Kisah penyedia makanan tradisional siap saji Kota Palu

id hasanuddin atjo

Kisah penyedia makanan tradisional siap saji Kota Palu

Penjual makanan siap saji traisional Palu di Jalan Basuki Rahmat Palu. (ANTARA/HO-Dokumen pribadi HA)

kejujuran dan rasa empati dari penyedia makanan maupun pemodal, menjadi kunci sukses berlangsungnya kemitraan yang berkelanjutan.
Palu (ANTARA) - RABU sore, 20 Mei 2020 setelah mengantar istri menyerahkan zakat fitrah di salah satu panti asuhan di Kota Palu, istri meminta kendaraan dihentikan di depan penyedia makanan siap saji di seputaran hotel Best Westerm Coco, Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu. 

Istri pun turun berbelanja beberapa makanan siap saji seperti sayur dan ikan yang di masak secara tradisional, khas Palu, untuk melengkapi kebutuhan berbuka puasa di hari itu.  

Dari dalam dalam mobil saya melihat hanya ada dua orang berbelanja termasuk istri di hadapan enam orang penyedia makanan siap saji. Saya kemudian tertarik ingin tau bagaimana sebenarnya model dan prospek bisnis makanan tradisional siap saji.

Rasa ingin tau ini sudah lama ada karena hampir setiap hari melintasi jalur ini, dan disiang hari sangat ramai orang bertransaksi. Aktifitas seperti di Jalan Basuki Rahmat, juga terlihat di beberapa jalan utama di Kota Palu. 

Dorongan rasa ingin tau yang besar dan sedikit penasaran, memaksa saya keluar dari dalam mobil, kemudian menghampiri salah satu penyedia kue tradisional.  Sengaja saya membeli beberapa jenis kue tradisional sebagai etika dan bisa kenal lebih dekat, mengingat untuk pertama kalinya saya mampir di tempat seperti ini. 

Di awal wawancara ada keraguan dari enam penyedia makanan itu, mungkin mereka  menganggap saya orang asing karena belum pernah mereka lihat. Tentunya ini merupakan sesuatu yang wajar. Setelah dijelaskan bahwa saya dari pemerintah dan suka mengamati dan menulis terkait masalah sosial dan ekonomi, baru mereka agak lepas, lugas dan terkesan jujur, tidak ditutupi dalam memberikan keterangan. 

Baca juga: Ibu Tabah, tetap tegar di usia lanjut

Paling senior di antara mereka adalah Hajjah Arfiah yang sehari harinya menjadi penyedia sayur dan ikan siap saji yang dimasak secara tradisional khas Palu. Dari jasa menjual makanan, ternyata bunda Arfiah menurut informasi teman-temanya, bisa menunaikan ibadah haji. 

Kemudian dalam hati saya berkata, wah bisnis ini cukup prospek dan menjanjikan. 

Saya tambah penasaran dan ingin tahu lebih dalam dari bisnis ini dan kemudian bertanya, mohon maaf ibu-ibu, saya boleh tau berapa besar pendapatan per bulannya dari bisnis ini?. 

Secara kompak bunda Arwani dan bunda Hendarti menjawab bahwa kami hanya makan gaji dari pemodal bisnis ini. Pemodal ini yang punya rumah sambil balik badan menunjuk rumah, dan kami mesti menjual di depan rumah ini pada waktu siang hari saja dari jam 10.00 sampai jam 14.00 Wita, kecuali di bulan Puasa Ramadhan menjual setelah waktu lohor sampai jelang berbuka. 

Mohon maaf berapa gajinya ibu-ibu dalam sebulan?. Dan dengan tanpa rasa malu mereka menjawab hanya sedikit pak, sekitar 500 ribu rupiah per bulan. Saya tambah penasaran bagaimana bisa dengan gaji seperti itu dapat membiayai hidupnya dan keluarganya, bahkan ada yang bisa menunaikan ibadah haji.  

Saya bertanya kembali bagaimana kalau jualan tidak habis dalam sehari?. Dan mereka menjawab kerugian akan ditanggung pemilik modal dan kami diperkenankan membagi dan bawa pulang. Kami hanya diberi modal dan kami memasaknya di rumah masing-masing.  

Baca juga: COVID-19 sebagai motivasi dan referensi re-disain tatakelola (I)
Baca juga: COVID-19, sebagai motivasi dan referensi re-disain tatakelola (II-habis)
 
Kepala Bappeda Sulteng Dr Ir H Hasanuddin Atjo, MP (ANTARA/HO-Dokumen pribadi HA)


Saya bertanya lebih jauh apakah ibu-ibu tidak ingin mandiri. Mereka secara serentak menjawab bahwa mau sekali pak. Hanya saja kita tidak ada modal dan tempat. Ada juga beberapa teman kami yang sudah mandiri, tetapi ada juga yang terpaksa diputuskan kemitraannya karena masalah kejujuran. 

