Palu, 10/3 (antarasulteng.com) - Burung maleo atau macrocephalon maleo merupakan burung dilindungi dan endemik karena hanya dijumpa di Pulau Sulawesi.
Burung ini bisa ditemukan di hutan pegunungan dan hutan pantai di beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah, salah satunya di kawasan Taman Nasional Lore-Lindu (TNLL).
TNLL terletak di dua kabupaten yaitu sebagian masuk wilayah Poso dan sebagian lagi di Kabupaten Sigi. Di Taman Nasional yang menjadi paru-paru dunia tersebut hidup dan berkembangbiak sejumlah satwa endemik Sulawesi, termasuk burung maleo.
Satwa ini sangat mirip dengan ayam. Di kepalanya terdapat jambul dan sulit dibedakan antara jantan dan betina. Daya tarik burung maleo bukan pada bentuk atau bulu-bulunya, tetapi justru telurnya yang sangat unik karena cukup besar.
Jika dibandingkan dengan telur ayam ras, telur burung maleo bisa sampai lima kali lebih besar.
Karena keunikan itu, banyak orang yang ingin memburunya. Selain manusia, juga banyak predator seperti ular dan biawak yang menjadi musuh besar burung yang sangat dilindungi ini.
Agar tidak mudah diburu orang dan predaktor lainnya, burung maleo ketika bertelur menggali lubang hingga sedalam sekitar setengah meter.
Selain menggali lubang hingga sejauh itu, burung yang terbilang cukup pandai melindungi telurnya ini juga membuat beberapa lubang untuk kamuflase.
"Dari beberapa lumbang yang digalinya, hanya ada satu lubang yang menjadi lokasi bertelur dan menetas burung maleo," kata Herman Sasia, salah seorang petugas Balai Taman Nasional Lore-Lindu (BBTNLL).
Mengapa telur burung maleo sangat diburu orang?. Karena telurnya memiliki nilai ekonomis cukup tinggi melebihi telur ayam dan itik.
Satu butir telur maleo bisa dijual di pasar gelap hingga mencapai Rp50.000,00 sementara telur ayam ras di pasar-pasar tradisional di Kota Palu hanya Rp1.000,00 sampai Rp1.300,00 per butir.
"Ini yang menarik banyak orang memburu telur burung maleo, sebab harga cukup menggiurkan jika dijual di pasar-pasar gelap," kata Herman.
Meski masih banyak orang yang memburu telur maleo, tetapi sesungguhnya perburuan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Namun demikian, jika perburuan terhadap telur maleo dan satwa-satwa endemik lainnya terus berlangsung dan tidak ada upaya dari pemerintah untuk melestarikannya, maka tidak menutup kemungkinan keberadaan maleo akan punah.
Penangkaran
Guna melestarikan burung maleo di Sulawesi Tengah, khususnya di kawasan Taman Nasional Lore-Lindu, maka sejak beberapa tahun lalu pihak Balai Besar TNLL membuat penangkaran burung maleo.
Herman mengatakan burung maleo sebenarnya dapat bertelur dua kali dalam sebulan tetapi setiap bertelur, hanya satu telur yang dihasilkan.
Maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang yang berpasir dan dekat dengan sumber air panas.
Kalau tidak ada sumber air panas di lokasi itu, maka burung maleo tidak akan mungkin membuat lumbang untuk bertelur dan berkembangbiak di sana.
"Jadi, burung maleo bertelur biasanya di pasir dan dekat dengan sumber air panas," katanya.
Dari hasil riset The Nature Conservancy, sebuah LSM internasional yang bergerak dalam konservasi lingkungan, kata Herman, dari sepuluh habitat burung maleo di Taman Nasional Lore Lindu, kini hanya tinggal empat habitat saja yang didiami burung besar ini sisanya telah rusak dan punah.
Penyebab utama berkurangnya habitat burung maleo di kawasan Taman Nasional Lore-Lindu selain predaktor, juga ulah manusia yang tak bertanggung jawab membuka lahan kebun untuk kepentingan pribadi.
Dari empat habitat burung maleo yang ada di kawasan taman nasional itu, salah satunya berada di wilayah Desa Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.
Desa Saluki teletak pada jalur utama Palu-Kulawi. Untuk mencapai desa itu, dapat ditempuh dengan menggunakan mobil atau sepeda motor selama 1,5 jam dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng.
Sementara Kepala BBTNLL Harijoko Setio Prasetyo secara terpisah membenarkan ada beberapa satwa endemik Sulawesi yang hidup dan berkembangbiak di dalam kawasan taman nasional kini semakin terancam punah karena perburuan dan predator.
Dekat habitat
Harijoko mengatakan guna mengantisipasi agar jangan sampai burung maleo yang kini menjadi maskot pemerintah Sulteng itu punah, maka beberapa tahun lalu dilakukan sistem penangkaran.
Lokasi penangkaran maleo terletak sekitar empat kilometer dari Desa Saluki atau Tuva di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, dekat dengan habitat aslinya.
Karena jika tidak dekat dengan habitat aslinya, maka tentu akan sulit bagi burung maleo untuk bertelur dan berkembangbiak sesuai dengan keberadaannya.
Di lokasi dibangun sembilan kandang penangkaran. Telur burung maleo disimpan di dalam lubang tanah yang berpasir dalam kandang berukurang sekitar 3x5 meter persegi.
Dalam jangka waktu 76-90 hari telur akan menetas sendiri.
Diprediksi tingkat populasi maleo yang hidup dan berkembang biak di Taman Nasional Lore-Lindu (TNLL) sekarang ini sekitar 800 ekor.
Burung Maleo hanya bertelur satu buah selama dua minggu. Setelah telur ditetaskan dalam lubang yang berukuran 30 cm tersebut, anak maleo selanjutnya dipindahkan ke tempat penangkaran.
Setelah anak meleo genap berumur tiga bulan, ia dilepas ke alam bebas dalam kawasan taman nasional itu.
Setiap bulan penangkaran ini menghasilkan 50 telur yang ditetaskan.
"Kita berharap dengan sistem penangkaran dapat meningkatkan kembali populasi maleo ," ujarnya.
Kawasan Saluki di Taman Nasional Lore Lindu ini merupakan salah satu tempat penangkaran burung maleo yang bisa dijadikan model bagi penyelamatan burung langka tersebut.
Sebagai maskot Sulawesi Tengah, semua pihak diajak menjaga habitat burung ini agar tetap berkembangbiak dengan bebas dan jauh dari gangguan.
"Hentikan segera perburuan terhadap satwa-satwa endemik agar populasinya semakin meningkat guna kepentingan anak cucu kita," pinta Harijoko. (BK03)
