Masyarakat Bada jaga kawasan Cagar Biosfer Lore Lindu turun-temurun

id TNLL, Bada,direktur

Masyarakat Bada jaga kawasan Cagar Biosfer Lore Lindu turun-temurun

Direktur Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,Diah Murtiningsih dan Kepala Sub Direktorat PKS berlangsung di Desa Kageroa,Kecamatan Lore Barat, Kamis (14/3) 2019 (Anas Masa)

Poso (ANTARA) - Masyarakat yang bermukim di Lembah Bada , Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah menjaga kawasan konservasi aman Nasional Lore Lindu (TNLL) dan cagar biosfer Lore Lindu secara turun-temurun sebagai salah satu dari kearifan lokal di wilayah itu.
Dan hingga kini, masyarakat tetap mempertahankan kearifan lokal tersebut dengan memelihara hutan dan satwa yang ada di dalam kawasan Cagar Biosfer tersebut.
Bahkan, kata Camat Lore Barat, Ruli Labulu di Desa Kageroa,salah satu desa yang berada di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Minggu,  sanksi adat yang diberlakukan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka dan sampai sekarang ini terus dilestarikan bagi masyarakat yang melakukan penebangan pohon ataupun membuka kebun serta memburu satwa di dalam kawasan konservasi, maka akan disidang adat dan denda seekor kerbau.
Karena sanksinya cukup berat, maka hingga kini masyarakat tidak berani untuk mengganggu kawasan konservasi dan justru menjaganya karena telah banyak memberikan manfaat bagi mereka, termasuk menjadi sumber air bersih dan air irigasi yang bertahun-tahun mengairi persawahan petani yang ada di Lembah Bada.
Di Lembah Bada,kata dia, ada sekitar 14 desa dan semua desa tersebut dikelilingi hutan yang masih bagus.
Lembah Bada juga diibaratkan seperti sebuah loyang atau kuali karena terletak di tengah-tengah kawasan hutan konservasi.
Udara dan alamnya yang sangat sejuk membuat masyarakat setempat tidak ingin beranjak keluar dari lembah tersebut.
"Masyarakat kami selama ini hidup rukun satu dengan lainnya meski berbeda kepercayaan dan suku," kata Camat Ruli.
Namun, ketika hujan lebat mengguyur Lembah Bada, masyarakat selalu was-was karena beberapa permukiman mereka rawan bencana alam banjir.
Sungai Lariang merupakan sungai terbesar di Lembah Bada yang saat banjir selalu menghantui masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Lore Barat maupun Lore Selatan.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat di dua kecamatan di Lembah Bada tersebut meminta kepada pemerintah pusat untuk melakukan normalisasi Sungai Lariang.
"Kami minta tolong kepada pemerintah pusat kiranya bisa memberikan anggaran untuk normalisasi daerah aliran sungai (das) agar permukiman penduduk bisa aman dari ancaman banjir," pinta dia.
Masyarakat di Lembah Bada sejak turun temurun, kata dia, hidup bercocok tanam berbagai komoditi pertanian dan perkebunan.
Komoditi-komoditi yang dikembangkan masyarakat Lembab Bada hingga kini antara lain padi sawah, padi ladang, tanaman perkebunan seperti kakao, cengkih dan kopi.
Juga sayur-mayur antara lain cabai,bawang merah,kubis, kentang, sawi, kacang panjang, kacang merah, jagung dan ubi-ubian.
Dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng, Lembah Bada bisa dijangkau kendaraan sepeda motor dan mobil menempuh perjalanan sekitar 350km dengan kondisi jalan yang masih cukup memprihatinkan, tetapi sudah lumayan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang memang sangat sulit dijangkau kendaraan,kecuali kendaraan yang memiliki doble gardan.
Pemerintah dan masyarakat di Lembah Bada berharap apa yang menjadi keinginan mereka seperti normalisasi sungai, peningkatan jalan dan pembangunan jembatan penghubung antar desa di wilayah itu bisa mendapat perhatian dari pemerintah pusat.***1***
(T.BK03/)
Pewarta :
Editor : Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar