Menlu RI sampaikan belasungkawa atas wafatnya Shinzo Abe

id jepang,menlu retno marsudi,shinzo abe meninggal

Menlu RI sampaikan belasungkawa atas wafatnya Shinzo Abe

Foto file Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berdiri di depan bendera nasionalnya di Tokyo, Jepang (25/9/2017). Mantan PM Jepang Shinzo Abe dinyatakan meninggal dunia pada umur 67 setelah ditembak saat berkampanye untuk pemilihan parlemen. ANTARA FOTO/REUTERS/Toru Hanai/foc.

Nusa Dua, Bali (ANTARA) - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan simpati dan belasungkawa mendalam atas meninggalnya mantan perdana menteri Jepang Shinzo Abe.

“Dedikasinya untuk melayani negara dan rakyatnya akan selalu dikenang sebagai contoh terbaik untuk semua,” kata Retno ketika menyampaikan pernyataan pers usai Pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat.

Shinzo Abe meninggal dunia pada usia 67 tahun setelah ditembak seorang pria ketika berkampanye di Prefektur Nara, Jumat.

Pelaku yang bernama Yamagami Tetsuya (41) menembaki Abe dari belakang dengan senjata buatan sendiri. Tetsuya diketahui merupakan mantan Marinir Angkatan Laut dan Pasukan Bela Diri Jepang hingga 2005.

Insiden penembakan terhadap Abe merupakan pembunuhan pertama terhadap seorang pejabat atau mantan perdana menteri Jepang sejak zaman militerisme sebelum perang di tahun 1930-an.

Sementara itu masyarakat Jepang dikagetkan dan dilanda kesedihan pada Jumat, di tengah upaya untuk menerima pembunuhan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe di negara di mana kebijakan senjata api diberlakukan dengan ketat dan kekerasan terkait politik begitu jarang terjadi.

Abe ditembak saat tengah memberikan pidato kampanye di sebuah sudut jalan dan dilarikan ke rumah sakit menggunakan helikopter. Kematiannya diumumkan pada Jumat petang.

Mulai dari Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, yang merupakan anak didik Abe, hingga masyarakat di media sosial, suasana duka membanjiri negara tersebut, yang terakhir menyaksikan seorang perdana menteri dibunuh hampir 90 tahun yang lalu, merefleksikan betapa jarangnya kekerasan politik terjadi.

"Saya sangat terkejut," kata Gubernur Tokyo Yurike Koike dalam sebuah konferensi pers rutin sebelum kematian Abe diumumkan. Koike tampak menahan air matanya dalam kesempatan tersebut. "Apapun alasannya, tindakan yang begitu keji tidak dapat dimaafkan. Ini adalah hinaan terhadap demokrasi."

Koki Tanaka (26 tahun), seorang pekerja teknik informasi di Tokyo, menyuarakan pendapat serupa: "Saya tercengang bahwa hal seperti ini dapat terjadi di Jepang."

Pelarangan kepemilikan senjata api Jepang tidak mengizinkan penduduk sipil untuk memiliki pistol, dan para pemburu yang memiliki izin hanya dibolehkan untuk memiliki pistol rifle.

Para pemilik senjata api harus mengikuti sejumlah kelas, lulus ujian tertulis dan menjalani evaluasi psikologi dan pengecekan latar belakang.

Jika ada penembakan terjadi, biasanya itu melibatkan anggota geng "yakuza" yang menggunakan senjata ilegal. Ketika pembunuhan massal terjadi, seperti saat 19 orang tewas dibunuh di sebuah fasilitas untuk orang dengan gangguan jiwa pada 2016, hal itu biasanya dilakukan dengan pisau.

Serangan terhadap politikus juga bukan sesuatu yang biasa terjadi. Hanya segelintir kejadian yang tercatat dalam setengah abad terakhir. Kejadian yang paling mencuat adalah pada tahun 2007 di mana Walikota Nagasaki ditembak mati oleh seorang anggota geng, yang kemudian memicu semakin diketatkannya kebijakan senjata api.

Pembunuhan seorang mantan perdana menteri terakhir terjadi pada tahun 1936.

Menteri Pertahanan Nobuo Kishi, adik dari Abe, menolak untuk berkomentar atas laporan-laporan tersebut.

Reaksi terhadap penembakan itu membanjir media sosial. Pada Jumat petang topik terpopuler di Twitter Jepang adalah "Abe-san".

"Saya terus gemetar. Ini adalah akhir dari Jepang yang damai," kata seorang pengguna Twitter Nonochi.

"Ada banyak politikus yang saya ingin lihat pergi, namun pembunuhan tidak dapat dimengerti. Ini adalah awal dari berakhirnya demokrasi."

Sumber: Reuters

Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2022