Tambak Udang Intensif Bisa Menghasilkan 100 Ton/ha

id Tambak intensif Barru

Hasanuddin Atjo berpose di depan tambaknya di Barru, Sulsel, Minggu (2/9) beberapa saat sebelum panen udang vanamei yang menghasilkan 10,4 ton pada areal 1000 meter persegi. (ANTARANews/Rolex Malaha)

"Kebutuhan modal memang besar, tapi kita kan bisa bekerja sama dengan bank. Kalau bank yakin akan prospek usaha seperti ini, pasti bank mau membiayainya," ujarnya.
Parepare, Sulsel - Para petambak udang di Sulawesi Selatan berpotensi menghasilkan udang vanamei 100 ton perhektare yang selama ini belum menyentuh 15 ton/ha, bila menerapkan prinsip-prinsip budidaya yang intensif dan ramah lingkungan.

"Saya kira teknik budidaya intensif seperti ini sudah saatnya diterapkan walaupun diakui memang membutuhkan modal yang cukup besar (capital intensif)," kata Hasanuddin Atjo, seorang petambak udang modern usai memanen udang vanamei miliknya di Barru, sekitar 130 kilometer utara Makassar, Minggu.

Hasanuddin Atjo yang juga Ketua Shrimp Club (petambak udang intensif ) kawasan Timur Indonesia itu mengelola sebuah tambak moderen (super intensif) di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan seluas 1000 meter persegi.

Areal tambak ini juga dijadikan sebagai obyek penelitian atas hasil inovasi teknologi yang meintegrasikan ilmu-ilmu dasar seperti aerodinamika dan mekanika fluida serta teori budidaya udang yang intensif.

Tambak berukuran 30x35 meter persegi itu disebut sangat intensif antara lain karena konstruksi pematangnya terbuat dari beton, menggunakan sentral drain (alat penyedot limbah otomatis), alat pemberi makan otomatis (automatic feeder), kincir enam buah, dan pompa air lait dengan mesin turbo jet.

"Biaya investasinya mencapai sekitar Rp300 juta dan biaya operasional selama 100 hari sekitar Rp200 juta

Pada siklus panen kedua tahun 2012 ini, kata Hasanuddin, pihaknya menebar bibit sebanyak 500.000 ekor dengan panen bertahap (tiga kali). Panen pertama pada usia 75 hari menghasilkan dua ton dengan ukuran udan 92 ekor per kilogram dan panen kedua pada usia 97 hari menghasilkan 2,1 ton dengan ukuran 65 ekor per kilogram.

"Panen ketiga (terakhir) hari ini menghasilkan 6,3 ton dengan ukuran 50 ekor per kilogram sehingga total produksi dalam sekali tebar benih mencapai 10,4 ton untuk lahan 1000 meter persegi," ujar Hasanuddin disela-sela kegiatan panen yang dihadiri sejumlah petambak udang modern anggota Shrimp Club se-KTI tersebut.

Hasanuddin Atjo yang juga menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah tersebut mengemukakan, kalau seorang petambak bisa mengelola satu hektare saja tambak udang dengan cara intensif seperti ini berarti hasilnya akan mencapai 100 ton per hektare.

Ia mengaku menjual hasil produksinya dengan harga rata-rata Rp42.000,-/kg yang berarti
 omzet tambak moderen ini mencapai Rp420 juta rupiah.

"Dengan hasil seperti itu berarti dalam tempo satu kali panen saja, semua ongkos investasi sudah bisa kembali, dan pada panen kedua nanti, kita sudah bisa mendapat keuntungan bersih yang cukup lumayan," ujarnya.

Hasanuddin juga mengatakan bahwa dalam setahun ia bisa panen tiga kali dan produktivitas tambak masih bisa ditingkatkan lagi dengan menambah ketinggian air dari rata-rata 2,20 meter menjadi 2,40 meter dan menambah dua buah kincir lagi sehingga benih yang ditabur bisa dinaikkan dari 500.000 menjadi 750.000 ekor.

Johan, seorang petambak modern Sulsel memuji inovasi teknologi pertambakan udang vanamei yang dilakukan Hasanuddin Atjo tersebut dan mengatakan bahwa hal ini harus segera diadosi oleh para petambak lainnya bila Sulsel ingin menjadi daerh penghasil udang terbesar dan terbaik.

"Kebutuhan modal memang besar, tapi kita kan bisa bekerja sama dengan bank. Kalau bank yakin akan prospek usaha seperti ini, pasti bank mau membiayainya," ujarnya.

Johan juga mengatakan bahwa dengan sistim budidaya intensif seperti ini, para petambak tidak perlu ngotot mengolah lahan terlalu luas, cukup dengan kawasan kecil namun hasilnya bisa berlpat ganda.  (R007)
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar