Warga terdampak tsunami Donggala bersedia direlokasi secara mandiri

id ARKOM,Penyintas Donggala,Tompe Sirenja,Relokasi Mandiri,Huntap,relokasi korban donggala,relokasi korban tsunami sulteng

Warga terdampak tsunami Donggala  bersedia direlokasi secara mandiri

Warga terdampak tsunami 28 September 2018 atau penyintas Desa Tompe Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah menyediakan dan mengukur lahan untuk persiapan pembangunan huntap dalam skema relokasi mandiri yang di dampingi oleh ARKOM Indonesia, Sulteng. (ANTARA/HO/ARKOM Indonesia, Sulteng)

Palu (ANTARA) - Warga terdampak tsunami atau penyintas di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, bersedia dipindahkan ke lokasi relokasi dengan skema relokasi mandiri.

"Iya, warga setuju. Karena skema relokasi ini terintegrasi dengan pekerjaan warga, atau tidak terpisah dengan pekerjaannya," ucap Community Organaizer ARKOM Indonesia, Sulawesi Tengah, Alfredo di Palu, Jumat.

Edo sapaan akrab Alfredo mengemukakan warga yang nantinya akan direlokasi secara mandiri dalam bentuk kelompok adalah nelayan. Mereka yang merupakan warga terdampak tsunami 28 September 2018, sebut dia berjumlah 17 kelompok.

"Karena mereka adalah nelayan dari Dusun Tiga Desa Tompe, maka relokasi tidak jauh dari laut. Namun di tempat yang aman. Jarak lokasi dengan laut 400 meter," katanya.

Nelayan berjumlah 17 kelompok atau kepala keluarga tersebut, akan direlokasi ke lokasi relokasi seluas kurang lebih 2.500 meter persegi. Di lokasi itu, Edo menerangkan akan dibangun hunian tetap tipe 36 dengan luas lahan masing-masing hunian tetap (huntap) 8 x 10 meter persegi menggunakan skema stimulan.

"Lahan itu disediakan oleh warga, lalu ARKOM yang mengurusi legal formalnya," ucap dia.

Direncanakan, akhir Februari 2020 akan dimulai pembangunan hunian tetap, model rumah panggung. Dalam proses pembangunan, kata Edo warga terlibat langsung membangun rumah masing-masing.

Sebelumnya, urai dia warga penyintas 17 keluarga itu telah dilatih di bengkel rumah instan sederhana sehat (Risha).

"Disitu warga dilatih bagaimana membangun rumah tahan gempa, pembesian, pengecoran dan pemasangan panel Risha," ungkapnya.

Selain melakukan pendampingan skema relokasi mandiri dalam bentuk kelompok, ARKOM Indonesia, Sulawesi Tengah juga sedang melakukan perekrutan penyintas yang akan direlokasi mandiri dalam bentuk individual di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja.

ARKOM, sebut Edo merencanakan akan merelokasi mandiri ekssitu individu berjumlah 24 keluarga di Desa Tompe.

"Saat ini masih dalam tahap rektur, rencana 24 keluarga. Terdiri dari 21 keluarga dari dusun 1, satu keluarga dari dusun dua, dan dua keluarga dari dusun tiga," ungkapnya.

Mereka, kata dia mata pencahariannya sebagai nelayan, pedagang dan petani. Lokasi lahan relokasi penyintas tersebut, urai dia disediakan oleh penyintas. Jarak lokasi dengan laut kurang lebih 1 kilo meter.
Warga terdampak tsunami 28 September 2018 atau penyintas Desa Tompe Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah dilatih melakukan pembesian oleh ARKOM Indonesia, Sulteng, sebelum mereka terlibat langsung membangun hunian tetap tahan gempa, dalam skema relokasi mandiri. (ANTARA/HO/ARKOM Indonesia, Sulteng)
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar