1.814 hektare sawah rusak akibat banjir Balinggi Parigi Moutong

id Sawah, dampak banjir, banjir Balinggi, banjir bandang, pemkabparimo, Sulteng, hidrometeorologi, petani, pertanian

1.814 hektare sawah rusak akibat banjir Balinggi Parigi Moutong

Areal persawahan dipenuhi material lumpur dan potongan kayu akibat dampak banjir menerjang Kecamatan Balinggi dan Torue Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Selasa (30/5/2023). ANTARA/HO-BPBD Parigi Moutong

Parigi, Sulteng (ANTARA) -
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah mengatakan sekitar 1.814 hektare lahan persawahan mengalami kerusakan dampak banjir yang melanda Kecamatan Balinggi pada Senin (31/5).


"Dari peninjauan dilakukan, banyak lahan persawahan tergenang dan tertutup material lumpur yang terbawa banjir," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Penyuluhan Kecamatan Balinggi Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Parigi Moutong Supriadin di Parigi, Rabu.


Ia menjelaskan, ribuan sawah yang terdampak ini tentu sangat mengganggu proses tanam maupun produksi, sehingga langkah yang perlu dilakukan secepatnya yakni melakukan pengerukan material menggunakan alat berat.


Kalau hal ini tidak segera tertangani, dikhawatirkan berdampak negatif terhadap produktivitas petani dalam mengejar target produksi beras daerah, karena Kecamatan Balinggi merupakan salah satu wilayah sentra beras di Kabupaten Parigi Moutong.


"Ada sekitar 43 hektare lahan persawahan tertimbun material pasir dan potongan kayu terbawa arus. Pemerintah setempat sedang mengupayakan normalisasi lahan pertanian terdampak," ujarnya.


Dari kegiatan kaji cepat dilakukan pihaknya, areal persawahan terdampak paling parah berada di Desa Balinggi Jati dan Desa Lebagu, diperkirakan sekitar sekitar 300 hektare sawah tidak bisa ditanami benih padi lantaran tergenang dan tertimbun material lumpur, lalu di desa lainnya tingkat kerusakan tergolong kecil rata-rata satu hingga dua hektare.


Pada wilayah-wilayah terdampak ringan, dipastikan tidak mengalami gagal tanam, karena usia padi masih terlalu mudah atau sekitar 19 sampai 20 hari, sehingga masih bisa dilakukan penanaman kembali.


"Selain itu, pemulihan irigasi pascabanjir juga penting dilakukan dalam mendukung percepatan produksi padi. Petani meminta pemerintah daerah segera mendatangkan alat berat membersihkan material berserakan di lahan persawahan, dan permintaan itu sedang diupayakan," kata Supriadin.