Palu - Iklim investasi perkebunan sawit di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, dipastikan membaik karena daerah ini didukung oleh iklim dan kondisi sosial yang baik.
"Iklimnya sangat cocok untuk perkebunan sawit karena curah hujan di atas rata-rata yakni 2000-3000 milimeter bahkan bisa mencapai 3600 milimeter per tahun," kata Konsultan Perkebunan Sawit PT. Satrya Bangun Persada Ajab Kosmara, di Palu, Rabu.
Ajab Kosmara adalah salah seorang dari 12 konsultan yang digunakan PT. Satya Bangun Persada untuk rencana perkebunan sawit seluas 20 ribu hektare di Kabupaten Tolitoli.
Ajab dan rekan sudah 20 hari melakukan survei lapangan terhadap rencana lanjutan perkebunan sawit di daerah itu.
"Hasil survey lapangan cukup bagus. Semua sisi mendukung perkebunan sawit di sana (Tolitoli), baik itu iklim, sosial, infrastruktur, demografi, maupun geografisnya," kata Ajab.
Dia mengatakan, dalam survei dan pemetaan rencana perkebunan sawit di Tolitoli para konsultan harus independen sehingga menyampaikan kondisi yang sesungguhnya di lapangan. Sebab jika ada sesuatu yang disembunyikan, tim konsultan bisa dituntut oleh perusahaan.
Dari sisi kesiapan petani, kata Ajab, perlu sosialisasi yang lebih intens karena perkebunan ini merupakan perkebunan skala besar yang dikelola dalam satu manajemen perusahaan. Sementara kondisi masyarakat di Tolitoli belum pernah bekerja sama dengan perusahaan dalam industri perkebunan sawit.
"Tetapi dari dukungan pemerintah daerah cukup baik. Camat, misalnya, sangat merespons dan meminta bagaimana caranya agar ekonomi masyarakatnya bisa maju melalui sektor perkebunan," kata Ajib.
Ajib mengatakan, untuk membangun perkebunan dalam skala besar butuh tahapan. Itu pun dari 20 ribu hektare belum seluruhnya bisa menjadi lahan perkebunan karena sebagian lahan akan dijadikan lokasi pembangunan pabrik, tingkat kemiringan jalan dan infrastruktur lainnya.
"Banyak hal yang menjadi kajian itu mulai dari kesesuaian lahan, pengelolaan pengairan, kesesuaian iklim dan sosial. Salah satunya saja tidak mendukung, tidak bisa jalan," katanya.
Sementara itu, Direktur PT. Satrya Bangun Persada, Tjabani mengatakan, saat ini perkebunan sawit yang tersebar di tiga kecamatan di Tolitoli sudah tahap pemindahan bibit ke polibag besar.
"Kita menunggu tiga bulan lagi baru penanaman perdana. Ini sesuai sertifikasi dari perusahaan bibit," katanya.
Dia mengatakan, bibit sawit adalah bibit unggul Tenera. Keunggulan bibit ini buahnya lebih besar dengan tempurungnya kecil dan bersertifikat.
"Harapan kami semua pihak bisa memberikan dukungan atas rencana perkebunan ini. Ini adalah investasi untuk daerah, masyarakat dan perusahaan," katanya. (A055)
