Rumah kebaya jadi spot favorit berfoto di Lebaran Betawi

id Lebaran betawi, rumah kebaya, monas

Pengunjung berfoto di replika rumah kebaya, rumah adat Betawi yang ada di gelaran Lebaran Betawi, Jumat (19/7/2019). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Kalau zaman saya dulu, lantainya masih tanah. Belum pakai semen. Kayunya pakai kayu kelapa, bukan kayu jati
Jakarta (ANTARA) - Replika rumah kebaya, rumah adat Betawi menjadi "spot" favorit berfoto para pengunjung pergelaran Lebaran Betawi ke-12 di lapangan silang Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Jumat.

Semua stan dari lima wilayah kota dan satu kabupaten di DKI Jakarta menampilkan replika rumah kebaya, lengkap dengan aksesoris dan pernak-perniknya.

Para pengunjung juga sudah berbondong-bondong mendatangi Monas sejak sore hari, meski gelaran Lebaran Betawi ke-12 belum dibuka secara resmi.

Mereka datang secara berombongan bersama keluarga, ada juga yang berpasangan, langsung memanfaatkan sudut-sudut di stan untuk berfoto maupun berswafoto.

Seperti stan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu yang menampilkan replika rumah kebaya, miniatur perahu, dan "backdrop" berlukiskan hamparan pantai.

Sedikit berbeda, replika rumah kebaya yang ditampilkan Pemerintah Kota Jakarta Selatan yang bernuansa lebih modern dengan model pilar-pilar besar.

Sangkar berisi burung gelatik juga dihadirkan sebagai penghias rumah adat dari Pemkot Jaksel itu, selain nuansa gemerlap dari lampu berwarna-warni.

Puput (35), warga Karet Bivak mengaku tertarik dengan replika rumah-rumah kebaya yang ada di gelaran Lebaran Betawi karena lumayan "instagrammable".

"Bagus, 'instagrammable'. Bagus juga buat foto-foto, buat bikin 'instastory'," kata perantau asal Solo itu.

Baca juga : Dewi Gita nyanyikan lagu debutnya bertajuk "The Harmony of Betawi"

Lain lagi M Ali (52), warga Kuningan, Jakarta yang paham betul bagaimana bentuk rumah kebaya khas Betawi karena banyak ditemuinya ketika kecil.

Dulu, kata pria asli Betawi itu, bentuk rumah-rumah masih banyak yang model khas rumah kebaya yang dibuat dari kayu kelapa.

"Kalau zaman saya dulu, lantainya masih tanah. Belum pakai semen. Kayunya pakai kayu kelapa, bukan kayu jati," katanya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarakan Lebaran Betawi bekerja sama dengan Badan Musyawarah Betawi (Bamus Betawi).

Lebaran Betawi merupakan acara tahunan sebagai ajang silaturahmi antarwarga Jakarta yang kental dengan nuansa Betawi setelah Lebaran Idul Fitri.

Gelaran Lebaran Betawi 2019 kali ini mengusung tema "Dengan Budaye Kite Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Indonesia" dan akan berlangsung selama tiga hari, mulai 19-21 Juli 2019.


Hari pertama akan diisi dengan pembacaan doa hingga Shohibul Hikayat yang dijadwalkan mulai pukul 19.00 WIB. Lalu, pada hari kedua, akan dimulai dari pukul 08.00 WIB pagi yang dimeriahkan oleh sejumlah pertunjukan khas Betawi, seperti Tanjidor, Gambus, Marawis, Palang Pintu, Tarian Betawi, atraksi Silat Betawi, Gambang Kromong, hingga Lenong.

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Saefullah, dijadwalkan hadir pada gelaran hari kedua ini.

Baca juga : Menparekraf: Kebudayaan Betawi Aset Wisata Jakarta

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan akan hadir pada hari ketiga penyelenggaraan untuk mengikuti Prosesi Hantaran yang merupakan tradisi mengantarkan makanan dan minuman kepada yang dituakan.

Prosesi Hantaran dilakukan oleh para wali kota dan bupati kepada gubernur. Selain itu, Gubernur Anies juga akan memberikan penghargaan kepada dua ulama Betawi, dua seniman Betawi, dan dua guru Silat Betawi.

Gelaran hari ketiga ini turut dimeriahkan dengan acara puncak, yaitu Sorendo-rendo Karnaval Budaya Nusantara oleh perwakilan dari lima wilayah Kota Administrasi dan satu kabupaten/kota administrasi.

Sorendo-rendo merupakan parade defile dengan peserta berjumlah sekitar 2.000 orang yang memakai baju adat khas Nusantara dengan berjalan kaki mulai dari Balai Kota Jakarta, berputar di Bundaran Air Mancur Arjuna Wiwaha, kemudian masuk ke Pintu Barat Daya Monas (Pintu Patung Thamrin).

Pada hari terakhir, Lebaran Betawi masih akan dimeriahkan dengan Tarian Garapan, Silat Kolosal, Samrah Betawi, Qasidah, dan Band Betawi.
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar