Bulog Sulteng siapkan beras medium bentuk tekan harga pangan

id Beras, Bulog, pasar, Sulteng, David Susanto

Bulog Sulteng siapkan beras medium bentuk tekan harga pangan

Ilustrasi - Warga berbelanja di sebuah agen Rumah Pangan Kita (RPK) di Pasar Induk Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (6/2/2023). ANTARA/Basri Marzuki

Palu (ANTARA) -

Kantor Wilayah Perum Bulog Sulawesi Tengah menyiapkan beras kualitas medium untuk diedarkan di pasaran guna membantu menekan lonjakan harga beras saat ini.
"Sebagaimana penugasan Pemerintah Pusat, kami ditugaskan menjual beras kualitas medium sebagai upaya pengendalian harga beras di pasaran," kata Kepala Bulog Sulteng David Susanto di Palu, Sabtu.
Ia menjelaskan, sejak Januari hingga Maret 2023, Bulog telah mendistribusikan atau menjual beras kurang lebih 3.500 ton ke semua daerah di provinsi ini melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) dengan harga jual beras medium Rp9.450 per kilogram.
Ia menilai, konsumsi masyarakat lebih kepada merk, yang mana minat beras lokal lebih sedikit dibandingkan dengan merk beras luar daerah, seperti beras asal Sulawesi Selatan cukup di minati konsumen.
"Beras-beras yang beredar di pasaran masih didominasi kualitas premium, sedangkan beras medium peminatnya kecil. Sementara Bulog tidak diwajibkan mendistribusikan beras premium, kami hanya membayang-bayangi lewat produk "beraskita" yang penjualannya dikhususkan di pasar modern dan jumlahnya pun terbatas," tuturnya.
Lebih lanjut di jelaskannya, produk pangan mengalami lonjakan signifikan saat ini yakni beras kualitas premium, ini dipengaruhi karena stok beras di tingkat petani belum terlalu banyak, meski begitu saat ini petani mulai memasuki panen raya di daerah-daerah sentra.
"Sekarang Parigi Moutong sebagai salah satu sentra beras sudah mulai panen namun jumlahnya masih terbatas. Di prediksi beberapa pekan ke depan hingga pertengahan April nanti panen padi besar-besaran akan terjadi di daerah-daerah sentra, dan masa panen raya ini sangat membantu menekan lonjakan harga beras di pasaran," ucapnya.
Menurutnya, lonjakan harga beras di pasaran sesungguhnya rutinitas siklus tahunan, karena menurut peta pertanian mulai Bulan November hingga Februari merupakan masa "paceklik" sehingga panen raya nanti prioritas pemerintah fokus pada pemenuhan stok komoditas di pasaran.
"SPHP akan kami masifkan ke seluruh daerah, karena bulan ini juga masyarakat umat Muslim menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Intervensi dilakukan lewat kegiatan pasar murah," demikian David.

Pewarta :
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.