Mari mengenal PT IMIP di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah

id IMIP

Mari mengenal PT IMIP di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah

Produk baja siap ekspor hasil pengolahan di kawasan Industri PT IMIP di Kabupaten Morowali, Sulteng. Foto ANTARA/Andika kangen.

Morowali, Sulteng (ANTARA) - Tidak banyak masyarakat yang mengenal apa itu PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) yang ada di Desa Futufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. 

Sebagian besar masyarakat lebih mengenal PT IMIP adalah sebuah kawasan pertambangan nikel yang investornya dari Negara China tersebut. 

Belum lama ini para awak media
yang sebagian besar para pimpred dan pemilik media diajak oleh pihak manajemen PT IMIP untuk melihat secara langsung proses pengolahan nikel hingga menjadi bahan baku baja hjngga baterai, yang artinya kawasan PT IMIP merupakan kawasan industri nikel bukan pertambangan nikel yang selama ini banyak masyarakat salah paham. 
Kawasan Industri PT IMIP di Kabupaten Morowali, Sulteng, yang mengolah biji nikel menjadi baja siap ekspor. Foto ANTARA/Andilala

Begitu para pimpred dan pimpinan media, mulai dari Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sulteng, Kepsta RRI Palu, Kepsta TVRI Sulteng, Kabar Celebes, Nunsa Pos, Kabar Luwuk dan sejumlah media online lainnya tiba dari perjalanan menggunakan maskapai penerbangan dari Palu ke Morowali dengan perjalanan satu jam dan tiga jam menggunakan jalan darat. 

Barulah kami, para awak media disambut dengan ramah oleh para manajemen dan staf dari PT IMIP. 

Setelah itu, kami diajak keliling di kawasan produksi atau pengolahan nikel dari berbagai anak perusahaan PT IMIP yang masing-masing mengolah bahan mentah tanah yang mengandung biji nikel hingga menjadi bahan setengah jadi atau lempengan baja berbagai ukuran dengan panjang ratusan meter dengan dikemas menjadi gulungan bulat atau siap untuk di ekspor. 
Ruang kontrol PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) yang berfungsi mengawasi aktivitas  pengolahan nikel di kawasan PT IMIP di Kabupaten Morowali, Sulteng. Foto ANTARA/Andilala.


Sebelum diajak berkeliling, rombongan media sekitar 13 orang diberikan alat pelindung diri berupa helm, rompi dan sepatu.

Ruang kontrol PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) menjadj tujuan pertama rombongan media tersebut. Kemudian di ruang itu, rombongan media diajak melihat operator pengolahan ore nikel menjadi baja hitam anti karat.

Operator di ruang itu terdiri dari pekerja perempuan. Mereka tampak duduk di depan monitor berukuran 11 inci sembari memegang handy talky dan mecatat berbagai aktivitas di kawasan industri nikel terbesar di Indonesia, bahkan di dunia tersebut. 
 
Para awak media
yang sebagian besar para pimpred dan pemilik media saat melakukan media visit di kawasan industri nikel PT IMIP, di Kabupaten Morowali, Sulteng. Foto ANTARA/Andilala.


Dari pantauan kami di lapangan beberapa pekerja tampak menggunakan huruf Hanzi alias Mandarin pada catatannya saat menjalankan tugas rutin mereka tersebut. 

Menariknya, sekitar 90 persen pekerja di ruang opeator merupakan warga Indonesia itu bukan dari lulusan teknik atau pertambangan malah dari jurusan kesehatan. 

Kepala Divisi Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan mengatakan, bahwa beberapa pekerja di ruang operator tersebut bahkan dari jurusan kesehatan.

"Kami rekrut mereka kemudian latih karena memang sulit cari personel untuk operator," ujarnya. 

 
Kawasan Industri PT IMIP di Kabupaten Morowali, Sulteng, yang mengolah biji nikel menjadi baja siap ekspor. Foto ANTARA/Andilala


Rombongan awak media kemudian diajak keliling ke pabrik pembuatan hot roll coil atau baja gulung hitam, yang diolah atau dibuat di pabrik PT Indonesia Guang Ching Nickel (GCNS).

Pabrik tersebut menggunakan pembakaran tenaga listrik bersuhu 1.200 derajat celcius, sehingga 
panas sekitar mesin atau dampak dari pengolahan baja gulungan hitam itu hingga terasa di jalur rombongan media lewat, padahal jaraknya lumayan jauh yakni sekitar belasan meter. 

Kemudian kami diajak keliling lagi ke kawasan pabrik PT Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy (IRNC).
 
Kawasan Industri PT IMIP di Kabupaten Morowali, Sulteng, yang mengolah biji nikel menjadi baja siap ekspor. Foto ANTARA/Andilala


Di pabrik itu, baja yang tadinya hitam dibuat menjadi putih atau dikenal dengan istilah cold roll coil.

Semua baja yang terproduksi di kedua pabrik group PT ITSS itu dalam kondisi gulungan sebelum diangkut ke pelabuhan untuk kemudian dibawa ke China atau negara tujuan ekspor. 

Kemudian PT Huayue Nickel Cobalt (HYNC) menjadi pabrik terakhir dk kunjungi para awak media dari Kota Palu dan dari Kabupaten Banggai tersebut. PT HYNC merupakan pabrik pembuatan bahan baku baterai listrik di kawasan PT IMIP Morowali.

Dalam kesempatan itu, Kepala Devisi Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menyatakan, ada seluas 2.000 hektare lahan di kawasan industri nikel itu mengelola kawasan industri berbasis nikel yang terintegrasi dengan produk utama berupa nikel, stainless steel dan carbon steel. 

Industri pendukungnya mulai dari coal power plant, pabrik mangan, silikon, chrome, kapur, kokas, dan lainnya, hingga pelabuhan dan bandara.

"Perlu diketahui, PT IMIP ini bukan perusahaan tambang, tapi industri, sehingga bahan bakunya kami beli dari perusahaan lain kemudian diolah di sini," jelasnya. 

Dia menambabkan, bahwa kawasan Industri PT IMIP, merupakan kerja sama antara Bintang Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Steel Group dari China.