Sulawesi Tengah termasuk daerah penghasil kakao terbesar di Pulau Sulawesi dengn luas saat ini sekitar 200 ribu hektare dan produksi mencapai 150 ribu ton per tahun.
Meskipun memiliki luas dan produksi kakao cukup besar dibandingkan daerah lainnya di Sulawesi, namun hasil panen masih belum banyak memberikan nilai tambah bagi petani maupun pendapatan asli daerah karena masih semuanya diekspor dan diantarpulau dalam bentuk mentah.
Begitu pula harga kakao di pasaran masih sangat tergantung pada harga pasar luar negeri yang sewaktu-waktu bisa naik dan sebaliknya.
Padahal, sebagian besar para petani Sulteng yang selama ini mengantungkan hidup dan keluarganya pada hasil perkebunan kakao.
Selama ini, petani hanya mendapatkan penghasilan dari hasil penjualan biji kakao yang rata-rata belum melalui sistem fermentasi sehingga berdampak terhadap kualitasnya rendah.
Kualitas rendah mengakibatkan harga jualpun murah.
Guna mendorong petani untuk meningkatkan hasil produksi dan kualitas biji kakao, maka Kementerian Perindustrian berupaya melakukan program hilirisasi pengolahan kakao melalui industri kecil menengah (IKM) di daerah-daerah, termasuk Sulteng sebagai produsen kakao terbesar bukan saja di Pulau Sulawesi, tetapi Indonesia timur, kata Menteri Perindustrian Saleh Hisuin ketika meresmikan rumah cokelat dan rumah kemasan di Palu, pekan lalu.
Menteri mengatakan rumah cokelat dan rumah kemasan merupakan bentuk perhatian dari pemerintah dalam upaya mendukung program hilirisasi pengolahan biji kakao menjadi produk cokelat setengah jadi yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan juga masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD).
Rumah cokelat dan rumah kemasan mempunyai makna yang penting untuk mendorong ekonomi masyarakat, khususnya di Palu dan umum di Sulawesi Tengah.
Industri pengolahan kakao, kata Menteri Saleh, mempunyai peranan penting dalam perolehan devisa dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Menteri mengatakan konsumsi cokelat di Indonesia terbilang masih rendah dibandingkan negara-negara Eropa.
Konsumsi cokelat Indonesia rata-rata sekarang ini hanya sekitar 0,5 kg per kapita per tahunnya, sedangkan konsumsi cokelat negara-negara Eropa mencapai lebih dari 8 kg per kapita per tahun.
Untuk itu, kata Menteri Saleh, Kementerian Perindustrian menetapkan industri pengolahan kakao sebagai salah satu industri prioritas untuk dikembangkan melalui hilirisasi pengolahan kakao di Tanah Air.
Dalam perkembangan perkakaoan nasional, pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas melalui paket kebijakan seperti pembebasan bea masuk atas pengimporan mesin, barang dan bahan yang dibutuhkan.
Kebijakan lainnya adalah bea keluar biji kakao dalam rangka menjamin pasokan bahan baku biji kakao.
Berikutnya, kata menteri adalah pengurangan pajak penghasilan (PPh) bagi investsi baru maupun perluasan industri kakao dan fasilitas penanaman modal di bidang usaha tertentu.
Menurut dia, dengan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah telah memberikan dampak yang signifikan dalam mendorong perkembangan industri pengolahan kakao di Tanah Air.
Melalui paket kebijakan pemerintah tersebut masuknya investor luar, kata dia, masuknya beberapa investor dibidang industri pengolahan kakao skala besar di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan (Sulsel).
Disamping industri skala besar, kita juga perlu mendorong industri pengolahan skala kecil mengingat sektor ini mempunyai nilai rantai cukup banyak dan berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah.
Menteri berharap dengan berdirinya rumah cokelat dan rumah kemasan di Sulteng, dapat memberi motivasi bagi provinsi penghasil kakao di Indonesia untuk mengembangkan industri hilir kakao di daerah masing-masing.
Ikon
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan produk makanan, khususnya cokelat yang diproduksi industri kecil menengah (IKM) bisa menjadi ikon baru Kota Palu.
"Jangan hanya bawang goreng, tetapi saya usulkan kepada pejabat Wali Kota Palu kalau bisa cokelat juga jadi ikon," kata Menteri Saleh saat meresmikan rumah cokelat dan rumah kemasan di Palu.
Produk cokelat hasil olahan IKM dan usaha kecil menengah (UKM) Sulteng tidak kalah dibandingkan produk yang sama dari daerah lain.
Bahkan yang diproduksi pabrik cokelat dari luar negeri yang banyak diperjualbelikan di pasaran dalam negeri.
"Cokelat yang diproduksi IKM dan UKM di Sulteng gurih dan enak serta memiliki aroma berbeda dengan cokelat lainnya," katanya.
Apalagi, kata Menteri Saleh, bahan baku pembuatan cokelat di Palu menggunakan biji kakao asli produksi petani.
Menurut saya, cokelat Sulteng sangat enak dan pasti laris dijual di pasaran.
Karena itu, Pemkot Palu perlu mempertimbangkan kemungkinan produk cokelat produksi IKM dan UKM Sulteng bisa menjadi ikon, selain bawang goreng yang sudah banyak dikenal masyarakat.
Bahkan mungkin bawang goreng Palu sudah sampai di pasar internasional karena memiliki ciri khas tersendiri yang tidak sama dengan daerah lainnya.
Kehadiran rumah cokelat dan rumah kemasan semakin memperkuat pemasaran produk-produk IKM dan UKM pengolahan makanan dari cokelat.
"Pak wali kota, jadikan produk ini menjadi ikon Kota Palu," ujar Menteri Saleh.
Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng, Almahdali mengatakan akan bekerja sama dengan swalayan, toko, hotel dan mall untuk menampung dan menjual produk cokelat hasil usaha dari IKM dan UKM di Sulteng.
"Kami sudah bekerja sama dengan beberapa restoran, hotel, toko, swalayan serta mall dan mereka sangat merepson sekali," katanya.
Untuk lebih memasarkan produk tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng, kata Almahdali telah membeli satu unit sepeda motor berroda tiga yang akan keliling menjual berbagai jenis makanan cokelat ke tempat-tempai ramai, termasuk ke obyek wisata Pantai Talise.
"Kalau pemasarannya bagus dan terus meningkat maka sepeda motor kaisar akan ditambah lagi sesuai kebutuhan," katanya.
Almahdali juga mengatakan petani bisa menjual biji kakao langsung ke rumah cokelat dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan di tingkat pengumpul hasil bumi.
"Tapi biji kakao harus telah difermentasi. Kami tidak akan beli biji kakao yang belum fermentasi," katanya.
Biji kakao fermentasi akan dibeli dengan harga layak. "Ya selisihnya Rp5.000/kg dari harga pasaran," kata dia.
Misalkan harga di pasaran untuk biji kakao fermentasi Rp32 ribu/kg, maka di rumah cokelat dihargai Rp37 ribu/kg.
Dengan demikin, petani pendapatan petani dengan menjual langsung ke rumah cokelat dipastikan lebih tinggi.
Langkah ini semata-mata upaya pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong IKM baru, menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat di Provinsi Sulteng.
