Dewi Menyesal, tidak terdaftar program JKN sejak dulu

id JKN, kis, BPJS kesehatan, Rumondang Pakpahan, layanan JKN, palu, Sulteng

Dewi Menyesal, tidak terdaftar program JKN sejak dulu

Dewi, salah satu peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan mengaku puasa dengan layanan JKN. ANTARA/HO-BPJS Kesehatan Cabang Palu

Palu (ANTARA) - BPJS Kesehatan berkomitmen untuk mengoptimalkan pelayanan yang mudah, cepat, dan setara kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tidak hanya peda layanan di fasilitas kesehatan saja tetapi juga layanan administrasi di Kantor BPJS Kesehatan. 
 
Seperti halnya yang dirasakan oleh Dewi (27), seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah ini merasa sangat puas dengan pelayanan petugas BPJS Kesehatan saat mengunjungi Kantor BPJS Kesehatan Cabang Palu, Rabu (10/7).
 
"Ini adalah kunjungan kedua saya ke Kantor BPJS Kesehatan Palu. Pada kunjungan pertama, saya mengurus penonaktifan kepesertaan keponakan saya yang meninggal dunia. Pada saat itu, pelayanan yang saya terima sangat baik. Kali ini saya mengurus pendaftaran kepesertaan saya sendiri karena sebelumnya belum pernah terdaftar di BPJS Kesehatan. Saya mendaftar sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau biasa disebut peserta mandiri,” jelasnya.
 
Beberapa waktu yang lalu, Dewi mengalami infeksi di dalam lubang telinganya. Ia merasakan nyeri yang membuatnya sulit untuk beraktifitas dan sulit tidur di malam hari, pendengarannya juga terganggu dan munculnya cairan semacam nanah bercampur darah dari dalam telinganya. Karena gejala-gejala tersebut, Dewi akhirnya melakukan pemeriksaan di Puskesmas Kamonji. Takut kondisinya akan semakin parah dan biaya yang dikeluarkan akan semakin besar, keluarganya merekomendasikan agar ia segera mendaftar pada program JKN.
 
“Program JKN bukan sesuatu yang asing lagi bagi saya karena kerabat dan rekan-rekan saya rata-rata sudah terdaftar di BPJS Kesehatan. Saya sering mendengar bagaimana program JKN ini telah banyak membantu masyarakat. Di keluarga saya, kalau ada yang sakit pasti mengandalkan BPJS Kesehatan. Namun saya belum terdaftar karena terkendala di data kependudukan saya yang tidak sesuai. Saya cukup menyesal juga karena tidak langsung melakukan perbaikan sehingga sampai saat ini saya belum terdaftar dalam program JKN,” ungkapnya.
 
Dewi mengakui bahwa kepesertaan JKN ini sangat penting. Ia cukup menyesal tidak terdaftar sejak dulu. Setelah mengalami sakit barulah dirinya sadar bahwa memiliki jaminan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan mendasar masyarakat saat ini, karena biaya pelayanan kesehatan semakin mahal. 
 
"Proses pendaftarannya ternyata sangatlah cepat. Saya terkesan dengan sambutan dari satpam dan petugas BPJS Kesehatan. Mereka sangat ramah menerima peserta. Saya diberikan arahan yang jelas mengenai dokumen yang harus disiapkan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK), saya juga dipandu untuk mengunduh Aplikasi Mobile JKN," terang Dewi.
 
Ia mendapatkan penjelasan terkait fitur-fitur yang ada di aplikasi Mobile JKN. Andaikan ia tahu sejak awal, dirinya tidak perlu lagi datang ke Kantor BPJS Kesehatan, cukup melakukan pendaftaran pada aplikasi tersebut. 
 
Aplikasi Mobile JKN memudahkan proses pelayanan administrasi bagi peserta, berbagai fitur yang dapat diakses diantaranya, Info Program JKN, Info Lokasi Faskes, Info Riwayat Pelayanan, Rehab (Cicilan), Penambahan Peserta, Info Peserta, Pendaftaran Pelayanan, Konsultasi Dokter, Perubahan Data Peserta, Pengaduan Layanan JKN, Info Ketersediaan Tempat Tidur dan masih banyak lagi menu lainnya.
 
“Saya berharap BPJS Kesehatan dapat terus meningkatkan kualitas layanannya kepada peserta JKN, baik layanan administrasi maupun layanan di fasilitas Kesehatan serta memastikan keberlangsungan program JKN ini untuk jangka panjang. Terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sangatlah penting, karena sakit bisa datang secara tiba-tiba. Jadi jaminan Kesehatan harus disiapkan sejak awal, jangan sampai setelah terserang penyakit baru melakukan pendaftaran, seperti halnya yang saya alami. Akhirnya biaya pengobatan yang saya keluarkan cukup besar,” ujar Dewi menutup perbincangan. (tm/aq)