Semarang - Presenter berita Tina Talisa mengakui bahwa bakatnya menjadi presenter yang mensyaratkan penguasaan terhadap teknik "public speaking" (berbicara di depan umum) sudah terasah sejak sekolah.
"Saya mulai belajar tentang 'public speaking' saat masih sekolah menengah pertama (SMP). Semua kegiatan ekstrakurikuler di sekolah saya ikuti, mulai OSIS sampai paskibra," katanya di Semarang, Kamis.
Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara utama dalam "Workshop on Public Speaking 2012" yang diprakarsai Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang yang dihadiri kalangan mahasiswa dan dosen.
Menurut perempuan kelahiran Bandung, 24 Desember 1979 itu, bakatnya dalam "public speaking" kian terasah saat menginjak sekolah menengah atas (SMA) karena kerap didaulat menjadi MC (master of ceremony) untuk acara sekolah.
"Demikian pula saat kuliah, saya sering diminta menjadi MC dalam acara-acara kampus. Kemudian, saya pertama kali menekuni 'public speaking' secara profesional saat bekerja di stasiun radio," katanya.
Setelah itu, lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Bandung itu pindah bekerja ke stasiun televisi swasta menjadi presenter, dan sampai sekarang telah beberapa kali berpindah stasiun televisi.
Tina mengungkapkan bahwa kesuksesan dalam berbagai bidang tidak bisa diperoleh secara instan, bahkan ajang-ajang pencarian bakat di televisi pun sebenarnya bukan suatu pencapaian kesuksesan secara instan.
"Seleksinya mungkin yang bersifat instan. Namun, apakah kemampuan mereka, misalnya menyanyi didapatkan secara instan? Semua harus berproses. Mereka tentunya sudah mengasah kemampuan menyanyi sejak lama," katanya.
Dalam kesempatan itu, Tina membagikan tips menjadi presenter yang andal kepada para mahasiswa dan dosen, antara lain menggunakan "power" saat berbicara di hadapan audiens dan berusaha menjadi diri sendiri.
"Power" yang dimaksud, kata dia, bukanlah berbicara dengan berteriak atau sekeras mungkin, namun merupakan kemampuan memperbanyak volume udara yang keluar saat berbicara, berbeda ketika tengah mengobrol dengan kawan.
Namun, ia mengingatkan untuk tetap menjadi diri sendiri, misalnya menjadi presenter dengan gaya dan karakteristik suara yang dimiliki, jangan memaksakan untuk memilih karakteristik suara yang tidak dimilikinya.
"Biasanya, kaum perempuan memiliki karakteristik suara sopran, messo-sopran, atau alto. Ada yang menganggap suara perempuan yang paling bagus alto. Padahal, semuanya itu tergantung kebiasaan dan selera," kata Tina. (Ant)
