TdCC, investasi untuk Sulawesi Tengah yang maju dan mandiri

id TdCC, investasi

Sejumlah pebalap melintasi 'tikungan gergaji' kawasan Kebun Kopi pada balap sepeda Tour de Central Celebes (TdCC) etape ketiga di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Rabu (8/11). (Antarasulteng.com/Basri Marzuki)

TdCC 2018 dimulai di Luwuk dan berakhir di Donggala
Palu (Antarasulteng.com) - Perhelatan balap sepeda wisata skala internasional bertajuk Tour de Central Celebes (TdCC), usai setelah pihak penyelenggara mengumumkan para pebalap berprestasi dan menyerahkan hadiah-hadiah yang nilai totalnya hampir Rp600 juta, di Kota Palu, Rabu (8/11) petang.

Belum ada ada informasi berapa dana pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang dikucurkan untuk membiayai lomba yang diikuti 69 pebalap dari 18 negara pada 6-8 November 2017 tersebut.

Namun Dr Hasan, Race Director TdCC sekaligus Ketua Harian Pengda Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Sulawesi Tengah memberi perbandingan dengan Tour de Ijen 2017 dimana pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, selaku pemilik acara konon menggelontorkan APBD-nya hingga sekitar Rp5 miliar.

Belanja TdCC bisa lebih besar atau sebaliknya dibanding Tour de Ijen, namun berapa pun biaya yang dibelanjakan bukanlah masalah karena itu adalah investasi yang berdampak jangka panjang, mulai tiga sampai lima tahun ke depan dan seterusnya.

Kalau pun ditanya apa manfaat TdCC saat ini, sangatlah jelas terlihat dan terasa oleh berbagai pihak, sekalipun perlombaan yang diinisiasi Ny. Zalzulmida Aladin Djanggola ini memiliki tujuan jangka panjang untuk kemajuan pariwisata dan investasi di daerah berpenduduk hampir tiga juta jiwa ini.

Salah satunya adalah jalan raya yang mulus, karena Kementerian PUPR rela mengucurkan dana miliaran rupiah untuk memperbaiki seluruh lapisan aspal jalan negara yang menjadi lintasan balap karena tidak mungkin membalap sepeda di atas jalan berlubang-lubang.

"Saudara-saudara saat ini bisa merasakan jalan mulus tanpa lubang sepanjang 500-an kilometer dari Kota Palu, Sigi, Parigi, Poso, Tentena dan Ampana. Hal seperti ini belum pernah terjadi," ujar Gubernur Longki Djanggola di berbagai kesempatan terkait perlombaan ini.

Jalanan mulus ini tentu semakin mempercepat dan memperlancar aksesibilitas sehingga ekonomi bergerak lebih cepat, apalagi daerah-daerah yang dilintasi jalan aspal tanpa lubang itu adalah sentra-sentra pariwisata di provinsi ini.

Konon, masyarakat Banyuwangi menerima manfaat ekonomi akibat dampak Tour de Ijen 2017 hingga mencapai sekitar Rp120 miliar yang bersumber dari pengucuran dana dari pemerintah pusat untuk pembangunan sarana dan infrastruktur jalan, pariwisata, telekomunikasi, serta penerimaan hotel, restoran, industri kerajinan, UKM dan jasa-jasa lainnya.

Akan tetapi Deputy Pengembangan Sarana Wisata Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti mengingatkan siapun untuk tidak bertanya apa dampak TdCC hari ini, khususnya terkait sektor kepariwisataan, karena manfaat itu baru akan terasa tiga bahkan sampai lima tahun ke depan.

"Karena itu, lomba balap sepeda ini harus berkelanjutan dan penyelenggaraannya lebih profesional. Jangan bergantung pada anggaran pemerintah daerah, tetapi libatkan lebih banyak sektor sponsor baik swasta maupun BUMN," ujarnya.

Orang-orang, kata Esthy, tidak akan melakukan perjalanan atau kunjungan bila tak ada iven, karena itu, TdCC harus berkelanjutan dan penyelenggaraannya semakin menarik, pasti wisatawan akan datang ke daerah yang menyasar kunjungan tiga juta orang tahun 2017 ini.



Tujuh kabupaten/kota

Meski masih ada cela dan kesalahan, namun tidak sedikit pula pujian dan apresiasi dari berbagai pihak atas suksesnya TdCC, 6-8 November 2017 yang mengambil rute sepanjang 486,9 kilometer antara Kota Ampana, Kabupaten Tojo Unauna ke Palu, melintasi Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi ini.

"Saya harus mengucapkan selamat kepada penyelenggara yang telah melaksanakan TdCC dengan begitu baik dalam semua aspek," kata Marthyn Bruinn, Senior Commisionaire dari Union Cyclist Internasionale (UCI).

Yuri (commisaire) senior balap sepeda UCI asal Belanda ini mengaku tidak ada bagian dalam penyelenggaraan TdCC kali ini yang bisa dia sarankan harus lebih baik.

"Saya melihat semuanya baik. Makanannya baik, alam lingkungannya indah, jalan rayanya baik sekali, tidak ada complain. Penontonnya luar biasa banyak, semua berjalan dengan lancar dan aman," katanya.

Para pebalap dan offisial mereka pun menyatakan puas atas pelayanan yang mereka rasakan selama mengikuti lomba.

"Tahun depan kalau masih ada lagi TdCC, kami pasti datang lagi," kata Jamal Hibatullah, pebalap KFC Cycling Clob Jakarta yang meraih Yellow Jersey (jeket kuning) lambang supremasi pebalap terbaik TdCC dan berhak atas hadiah utama senilai Rp30 juta.

Karena itu Gubernur Sulteng Longki Djanggola telah memutuskan bahwa TdCC kedua tahun 2018 akan melibatkan lebih banyak kabupaten sebagai penyelenggara sehingga dampak iven ini semakin luas.

"Tahun ini yang terlibat langsung baru empat kabupaten dan Kota Palu, tahun depan akan menjadi enam kabupaen plus Kota Palu. Rute akan dimulai di Luwuk, Kabupaten Banggai sampai ke Donggala," ujar Longki.

Kalau TdCC kali ini terbagi atas tiga etape, tahun berikutnya akan menjadi lima etape, jadi lebih banyak masyarakat yang terlibat dan merasakan dampak kegiatan ini.

TdCC berikutnya juga diharapkan sudah masuk dalam kalender UCI Race Point sehingga iven ini akan lebih bergengsi dan diminati pebalap-pebalap profesional dunia karena mereka tidak hanya akan mengumpulkan hadiah uang saat mengikuti TdCC, tetapi juga mengoleksi poin UCI untuk pemeringkatan pebalap profesional dunia.

"Itu sebuah keinginan yang sangat bagus dan sangat mungkin. Anda hanya perlu pergi ke Indonesia Cyclist Federation (ICF) dan ICF harus memasukkan TdCC ini ke dalam kalender UCI," ujar Marthyn Bruinn. 

Image result for tour de central celebes
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar