JMK-Oxfam bantu pengungsi korban bencana Pasigala hingga 2020

id Palu,Sigi,Donggala,Pasigala

Project officer JMK-OXFAM Budiman Widianarko (ke dua dari kanan) memaparkan upaya-upaya yang telah dan tengah dilakukan JMK-Oxfam di sektor EFSVL untuk pengungsi korban bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala di salah satu restoran di Palu, Rabu (10/7). (Antaranews Sulteng/Muh. Arsyandi)

Palu (ANTARA) - lembaga kemanusiaan internasional Oxfam berkomitmen akan mendampingi dan membantu pengungsi korban bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala hingga akhir 2020.

Komitmen tersebut merupakan bentuk kepedulian JMK-Oxfam terhadap para pengungsi yang hingga kini masih banyak tinggal di tenda-tenda pengungsian dan sangat membutuhkan bantuan terutama bantuan pokok seperti air bersih, makanan minuman hingga obat-obatan.

"Hingga bulan ke 10, respon bencana di sektor EFSVL (Emergency, Food, Security, Venurable and Livelihood) dan Gender and Child Protection, JMK-Oxfam telah melakukan beberapa capaian kerja seperti pendistribusian alat kebersihan (cleaning kit) sebanyak 6.400 unit ke 19 desa, peralatan kerja (tool kit) yang diperuntukkan bagi petani garam di Talise Kota Palu yang diserahkan kepada 815 penerima manfaat,"kata JMK Partnership Management, Nining Rahayu dalam acara media gathering di Palu, Rabu (10/7).

Sementara di sektor WASH lanjutnya, JMK-Oxfam mulai minggu pertama pascabencana hingga saat ini telah melalukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan sarana serta prasarana kebersihan bagi para pengungsi.

Di antaranya membangun sarana air dan sanitasi agar akses kepada layanan dasar tersebut dapat terus terpenuhi dan mendampingi masyarakat dalam operasional dan pengelolaan fasilitas itu agar senantiasa dapat terus digunakan oleh masyarakat terdampak.

Pada fase kedua yakni di bulan April hingga September 2019, sambungnya, JMK-Oxfam tengah fokus pada program pembangunan secara berkelanjutan yang digagas masing-masing sektor kerja yakni WASH (Water Sanitation and Hygiene) dan EFSVL.

"Penguatan di fase ke dua, kami fokus terhadap peningkatan keterampilan wawasan yang dihubungkan dengan pemasaran kualitas produk yang dihasilkan termasuk regulasi mengenai kesiapsiagaan bencana dengan menghadirkan desa tangguh bencana melalui perdes (peraturan desa),"ucapnya.

Ia yakin upaya-upaya yang dilakukan dalam berbagai program itu dapat efektif mengurangi penduduk miskin yang bertambah usai bencana yang mengakibatkan para pengungsi korban bencana kehilangan mata pencaharian, pekerjaan, harta benda, tempat tinggal dan sanak saudara.

"Kami berharap dengan kehadiran kami bisa membuat masyarakat korban bencana dapat bangkit kembali dan bahkan lebih kuat dari sebelum terjadinya bencana alam. Masyarakat harus lebih kuat dalam menghadapi setiap lini kehidupan jika sewaktu-waktu hal yang tidak diharapkan kembali terulang,”tutupnya.

Baca juga: FAO kucurkan bantuan bernilai Rp14 miliar untuk korban bencana Sulteng
Baca juga: Komnas-HAM minta pembangunan harus berbasis pengurangan risiko bencana
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar