Papersit bersihkan jembatan Belanda di Parimo

id Papersit, situs bersejarah, jembatan Belanda, Palasa, parimo

Kelompok Pemuda Pemerhati Situs (Papersit) jembatan Belanda Desa Palasa, Kecamatan Palasa, Parigi Moutong bersama siswa SMA negeri 1 Palasa membersihkan semak belukar disekitar sembatan bersejarah, Minggu (14/7). (Antaranewsa/Alkiyat J Dariseh)

Parigi (ANTARA) - Kelompok Pemuda pemerhati situs bersejarah (papersit)  menggelar aksi bersih-bersih jembatan peninggalan masa penjajahan Belanda di Desa Palasa, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Minggu. 

Aksi bersih-bersih bertajuk aksi sejarah itu melibatkan organisasi sekolah SMA Negeri 1 Palasa beserta masyarakat setempat sejak pukul 09.00 Wita hingga pukul 11.00 Wita guna menjaga estetika bangunan bersejarah tersebut. 

"Aksi ini dilaksanakan atas dasar kurangnya perhatian pemerintah desa maupun kecamatan dalam mendorong situs tersebut menjadi selling point pada konsep pariwisata Parigi Moutong," kata pembina Papersit jembatan Belanda Palasa Alkiyat J Dariseh. 

Kurangnya perhatian pemerintah setempat, membuat kelompok tersebut berinisiatif melaksanakan aksi lingkungan, padahal Dinas Pariwisata Parigi Moutong telah menggelontorkan anggaran sekitar Rp9.000.000 sebagai stimulan dengan harapan agar situs bersejarah itu dapat dikelolah dengan baik oleh pemerintah setempat sebagai objek wisata. 

"Sejak dana rangsangan itu diberikan pada akhir tahun 2018, sampai saat ini situs tersebut belum menunjukkan perkembangan yang menggeliat dari sisi pengelolaannya," ujar Alkiyat. 
 
Jembatan peninggalan Belanda di masa penjajahan di Desa Palasa, Kecamatan Palasa, Parigi Moutong masih berdiri kokoh. (Antaranewsa/Alkiyat J Dariseh)

Situs bersejarah yang dibangun pada tahun 1936 itu kini kondisinya memprihatinkan. Semak belukar tumbuh subur disekitarnya, kondisi jembatan yang tidak terawat sering kali dijadikan sebagai kegiatan negatif.

Dia berharap, dari aksi sejarah dapat memancing aksi-akai selanjutnya sebagai upaya menata kembali keasrian bangunan bersejarah sebagai objek wisata serta meminimalisir kegiatan-kegiatan yang menyimpan lainnya terjadi di lokasi tersebut. 

"Kita sangat menrugi jika peninggalan bersejarah ini tidak dimanfaatkan dengan baik sebagai upaya mendorong sektor pariwisata daerah," katanya menuturkan. 
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar