Palu (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tolitoli, Sulawesi Tengah melanjutkan program pemberantasan buta aksara kepada warga binaan sebagai bagian dari kegiatan pembinaan di bidang pemasyarakatan
"Lapas bukan hanya sekedar tempat menjalani hukuman bagi narapidana, tetapi juga menjadi tempat untuk meningkatkan kapasitas mereka melalui pemberdayaan," kata Kepala Lapas Kelas IIB Tolitoli Mansur Yunus Gafur dihubungi dari Palu, Rabu.
Ia menjelaskan program itu dilaksanakan terjadwal mulai pukul 09.00 Wita sampai selesai diikuti warga binaan yang masuk kategori buta aksara. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pemenuhan hak pendidikan warga binaan sesuai dengan sistem pemasyarakatan.
Metode pengajaran difokuskan pada kegiatan baca tulis dengan harapan saat mereka selesai menjalani masa hukuman dan kembali ke lingkungan masyarakat dapat menjadi orang berguna dan berkarakter baik.
Langkah dilakukan pihaknya sebagai bentuk komitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) warga binaan, melalui pendidikan dasar.
“Pemberantasan buta aksara sebagai bagian dari pembinaan kepribadian, supaya warga binaan memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, dan memahami nilai-nilai sosial sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Pembelajaran dilaksanakan dalam kerangka pembelajaran yakni Pendidikan Kewarganegaraan Paket B dengan materi dasar membaca, menulis, berhitung, pemahaman mengenai definisi, sifat-sifat, dan macam-macam norma dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan belajar mengajar tersebut didukung oleh petugas registrasi Lapas Tolitoli bersama peserta magang, materi yang disampaikan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran hukum, sikap kebangsaan, dan kesiapan warga binaan dalam proses reintegrasi sosial.
"Tugas kami juga memberikan pelayanan dasar, bimbingan sosial/kerohanian, termasuk mempersiapkan sarana dan mengelola hasil kerja warga binaan," kata dia.
