Gubernur Sulteng Minta Menkes Kunjungi Pusat Schistosomiasis

id longki, djanggola, mboi, schistosomiasis

Gubernur Sulteng Minta Menkes Kunjungi Pusat Schistosomiasis

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola (ANTARA Sulteng/Basri Marzuki)

Palu - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola meminta Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboy untuk melihat langsung pusat penyebaran penyakit schistosomiasis, salah satu penyakit yang diakibatkan oleh cacing chistosoma atau dikenal demam siput di Kabupaten Sigi.

"Mudah-mudahan ibu Menteri ada waktu. Saya mengajak ibu ke Kecamatan Lindu untuk melihat penderita schistosomiasis di sana," kata Longki Djanggola pada acara tatap muka Menkes dengan jajaran pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di salah satu hotel di Palu, Minggu malam.

Longki mengatakan, jika Menkes bersedia ke Kecamatan Lindu, pemerintah daerah menyiapkan helikopter. Pergi pulang ke Kecamatan Lindu dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dengan helikopter.

Pada acara tatap muka bersama menteri tersebut, Wakil Bupati Sigi Livingstone Sango juga mengemukakan tentang kondisi schistosomiasis di daerahnya.

Menurut Livingstone, prevalensi schistosomiasis saat ini mengalami kenaikan hingga mencapai empat persen dari populasi penduduk yang bermukim di Kecamatan Lindu dan Napu, Kabupaten Poso.

Livingstone mengatakan prevalensi schistosomiasis tersebut naik jika dibanding beberapa tahun sebelumnya yang hanya satu persen.

"Beberapa waktu lalu hal ini juga sudah laporkan karena prevalensi keong shisto sudah empat persen. Ini perlu perhatian sungguh-sungguh karena belum ditemukan obatnya, tapi dapat ditekan dengan beberapa cara," kata Livingstone.

Dia mengatakan, untuk menekan prevalensi penderita schistosomiasis maupun cacing perlu dukungan dana dari pemerintah pusat.

Pada pertemuan itu, Bupati Sigi juga melaporkan tentang kondisi laboratorium schistosomiasis pascagempa yang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Sigi.

Dia mengatakan akibat gempa tersebut sejumlah sarana dan fasilitas laboratorium rusak bahkan ada yang rusak berat sehingga sama sekali tidak bisa digunakan lagi.

Menjawab masalah itu, Menteri Nafsiah Mboy dibantu Dirjen terkait mengatakan, prevalensi schistosomiasis saat ini sudah turun. Di Lindu prevalensi kasus ini tinggal satu persen, sementara di Napu 1,3 persen. Penurunan itu terjadi setelah dilakukan pengobatan massal pada penderita schistosomiasis.

Meskipun prevalensi schistosomiasis menurun namun prevalensi keong masih mencapai 3,6 di Lindu dan 1,6 di Napu.

Menkes juga mengatakan, tidak benar jika schistosomiasis tidak bisa diobati.

Pewarta :
Editor : Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.