Saya mengangguk-anggukan kepala memperhatian jawaban mereka. 

Karena belum ramai orang yang bertransaksi, saya memanfaatkan untuk bertanya lebih jauh. Apakah ibu-ibu tidak menjadi tenaga kerja membersihkan lingkungan melalui program padat karya Pemerintah Kota Palu. Dan gajinya lumayan kan sekitar 600 ribuan per bulan?. Dengan tegas mereka menjawab tidak pak, cukup kami bekerja di sini, supaya ada kesempatan bagi teman-teman lain yang belum punya pekerjaan. Oh bagus bu, kata saya sambil memberikan tanda jempol ke mereka, dan kemudian saya bermohon pamit ke mereka, karena sang istri sudah cukup lama menunggu di dalam mobil dan beberapa orang  mulai singgah untuk bertransaksi.

Dari dialog yang terbatas ini, ada beberapa pesan moral yang bisa diungkap. Pertama  keberadaan pemodal dalam bisnis ini juga penting. Ada 'win win solution' yang tercipta dari kemitraan ini, sehingga ada yang bisa mendapat pekerjaan, ada yang bisa mandiri, namun ada yang harus diberhentikan dari kemitraan bisnis ini karena masalah attitude/karakter.  

Model kemitraan seperti ini juga dikenal pada usaha perikanan tangkap yaitu dalam bagi hasil, pemodal mendapat satu bagian, pemilik kapal satu bagian dan anak buah kapal, ABK. satu bagian. Dalam praktikya, ada ABK yang kemudian juga menjadi pemodal dan pemikik kapal. 

Kedua, kejujuran dan rasa empati dari penyedia makanan maupun pemodal, menjadi kunci sukses berlangsungnya kemitraan yang berkelanjutan. Bisnis ini tidak ada takaran yang pas untuk bisa diukur, karena sifatnya lebih kepada nilai kualitatif daripada nilai kuantitatif. 

Baca juga: Melahirkan generasi yang bukan 'kaleng-kaleng'
Baca juga: Memutus mata rantai kemiskinan
Dr Ir H Hasanuddin Atjo, MP, Ketua Ispikani Sulteng dan Ketua SCI Sulawesi. (ANTARA/HO-Dokumen pribadi)

Di era digitalisasi dan industri 4.0 seperti ini, ternyata model bisnis tradisional seperti ini masih bisa bertahan karena sebuah tatanan nilai-nilai positif yang terus dijaga. Selain itu sifat tidak serakah dari penyedia makanan untuk tidak terlibat bekerja dari program padat karya patut dicontoh dan ditumbuhkembangkan. 

Ketiga, konsep merdeka belajar Menteri Pendidikan RI Nadiem Makarim bisa diterjemahkan bagaimana kreatifitas, kapasitas siswa SMK, mahasiswa diploma tiga atau strata satu dibangun, dengan memberi tugas melakukan pemetaan dan analisis dari bisnis tradisional yang masih bertahan di era distrupsi saat ini. 

Dan mereka bisa mendiskusikan serta memberi rekomendasi model integrasi seperti apa agar bisnis tradisional bisa eksis di era digitalusasi ini. 

Keempat, menjadi bahan dan referensi bagi kabupaten/kota dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan ketimpangan yang masih bersoal melalui program peberdayaan masyarakat.  

Ini adalah sebuah budaya tradisional yang masih bisa dilanjutkan, namun unsur-unsur peradaban baru sudah harus dimasukan. Misalnya nanti menggunakan pembayaran nontunai yang sudah masif dipakai di sejumlah negara untuk transaksi di usaha kuliner kaki lima.  Masih banyak pesan moral yang belum sempat diungkap.  

Kisah ini memberi motivasi dan semangat bagi kita untuk tidak kecewa. Apalagi di saat pandemi COVID-19 banyak terjadi pemutusan hubungan kerja yang semakin meningkatkan angka kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan. 

Selamat dan sukses melaksanakan ibadah di bulan puasa ramadhan 1441 H, mohon maaf lahir bathin. (*Kepala Bappeda Sulteng)

Baca juga: OPINI - Desa cerdas, solusi keluar dari ketertinggalan
 
Dr Ir H Hasanuddin Atjo, MP (ANTARA/HO-Dokumen pribadi)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar