Provinsi Sulawesi Tengah yang juga Sekretaris DPD Apindo Achrul Udaya, Rabu

Seringkali, kata dia, petani mengeluhkan kesulitan pupuk dan benih. Padahal setiap tahunnya pemerintah telah mengalokasikan pupuk, benih dan obat-obatan bersubsidi dengan memadai.

Ketersediaan sarana produksi petani secara memadai akan mendukung program peningkatan hasil-hasil produksi pertanian di daerah yang setiap tahunnya ditargetkan mengalami peningkatan baik dari segi produksi maupun produktivitas.

Sulteng, kata dia, merupakan salah satu daerah di Pulau Sulawesi yang sejak 1984 telah mencapai swasembada beras sehingga beras Sulteng banyak dijual ke beberapa daerah seperti Gorontalo, Manado dan Maluku.

Menurut dia, Pemprov Sulteng perlu mempertahankan sentra-senra produksi beras agar tidak sampai dialifungsikan lahannya untuk kebutuhan permukiman/perumahan.

Alifungsi lahan harus ditekan sebab jika terus terjadi dan lahan berkurang, bukan tidak mungkin suatu saat Sulteng justru mendatangkan beras dari daerah lain.

Selama beberapa tahun terakhir ini, banyak lahan pertanian yang dialifungsikan menjadi lokasi perumahan dan investasi non pertanian.

"Sayang kalau sampai Sulteng menjadi daerah yang defisit produksi beras," katanya.

Sulteng hingga kini masih mengalami surplus beras sekitar 300 ribu ton setiap tahunnya. Tujuh daerah penghasil beras terbesar di Sulteng yakni Parigi Moutong, Banggai, Donggala, Sigi, Tolitoli, Poso dan Morowali.
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar