Warga Morowali: kapan kami keluar dari keterisolasian pascabanjir (vidio)

id Morowali,Bahodopi,trans sulawesi,BPJN XIV,IMIP,banjir bandang

Warga Morowali: kapan kami keluar dari keterisolasian pascabanjir (vidio)

Kondisi Jembatan Bahoyuno Wosu yang sudah mulai dilintasi kendaraan setelah dipasangi gelagar batang kelapa, namun tetap dijaga petugas agar kendaraan yang melintas tidak membuat lebih dari 3 ton. (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Beny Birmansyah: Insya Allah dalam empat hari ke depan, semua jembatan yang rusak sudah fungsional lagi
Moroali (ANTARA) - "Sudah habis gas (elpiji-red). Benar-benar terisolasi, jembatan menuju Pasar Bahodopi putus. Pemerintah Morowali, tolong beri kami jalan keluar."

Begitu kalimat seorang warga Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, di akun facebook dengan nama Novita, Senin (10/6).

Ia mengaku risau, karena istri anggota Polri yang bertugas di Polsek Bahodopi tersebut harus keluar dari kota kecil yang kaya tambang nikel itu untuk membawa anak-anaknya kembali ke Beteleme, Kabupaten Morowali Utara, tempat tinggal tetap mereka, untuk kembali ke sekolah usai liburan Idul Fitri 1440 H.

Tetapi apa daya, rencana itu tertunda karena pada Sabtu (8/6) tiga jembatan yang menghubungkan kota nikel Bahodopi tersebut dengan Bungku, Ibu Kota Kabupaten Morowali, rusak berat dihantam banjir.

Bahkan Jembatan Dampala, hanya sekitar 15 kilometer dari Bahodopi, hanyut total akibat banjir bandang ang membawa material berupa batang-batang kayu besar dan pepohonan.

Putusnya jembatan tersebut melengkapi keterisolasian hubungan darat Kecamatan Bahodopi dengan dunia luar, sebab sepekan sebelumnya, jalan trans Sulawesi menuju Kendari, Ibu Kota Provinsi Sultra juga terputus karena banjir bandang di Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Utara, Sultra.

Kekhawatiran Opi, panggilan akrab Novita menjadi lebih besar karena dampak keterisolasian itu, karena ketersediaan bahan-bahan pokok menjadi berkurang, seperti elpiji dan bahan bakar premium yang mengakibatkan harga-harganya melonjak.

Kegelisahan bertambah lagi setelah pada Minggu (9/6), jembatan Bahodopi yang harus dilintasi menuju pasar Bahodopi, pusat perbelanjaan masyarakat setempat, ikut-ikutan putus.

Akibatnya beredar informasi bahwa harga telur ayam naik dari Rp3.000 menjadi Rp10.000/butir, elpiji 3kg melonjak dari Rp45.000 menjadi Rp150.000/tabung dan bensin eceran naik dari Rp10.000 menjadi Rp50.000/botol.
Pemandangan di Jembatan Dampala, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulteng yang ambruk dihantam banjir bandang pada Sabtu (8/6). Di lokasi ini karyawan PT IMIP hilang saat berusaha menyeberang untuk menengok keluarganya, Senin (10/6) pagi. (ANTARANEWS/ROLEX MALAHA)

Obyek vital nasional
Di Bahodopi sendiri dimana terdapat obyek vital nasional yakni kawasan industri pertambangan nikel yang dikelola PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), belum memiliki stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).

Bupati Morowali Drs H Taslim sendiri mengaku menerima laporan kenaikan harga-harga sembako tersebut sehingga segera mengkoordinasikan dengan Polres Morowali untuk melakukan razia jangan sampai ada yang melakukan spekulasi menimbun barang dan menjualnya dengan harga tidak wajar.

"Saya sudah perintahkan Kapolsek Bahodopi agar melakukan razia di pasar dan meminta pedagang tidak menaikkan harga seenaknya. Alhamdulillah, harga bensin saat ini sudah turun menjadi Rp20.000/botol," kata Kapolres Morowali AKBP Dadan.

Ribuan tabung elpiji dan puluhan jerigen bensin sedang diangkut ke Bahodopi lewat laut untuk menjaga stabilitas persediaan dan harga.

Menurut Taslim, bisa dipahami kalau keterisolasian wilayah ini sangat riskan menimbulkan kerawanan di bidang pangan karena PT IMIP sendiri yang memiliki karyawan sekitar 32.000 orang, membutuhkan banyak sekali bahan makanan dan bahan pokok lainnya setiap hari.
Baca juga: Pemda Morowali terus normalisasi kenaikan harga bahan pokok di BahodopiBaca juga: Bupati Morowali: Penyebab banjir adalah curah hujan tinggi, bukan dampak tambang

Tidak hanya Novita yang akhirnya memboyong tiga anaknya keluar Bahodopi melalui jalur laut menggunakan perahu nelayan atau ketinting meski berisiko tinggi karena besarnya gelombang dan cuaca hujan yang terus turun.

Akan tetapi ada ribuan warga lainnya, baik yang ingin meninggalkan Bahodopi menuju berbagai kota ke arah Palu dan Makassar maupun ke arah Kendari, Sulawesi Tenggara, belum termasuk ribuan lainnya yang ingin masuk Bahodopi dari kedua arah tersebut setelah menikmati liburan Idul Fitri 1440 Hijriah.

Namun sampai Selasa (11/6) petang, keterisolasian wilayah tersebut belum juga teratasi karena dua Jembatan Dampala dan Jembatan Bahodopi belum juga bisa dilewati.

Warga akhirnya menggunakan armada perahu motor nelayan (warga menyebutnya ketinting) dari Bahodopi ke Bahomoteve untuk keluar dan masuk Bahodopi dari arah Kota Palu dan Makassar meski harus merogoh kocek Rp100.000 per orang dan Rp150.000 untuk sepeda motor.

Pemantauan di pantai Desa Bahomotefe Selasa siang, puluhan ketinting juga mengangkut berbagai jenis bahan pokok mulai dari beras, ayam potong, telur ayam, daging, ikan kering sampai bahan bakar jenis premium untuk dijual ke Bahodopi.
Kepala Satuan Kerja III Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Wilayah Sulteng, Beny Birmansyah. (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha).

Lima hari lagi
Terkait upaya membuka keterisolasian Bahodopi dan sejumlah desa di sekitarnya, Kepala Satuan Kerja III Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Sulteng Beny Birmansyah berharap isolasi Bahodopi bisa teratasi dalam lima hari ke depan.

Ia menjelaskan, ada tiga jembatan yang harus ditangani untuk membuka kembali arus lalu lintas di jalan trans Sulawesi wilayah Morowali yakni jembatan Bahoyuno, Kecamatan Bungku Barat, Jembatan Dampala dan Jembatan Bahodopi di Kecamatan Bahodopi, sedangkan jembatan Lalampu yang juga rusak masih bisa dilewati kendaraan sedang dan kecil.

Untuk jembatan Bahoyuno Wosu sudah fungsional setelah oprit jembatan yang hanyut dibawa banjir dipasangi jembatan rangka besi (bailey).

Baca juga: Kerugian infrastruktur akibat banjir Morowali capai ratusan miliar rupiah
Baca juga: Nelayan Bahodopi tuai rezeki dari taksi laut
Baca juga: Salah satu karyawan PT IMIP Bahodopi hilang terseret banjir Sungai Dampala


Sementara Jembatan Dampala akan dipasangi pula jembatan bailey, namun butuh waktu beberapa hari karena jalur jalan akan dialihkan ke jalan desa untuk memasang jembatan bailey dengan bentangan 30 meter. Hari Selasa ini, jembatan rangka baja dan material lainnya sudah terkumpul di lokasi dan siap dipasang.

"Kami tidak bisa memasang jembatan bailey pada lokasi jembatan Dampala yang hanyut karena bentangannya terlalu panjang, yakni mencapai 100 meter," ujar Beny.

Sedangkan jembatan Bahodopi, Beny belum bisa memberikan alternatif penanganan karena hingga saat ini timnya belum bisa mendatangi lokasi untuk melihat dri dekat kondisi kerusakan karena keterbatasan sarana angkutan.

Namun demikian ia optimistis dalam tempo lima hari ke depan, semua jembatan yang rusak saat ini akan kembali fungsional walaupun akan ada pembatasan tonase kendaraan yang melewati jembatan darurat.

"Kami akan batasi maksimal kendaraan dengan muatan lima ton yang bisa lewat. Kendaraan dengan muatan melebihi lima ton, harus membongkar dulu sebagian muatannya baru bisa lewat," ujarnya.

Pembatasan ini diakuinya akan menimbulkan masalah bagi sebagian pihak karena jalur trans Sulawesi di Morowali kini sangat ramai dilintasi kendaraan besar dengan muatan puluhan ton mengangkut berbagai jenis barang ke Bahodopi, yang sedang berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah.
 



 
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar