Memberdayakan sampah tekstil menjadi produk butik ternama

id sampah tekstil,sejauh mata memandang,sahabat sejauh,chitra subyakto,grand indonesia,gi,mall jakarta,data sampah tekstil

Memberdayakan sampah tekstil menjadi produk butik ternama

Pengunjung mendatangi butik Sejauh Mata Memandang yang menjual produk fesyen hasil daur ulang sampah tekstil, Jakarta, Minggu (19/11/2023). ANTARA/Cahya Sari

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah anak muda hingga orang tua silih berganti mendatangi butik mungil berwarna hijau di salah satu pusat perbelanjaan ternama di DKI Jakarta, Grand Indonesia. Sejauh mata memandang, terlihat berbagai jenis produk fesyen mulai dari pakaian, aksesoris, jilbab, hingga kebaya.

Fesyen apik dan cantik yang terpajang di butik ini ternyata adalah hasil daur ulang sampah tekstil, busana atau sisa-sisa kain yang sudah tak terpakai lagi, bahkan dibuang. 

 

Butik adalah toko pakaian eksklusif yang menjual pakaian modern, terutama untuk wanita, yang sesuai dengan mode mutakhir dengan segala kelengkapannya.

Desainer Chitra Subyakto akhirnya tergerak untuk menjadikan bisnis fesyen yang telah dirintisnya sejak 2014,  turut membuat produk dari daur ulang. Hal itu bermula dari ajakan para komunitas pecinta lingkungan untuk melihat langsung kondisi alam yang memprihatinkan, karena banyak sampah tekstil menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, hingga laut.

Chitra menyadari bahwa produk fesyen menjadi lima terbesar sebagai penyumbang polusi dunia, mulai dari proses pembuatan sampai akhirnya tidak terpakai lagi.

Oleh karena itu, ia kemudian mencoba bekerja sama dengan sejumlah perusahaan yang mendaur ulang sampah tekstil untuk belajar bagaimana mengolah pakaian bekas menjadi benang. Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bisa membuat benang-benang menjadi kain juga turut dilibatkan.

Akhirnya benang-benang ditenun menjadi kain, dan dia mulai merancang guna menjadikannya produk pakaian, tas, jilbab, kebaya, aksesoris, fiber penyekat, hingga insulator atau peredam suara.

Produk fesyen hasil daur ulang tersebut dijual mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Kini para penggunanya tidak hanya dari kalangan masyarakat umum dan artis dalam negeri, tapi juga telah menyasar pelanggan luar negeri,  seperti Malaysia dan Singapura.

Sepanjang September 2021 hingga Mei 2023, Chitra telah mengumpulkan sebanyak 5.719 kilogram pakaian bekas yang di daur ulang. Masyarakat juga dapat mengirimkan pakaian dengan kondisi apapun, seperti robek, bolong, ataupun kain perca, yang penting bukan termasuk bahan poliester.

Dengan menyumbangkan pakaian bekas warga sudah ikut kontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ada tiga langkah yang bisa diterapkan dalam menjaga kelestarian lingkungan, dan menyelamatkan para generasi yang akan datang.

Langkah pertama bisa dilakukan dengan membeli pakaian yang bisa digunakan untuk jangka waktu panjang dan tidak kehilangan tren, hindari bahan poliester karena tidak bisa terurai, serta memilih produk lokal yang memperhatikan cara berproses yakni slow fashion.

Kedua, tidak malu menggunakan pakaian secara berulang-ulang, dimana hal itu sudah mulai dikampanyekan lewat sejumlah publik figur. Terakhir adalah tidak langsung membuang pakaian yang sudah rusak, tetapi diperbaiki, atau membuat arisan tukar-tukar baju kepada sesama teman maupun keluarga.


Upaya pemerintah

Terkait dengan penanganan sampah, Pemerintah Indonesia juga terus berupaya menekan jumlah timbunan sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga bahan berbahaya dan beracun.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan 35,93 juta ton timbulan sampah sepanjang 2022. Jumlah tersebut naik 22,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 29,44 juta ton.

Dari jumlah timbulan sampah tersebut, terdapat 13,47 juta ton sampah yang belum terkelola sepanjang tahun lalu, atau 37,51 persen dari total sampah yang ada.

Menurut jenisnya, mayoritas timbulan sampah nasional pada 2022 berupa sampah sisa makanan dengan proporsi 40,5 persen, kemudian sampah plastik 17,9 persen, sampah kayu atau ranting 13,2 persen, 11,3 persen diantaranya merupakan sampah kertas, logam 3,06 persen.

Sementara itu, khusus untuk sampah tekstil sebesar 2,6 persen. Selain juga terdapat sampah kaca 2,2 persen, sampah karet 2,1 persen, dan 7,1 persen sampah jenis lainnya.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah menyusun regulasi tahap kedua Peraturan Menteri LHK Nomor 75 tahun 2019 yang mengatur tanggung jawab produsen atas produknya, mulai dari perencanaan pengurangan sampah, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan.

Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Vinda Damayanti Ansjar, menjelaskan bahwa dalam regulasi tersebut, nantinya diatur secara khusus mengenai tanggung jawab produsen mengurangi sampah tekstil.

Produsen di bidang tekstil mulai dari yang besar hingga pelaku UMKM diminta untuk membuat peta jalan penanganan pengurangan sampah, seperti yang dilakukan produsen sektor makanan dan minuman, produk berbahan plastik maupun logam.

Terdapat 120 produsen yang hingga saat ini sudah menyampaikan konsep atau peta jalan untuk mengurangi sampah dari proses produksi.

Untuk meningkatkan partisipasi pelaku usaha, KLHK juga berencana memberikan penghargaan berupa insentif tambahan modal usaha guna mendorong pelaku usaha menerapkan pengurangan sampah dan melaporkannya melalui peta jalan, mengingat saat ini apresiasi yang diberikan hanya dalam bentuk surat penghargaan.

Pengamat Lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Suprihatin menilai bahwa sampah tekstil menjadi permasalahan yang harus segera diselesaikan, karena semakin banyak masyarakat membuang pakaian tidak layak begitu saja.

Indonesia perlu berkaca dari data sistem informasi KLHK pada 2021, di mana ada sekitar 2,3 juta ton limbah sampah tekstil dihasilkan, sementara yang didaur ulang hanya 0,3 juta ton. 

Sudah saatnya pemerintah lebih masif bergerak dan meningkatkan sosialisasi terkait penanganan sampah tekstil seperti halnya sampah plastik, organik, maupun logam.

Pengelolaan harus lebih baik lagi, dengan menelaah teknologi yang bisa dipakai untuk mendaur ulang tekstil mengingat jenisnya juga bermacam-macam, termasuk juga menyediakan sarana pembuangan khusus.

Daur ulang mungkin memang bukan solusi terbaik, tetapi harus dilakukan untuk menghindari penambahan sampah di TPA, terlebih di sungai dan laut, yang pada akhirnya mengancam kesehatan manusia karena banyak makhluk hidup di laut, khususnya ikan, yang tercemar sampah

Berbagai langkah yang dilakukan itu sebenarnya bukan tentang bagaimana menyelamatkan bumi, tetapi hakikatnya adalah tentang menyelamatkan manusia saat ini dan generasi mendatang.