Jakarta (antarasulteng.com) - Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Ady Indra Pawennari mengatakan penggunaan serat sabut kelapa dapat meningkatkan produktivitas lahan hingga 50 persen.
"Dari hasil ujicoba dan simulasi penggunaan serat sabut kelapa pada tanaman singkong mendapatkan hasil yang fantastis. Produktivitas lahan meningkat hingga 50 persen," ungkap Ady di Jakarta, Senin.
Dia menceritakan pengalaman rekannya, Tiara yang melakukan usaha budidaya ubi kayu atau singkong di Samarinda, Kalimantan Timur.
Berbekal informasi tentang manfaat serbuk sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas lahan didapatnya dari internet, ia sukses memanen singkong siap jual sebanyak 800 ton di lahan seluas 1 hektar.
"Bibit singkong yang ditanam langsung ke dalam tanah hanya menghasilkan singkong 50 kilogram per batang atau 500 ton per hektar. Tapi, bibit singkong yang menggunakan media tanam serbuk sabut kelapa, hasilnya di luar dugaan. Ada peningkatan sekitar 30 kilogram per batang atau 300 ton per hektar," ujar Ady.
Bibit singkong yang dibudidayakan Tiara di Samarinda bukanlah bibit singkong biasa, tapi bibit hasil inkubasi DNA (deoxyribosenucleid acid) singkong dari Taiwan dan singkong asli Kalimantan Timur.
Perbedaan hanya terletak pada masa panen, daun dan warna singkong. Sedangkan kualitas dan rasanya sama.
Berkat ujicoba tersebut, tambah Ady, Tiara memberi nama bibit singkong yang dibudidayakannya dengan treatment serbuk sabut kelapa itu, Formula Satu (F-1). Bibit singkong F-1 dapat menjawab kekhawatiran pemerintah akan ancaman ketahanan pangan nasional.
Untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150 - 200 mm pada umur 1 - 3 bulan, 250 - 300 mm pada umur 4 - 7 bulan, dan 100 - 150 mm pada fase menjelang dan saat panen. Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.
Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan "trichoderma molds", sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar dan panjang.
Selain itu, juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).(I025)
