Resi Gudang Bantu Angkat Harga Rumput Laut

id rumput, laut

Resi Gudang Bantu Angkat Harga Rumput Laut

Seorang pembudidaya menjemur rumput laut (ANTARA)

Dengan sistem ini, pembudi daya rumput laut menerima harga rata-rata Rp10.000,00 per kilogram."

Palu (antarasulteng) - Sulawesi Tengah dinilai sudah saatnya menerapkan sistem resi gudang untuk membantu nelayan pembudi daya rumput laut mengangkat harga jual komiditas tersebut yang terlalu rendah akibat permainan para tengkulak.

"Sistem resi gudang cocok untuk diterapkan di Sulteng. Kami siap masuk ke sini kalau infrastruktur mendukung agar nelayan rumput laut tetap bergairah mengembangkan komoditas ini," kata Ketua Asosiasi Nelayan dan Pengusaha Rumput Laut Nasional Arman Arfa di Palu, Jumat.

Di sela-sela Temu Bisnis Komoditas Industrialisasi Perikanan di Hotel Santika Palu, Arman mengemukakan bahwa sistem resi gudang sudah mulai diterapkan di Sulawesi Selatan dan hal itu sangat membantu nelayan pembudidaya karena memberikan jaminan kepada mereka untuk mendapatkan harga yang layak.

"Dengan sistem ini, pembudi daya rumput laut menerima harga rata-rata Rp10.000,00 per kilogram, karena pada saat harga sedang jatuh, nelayan menyimpannya di gudang kami, dan mereka menerima harga sebesar 70 persen dari harga yang disepakati," ujar Arman yang juga Ketua Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Kospermindo) Makassar yang mengelola gudang untuk rumput laut tersebut.

Menurut dia, Sulteng yang kini menjadi produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan produksi 900.000 ton per tahun itu, sudah waktunya menerapkan sistem resi gudang tersebut dan pihaknya siap masuk Sulteng menjadi pengelola bila infrastruktur mendukung.

"Kendala yang mungkin masih dihadapi dalam pengelolaan sistem ini adalah terkait standarisasi mutu produksi, namun hal itu bisa diatasi dengan penyuluhan yang intensif kepada nelayan," ujarnya.

Sistem ini, kata Arman, tidak hanya bermanfaat saat harga rumput laut jatuh, tetapi juga saat harga rumput laut tinggi untuk memberikan akses permodalan bagi nelayan untuk mengembangkan usaha budidayanya.

Arman mengaku prihatin dengan keluhan para nelayan rumput laut Sulteng soal harga jual yang terlalu rendah yakni hanya sekitar Rp7000-an/kg padahal di Makassar mencapai Rp10.000,00/kg akibat permainan tengkulak.

"Gap-nya itu terlalu jauh dan kalau masalah ini tidak diatasi maka minat nelayan membudidayakan rumput laut akan hilang dan posisi Sulteng sebagai produsen rumput laut terbesar di Indoensia dewasa ini akan jatuh kembali," ujarnya.

Padahal, katanya, permintaan rumput laut di pasar internasional dewasa ini cukup tinggi dan harganya juga menarik.

Sistem resi gudang untuk komoditas rumput laut ini sudah mulai diterapkan di Makassar beberapa bulan terakhir volume rumput laut yang ditampung gudang milik Kosperindo tersebut mencapai 100 ton lebih. (R007)

Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.