Palu, (antarasulteng.com) - Industri tahu dan tempe di Palu, Sulawesi Tengah, hingga kini masih kesulitan mendapatkan kedelai sebagai bahan baku utama industri tersebut.
"Kami tidak bisa mengandalkan kedelai produksi petani lokal karena langka di pasaran," kata Ismail, salah seorang pemilik industri tahu dan tempe di bilangan Jalan Miangas, Kecamatan Palu Selatan, Jumat.
Lelaki berdarah Jawa yang sudah sekitar 20 tahun berdomisili di Kota Palu tersebut mengatakan selama ini ia diperhadapkan kepada kekurangan bahan baku.
Kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe, stoknya sangat terbatas di pasar-pasar. Sementara di satu sisi para pelaku usaha ingin sekali meningkatkan produksi karena permintaannya cukup besar.
"Tapi tidak bisa karena bahan baku terbatas," katanya.
Agar masih tetap berproduksi, mereka menggunakan kadelai impor meski harga jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai lokal.
Di Sulteng, kata Ismail, petani yang mengembangkan tanaman kedelai sangat kurang. Tidak seperti di Pulau Jawa petani kedelai cukup banyak.
Selain kekurangan bahan baku, industri tahu dan tempe di Kota Palu setiap tahunnya bertambah. Tahun 1980-1990 baru ada tiga industri tahu dan tempe di Palu.
Mulai 1990 sampai dengan 2013 ini sudah sekitar 20 industri tahu dan tempe yang ada di ibu kota provinsi ini.
"Otomatis kebutuhan kedelai semakin meningkat," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Suyono, seorang pengusaha tahu dan tempe di Palu yang mengatakan kesulitan mendapatkan kedelai baik lokal maupun impor.
Padahal, katanya, tahu dan tempe sangat laris dijual di pasaran. Kalau pada era 80-an sampai 90-an masyarakat di Palu belum banyak yang mengkonsumsi tahu dan tempe, tetapi sekarang ini justru orang lebih suka.
Apalagi saat harga ikan melonjak, maka tahu dan tempe menjadi pilihan utama menu makanan banyak orang. Harganyapun jauh lebih murah dari ikan.
"Hanya dengan uang Rp5.000 membeli tahu dan tempe sudah bisa makan satu keluarga," katanya seraya menambahkan kalau dengan uang sebesar itu membeli ikan, hanya cukup makan beberapa orang saja.
Sementara limbah tahu selama ini sebagai pakan ternak. Pakan dari limbah tahu cukup laris dibeli para peternak sapi, kuda dan babi.
Harga limbah tahun satu karung ukuran 50kg berkisar Rp15.000,00. (SKD)
