MUI: JCH jangan memaksakan cium hajar aswad

id mui,haji

MUI: JCH jangan memaksakan cium hajar aswad

Ketua MUI Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg ceramah pada acara keberangkatan haji Wakil Kapolres Donggala Kompol Abubakar Djafar, di Palu, Kamis. (Antaranews Sulteng/Muhammad Hajiji)

Sebaiknya tidak perlu memaksakan diri, bergegas-gegas atau cepat-cepat. Apalagi kondisi kesehatan dan fisik kurang memungkinkan untuk mencium hajar aswad
Palu,  (Antaranews Sulteng) - Majelis Ulama Indonesia Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengingatkan jamaah calon haji Tahun 2018 dari daerah itu agar tidak usah memaksakan diri untuk bisa mencium batu hitam (hajar aswad) saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.

"Sebaiknya tidak perlu memaksakan diri, bergegas-gegas atau cepat-cepat. Apalagi kondisi kesehatan dan fisik kurang memungkinkan untuk mencium hajar aswad," ucap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin, MAg, saat menyampaikan ceramah pada acara keberangkatan haji Wakil Kapolres Donggala Kompol Abubakar Djafar di Palu, Kamis.

Dalam ceramahnya,  Zainal Abidin  tidak melarang jamaah calon haji mencium hajar aswad saat melaksanakan ibadah mengelilingi kabah (tawaf) di Mekkah.

Namun, sebut dia, mencium atau tidak mencium hajar aswad tidak memberikan pengaruh terhadap sah atau tidak-nya ibadah haji yang dilakukan oleh seseorang saat tawaf.

Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu menyatakan mencium hajar aswad hukumnya sunnah. Artinya dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak mendapat dosa.

"Mencium hajar aswad itu tidak termasuk rukun dan syarat sah haji. Hukumnya sunnah. Oleh karena itu perlu memperhatikan faktor kesehatan dan kekuatan fisik," ujar rektor pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu.

Ia mengingatkan kepada jamaah calon haji agar menjaga kesehatan, mulai dari Tanah Air, sampai melaksanakan ibadah syarat dan rukun haji serta kembali ke daerah.

Hal itu karena, ibadah haji yang dilakukan oleh jamaah, membutuhkan kesehatan dan kekuatan fisik.

"Sebaiknya tidak memaksa diri untuk melaksanakan ibadah saat kesehatan kurang membaik," sebut Rois Syuriah Nahlatul Ulama Sulteng itu.

Selanjutnya ia mengingatkan kepada jamaah agar tidak memaksa diri beribadah saat cuaca kurang baik.

Tidak memaksakan diri beribadah, sebut dia, dimaksudkan hadir di masjid Madinah atau Masjid Haram di Mekkah karena mengejar pahala yang berlipat ganda, jika di banding di luar kedua masjid tersebut.

"Misalkan saat cuaca dingin, bahkan sangat dingin, maka jangan memaksa diri untuk beribadah. Jamaah harus bisa menjaga kesehatan fisik dan melihat faktor cuaca di saat hendak ingin melaksanakan ibadah," kata Zainal Abidin menambahkan.

Lebih lanjut dia mengatakan hal-hal di atas, terlebih lagi jangan dipaksakan pada awal kedatangan. Karena waktu cukup lama bagi jamaah berada di Kota Mekkah sebelum hari arafah.
 
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar