Film aksi fiksi "Anomaly" tayang perdana 25 Februari

id film anomaly,bali

Film aksi fiksi "Anomaly" tayang perdana 25 Februari

Potongan adegan dalam film aksi fiksi sains "Anomaly" garapan sutradara Brian L. Tan. (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan produksi Good Form Bali akan merilis film aksi fiksi sains "Anomaly" garapan sutradara Brian L. Tan pada 25 Februari.

Film ini bercerita tentang Alpha yang memimpin sebuah tim terdiri dari lima tentara elit. Mereka diturunkan ke beberapa reruntuhan kuno di tengah hutan dengan misi untuk mengamankan sebuah misteri anomali yang menunjukkan aktivitas paranormal aneh.

Proses pengambilan gambar film "Anomaly" dilakukan di Bali dengan penggabungan kru dari luar negeri dan Bali. "Anomaly" dibintangi oleh Salvita De Corte, Mike Lewis, Joseph J. U. Taylor, Quisha Saunders, dan John Walker Six.

Melalui film tersebut, Brian mengatakan dirinya ingin menjelajahi sisi pulau yang lebih gelap dan menyeramkan yang belum pernah ditangkap. Proses syuting di Sanur, menurutnya, menawarkan latar belakang unik yang tidak dapat diberikan oleh tempat lain di dunia.

"Bali adalah kanvas yang sangat unik untuk ‘Anomaly’. Hollywood hanya mengetahuinya sebagai tempat pesta, atau tempat spiritual," kata Brian melalui keterangan resmi, Rabu.



Brian sendiri dikenal dengan pengalaman menggarap visual effects untuk film-film blockbuster Hollywood seperti "Tron: Legacy", "X-Men", dan "Girl with the Dragon Tattoo".

Brian mengaku proses syuting "Anomaly" menantang sekaligus menyenangkan baginya. Menurutnya, film ini sangat sulit untuk dikerjakan, namun dirinya dengan senang hati akan melakukannya lagi mengingat bagaimana hasilnya.

Ia bercerita bahwa tim produksi menemukan berbagai tantangan, mulai dari menggunakan banyak senjata Airsoft mainan dari Jakarta, membangun seluruh portal yang tampak seperti dunia lain di tengah hutan, hingga bekerja selama 14 jam pada akhir pekan di tengah hutan.

“Belum pernah ada yang mencoba film aksi sebesar ini di Bali sebelumnya," tuturnya.

Sinematografer dan Produser Austin Ahlborg berpendapat bahwa bekerja di pulau dan budaya baru merupakan pengalaman unik dan menginspirasi.

"Kami syuting di beberapa lokasi hutan liar dengan kru campuran ekspatriat dan Bali yang membuatnya sangat beragam dan menarik," katanya.

Sementara Produser Eksekutif Patrick Tashadian menilai bahwa Indonesia punya potensi besar dalam industri film.

“Indonesia selama beberapa waktu telah memiliki banyak produksi internasional dan telah memberikan pengalaman yang tak terhapuskan di mana kita dapat belajar dan tumbuh dari dalam industri,"

Patrick berharap film pendek ini dapat diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar yang dapat memanfaatkan bakat-bakat lokal yang tersedia dikemas dengan arahan Brian dan fotografi Austin.

"Sebagai bukti konsep kami yakin bahwa kami mampu mengeksekusi film aksi internasional yang juga dapat beresonansi secara lokal,” pungkasnya.